Browsing Month: July 2018

Surat Kenikmatan
  • 19, Jul 2018

Surat Kenikmatan

By gauri    No comments  

Surat an-Nahl, surat an ni'am, kenikmatan dalam alquran, nikmat Allah
Ilustrasi air terjur, source: Unsplash.com
Donasi Dakwah Islam Yufid

Surat Kenikmatan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Di dalam al-Quran, terdapat satu surat yang dijuluki para ulama dengan surat an-Ni’am (surat kenikmatan).

Surat an-Ni’am [سورة النعم] atau surat yang banyak menyebutkan kenikmatan adalah surat an-Nahl.

Surat an-Nahl termasuk surat Makiyah menurut Jumhur ahli tafsir, selain 3 ayat yang diturunkan di Madinah, sepulangnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perang Uhud. Berisi 128 ayat, dan berada di urutan ke-16 dalam mushaf al-Quran. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 14/93)

Disebut surat kenikmatan, karena surat ini banyak menyebutkan berbagai macam nikmat Allah untuk para hamba-Nya, yang itu merupakan bukti kebesaran dan keagungan Allah.

Berikut beberapa keterangan para ulama yang menyebut surat ini dengan surat an-Ni’am (surat kenikmatan),

[1] Keterangan Qatadah – ulama tafsir zaman tabi’in –

قال قتادة: وَكَانَت هَذِهِ السُّورَة تُسَمَّى سُورَةَ النِّعَمِ

Imam Qatadah mengatakan, ‘Surat ini (an-Nahl) dinamakan dengan surat an-Ni’am.’ (Tafsir Yahya bin Sallam, 1/80)

[2] Keterangan Ali bin Zaid bin Jada’an – salah satu ulama tabi’in –

عن عليّ بن زيد قال: كَانَ يُقَال لِسُورَة النَّحْل: سُورَةُ النِّعَم، يريد لكثرة تعداد النّعم فيها

Dari Ali bin Zaid, beliau mengatakan, ‘Surat an-Nahl disebut juga surat an-Ni’am. Karena di sana banyak disebutkan kenikmatan-kenikmatan.’ (Zadul Masir, 2/548)

[3] Keterangan Muhammad bin Saib al-Kalbi (w. 146 H)

قال الكلبي: هذه السورة تسمى سورة النعم , لما ذكر الله فيها من كثرة نعمه على خلقه

al-Kalbi mengatakan, ‘Surat ini dinamakan surat kenikmatan, karena Allah menyebutkan banyak sekali nikmat-Nya untuk hamba-Nya di dalam surat ini.’ (an-Nukat wal Uyun, Tafsir al-Mawardi, 3/207)..

Nikmat-nikmat di Surat an-Nahl:

Ada banyak ayat di surat an-Nahl yang menyebutkan kata nikmat (نعمة),

Saya mencoba menghitungnya, kurang lebih ada 9 ayat, yaitu: ayat 18, 53, 71, 72, 81, 83, 112, 114, dan 121.

Di surat ini, Allah juga menyebutkan kisah Ibrahim dengan mencantumkan sifatnya yang menonjol, yaitu pandai mensyukuri nikmat Allah. Allah berfirman,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (120) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. an-Nahl: 120 – 121)

Ibrahim memiliki banyak sifat yang mulia. Namun di sini, Allah menyebutkan sifat pandai mensyukuri nikmat.. agar menjadi teladan bagi manusia dalam mensyukuri nikmat Allah.

Kemudian, setelah Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang demikian banyak, Allah mengakhirinya dengan mengatakan,

كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

“Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (QS. an-Nahl: 81)

Tujuan Disebutkannya Nikmat

Tujuan terpenting dari nikmat itu adalah mengajari manusia untuk memberi respon terbaik, sesuai jenis nikmat yang Allah sediakan. Berikut diantara kaitan nikmat dan perintah setelahnya,

[1] Setelah Allah menyebutkan nikmat gunung dan laut yang ditaklukkan, Allah mengatakan,

لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Agar kalian bersyukur.” (ayat 14)

[2] Setelah Allah menyebutkan nikmat pegunungan, sungai-sungai, jalanan darat, Allah menegaskan,

لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Agar kalian mendapatkan petunjuk.” (ayat 15)

[3] Setelah Allah menyebutkan nikmat maknawi terbesar – yaitu diturunkannya al-Quran, Allah menyatakan,

وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Agar mereka berfikir.” (ayat 44).

[4] Seusai Allah menyebutkan nikmat panca indera (pendengaran, penglihatan, dan perasaan), Allah menyebutkan setelahnya,

لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Agar kalian bersyukur.” (ayat 78)

[5] Setelah Allah mengisyaratkan mengenai kesempurnaan nikmat ilahiyah, Allah menyatakan,

لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

“agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (ayat 81)

[6] Setelah Allah menyebutkan keadilan, kebaikan (ihsan), larangan dari perbuatan kekejian, kemungkaran dan kedzaliman, Allah menegaskan setelahnya,

لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Agar kalian mengambil peringatan.” (ayat 90)

Allahu akbar…

Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya…

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Mendoakan Keburukan untuk Pengendara Motor King
  • 18, Jul 2018

Mendoakan Keburukan untuk Pengendara Motor King

By gauri    No comments  

motor rx king ngebut
Ilustrasi motor RX King, sumberL oto com
Donasi Dakwah Islam Yufid

Mendoakan Keburukan untuk Pengendara Motor King

Ada pengendara motor king ngebut kenceng sekali.. jika kita terdampak bising krna pengendara bleyer2 gas dan merasa terganggu, bolehkah kita mendoakan keburukan untuknya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kendaraan atau tunggangan termasuk nikmat yang Allah sediakan untuk umat manusia.

Surat an-Nahl dikenal para ulama dengan surat an-Ni’am. Surat yang bercerita tentang aneka kenikmatan yang Allah sediakan untuk manusia. Diantara kenikmatan yang Allah sebutkan di surat ini, adalah kenikmatan alat transportasi (kendaraan), berupa hewan tunggangan.

Allah berfirman,

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ . وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ . وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nahl: 5-7)

Allah juga menyebutkan secara tegas tentang nikmat kendaraan,

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً

(Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. (QS. an-Nahl: 8)

Untuk itulah, pada asalnya, menggunakan kendaraan apapun hukumnya mubah. Karena ini bagian dari nikmat yang disediakan Allah untuk para hamba-Nya.

Hanya saja, kita perlu memperhatikan bahwa jangan sampai fasilitas kendaraan atau pakaian yang Allah berikan, menyebabkan kita menjadi sombong atau mengganggu orang lain.

Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memakai pakaian yang menyebabkan kesombongan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ

“Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah, tanpa ada sikap berlebih-lebihan dan kesombongan”. (HR. Nasai 2351)

Bahkan beliau juga menceritakan, bahwa Allah menghukum seseorang yang sombong ketika berpakaian, dengan cara ditenggelamkan di bumi,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ، تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ، مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Ada seorang lelaki berjalan dengan menggunakan jubahnya, dan berjalan dengan rasa sombong dengan dirinya, rambutnya yang disisir, lalu dia ditelan (oleh bumi), dan dia akan selalu kejang-kejang (di dalam perut bumi) hingga datang hari kiamat.” (HR. Bukhari 5789).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi mereka yang berusaha memilih pakaian sederhana untuk tawadhu’. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من تركَ اللباسَ تواضُعًا للهِ وهو يقدِرُ عليه ، دعاه اللهُ يومَ القيامةِ على رؤوسِ الخلائقِ حتى يُخَيِّرَهُ منَ أيِّ حُلَلِ الإيمانِ شاءَ يَلْبَسُهَا

“Barangsiapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada hari kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluq, lalu dia dipersilahkan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” (HR. Turmudzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’” 6145).

Mengendara Motor King

Hampir semua yang saya jumpai – barangkali juga anda menjumpai yang sama, hampir semua pengendara motor king, selalu ngebut. Sampaipun di jalanan yang padat dan sempit. Memang motor ini kelihatan lebih gagah, jika suaranya semakin kencang. Dugaan saya sementara, pengendara ingin menunjukkan, ‘Ini motor gue… king…

Urusan hati, urusan pribadi… namun jika mereka lakukan itu dengan niat untuk menampakkan kehebatannya, kita nyatakan, ini orang sombong. Urusan anda selanjutnya dengan Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk menyikapi apapun terhadap apa yang anda lakukan.

Bolehkah Didoakan Keburukan?

Siapapun yang didzalimi, dia boleh mendoakan keburukan bagi orang yang mendzalimi.

Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang didzalimi. (QS. al-Maidah: 148)

Para ulama tafsir, seperti Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri dan beberapa ulama lainnya menjelaskan bahwa maksud dari ayat di atas adalah mendoakan keburukan bagi orang lain, dibenci oleh Allah, kecuali bagi mereka yang didzalimi. Dia boleh mendoakan keburukan bagi orang yang mendzalimi.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, agar kita waspada dari doa orang yang didzalimi. Dalam hadis dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Hati-hatilah dengan doa orang yang dizalimi. Ingatlah tak ada hijab antara dirinya dengan Allah (doa tersebut akan diijabahi, tak tertolak, pen-).” (HR. Bukhari 1496 dan Muslim 19)

Jika pengendara motor king, mbleyer- mbleyer (ngegas kenceng-kenceng) dan anda merasa terganggu dengan perbuatan mereka, anda termasuk orang yang didzalimi. Dan siapapun yang didzalimi, berhak mendoakan keburukan bagi orang yang mendzalimi…

Meskipun peringatan ini tidak hanya berlaku bagi pengendara motor king.. siapapun yang mengganggu orang lain, baik dengan kendaraannya maupun dengan media lainnya, maka dia telah mendzalimi orang lain.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Haji Sendiri atau Dahulukan Orang Tua Berhaji?
  • 17, Jul 2018

Haji Sendiri atau Dahulukan Orang Tua Berhaji?

By gauri    No comments  

Haji Sendiri atau Dahulukan Orang Tua Berhaji
Donasi Dakwah Islam Yufid

Haji Sendiri atau Dahulukan Orang Tua Berhaji?

Jika seseorang memiliki dana terbatas, hanya cukup untuk daftar haji satu orang, mana yang lebih tepat, dia dahulukan haji untuk dirinya ataukah orang tuanya?

Jawab:

Haji Allah wajibkan bagi mereka yang mampu. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Orang yang sudah memiliki kemampuan untuk haji, maka harus segera mendaftar haji. Dan tidak boleh ditunda.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجِّلُوا الْخُرُوجَ إِلَى مَكَّةَ , فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ مِنْ مَرَضٍ أَوْ حَاجَةٍ

Segerkanlah berangkat ke kota Mekah (untuk haji), karena kalian tidak tahu, barangkali akan ada halangan sakit atau kebutuhan lainnya. (HR. Abu Nua’im dalam al-Hilyah, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan dihasankan al-Albani dalam Sahih al-Jami’, no. 3990).

Jika Dananya Terbatas, Daftar Haji untuk Diri Sendiri ataukah Mendahulukan Ortu?

Haji adalah fardhu a’in, kewajiban bagi setiap individu. Sehingga, baik anak dan bapak, semuanya mendapat kewajiban ini. Karena itu, para ulama mengatakan, dahulukan kewajiban pribadi, sebelum membantu orang lain melaksanakan kewajibannya.

Meskipun andaikan ada anak yang mendahulukan haji orang tuanya, status hajinya sah.

Ada pertanyaan yang diajukan ke Lajnah Daimah,

هل يجوز للإنسان أن يرسل والديه إلى الحج قبل أن يذهب هو إلى الحج؟

Bolehkah seorang anak memberangkatkan haji orang tuanya, padahal dia juga belum berangkat haji?

Jawaban Lajnah Daimah,

الحج فريضة على كل مسلم حر عاقل بالغ مستطيع السبيل إلى أدائه، مرة في العمر. وبر الوالدين وإعانتهما على أداء الواجب أمر مشروع بقدر الطاقة ، إلا أن عليك أن تحج عن نفسك أولاً ، ثم تعين والديك إن لم يتيسر الجمع بين حج الجميع ، ولو قدمت والديك على نفسك صح حجهما ، وبالله التوفيق

Haji adalah kewajiban begi setiap muslim merdeka, berakal, baligh, dan memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan menuju ke tanah suci. Kewajiban sekali seumur hidup. Sementara itu, berbakti kepada kedua orang tua dan membantunya untuk melaksanakan yang wajib, adalah amal yang disyariatkan sesuai kemampuan. Hanya saja, kamu wajib melaksanakan haji untuk diri anda sendiri terlebih dahulu, kemudian anda bisa membantu orang tua anda, jika dananya tidak cukup untuk memberangkatkan haji semua. Andai kamu dahulukan orang tuamu untuk haji dari pada dirimu, haji mereka sah.

Hanya milik Allah segala taufiq…

(Fatawa al-Lajnah Daimah, 11/70).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Ada Nenek Moyang Manusia Selain Adam?
  • 16, Jul 2018

Ada Nenek Moyang Manusia Selain Adam?

By gauri    No comments  

Nuh – Bapak Manusia Kedua
Donasi Dakwah Islam Yufid

Ada Nenek Moyang Manusia Selain Adam?

Benarkah kita ini bukan hanya keturunan Adam…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Al-Quran menyebutkan, bahwa ketika terjadi banjir besar di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam, semua manusia ditenggelamkan dan mati, kecuali mereka yang berada di atas kapal Nuh.

Allah berfirman,

فَأَنْجَيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ . ثُمَّ أَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِينَ

Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. ( ) Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.” (QS. as-Syu’ara: 119-120)

Allah juga berfirman di ayat yang lain,

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

“Mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu..” (QS. Yunus: 73).

Yang Tersisa Hanya Keturunan Nuh

Kemudian, setelah mereka diselamatkan oleh Allah, semua manusia yang ikut dalam perahu menjalani kehidupan di bumi. Namun tidak ada satupun diantara mereka yang keturunannya dilestarikan oleh Allah, selain keturunan Nuh. Artinya, mereka semua tidak berketurunan, selain Nuh ‘alaihis salam.

Allah berfirman,

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ . وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ . وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). ( ) Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar ( ) Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan. (QS. as-Shaffat: 75-77).

Di surat as-Saffat pada ayat 77 di atas, Allah menegaskan,

Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan

Ayat ini merupakan dalil bahwa keturunan yang tersisa hanya keturunan Nuh – alaihis salam –.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

لم تبق إلا ذرية نوح عليه السلام

Tidak ada yang tersisa selain keturunan Nuh – alaihis salam

Keterangan yang lain disampaikan Qatadah – ulama ahli tafsir di kalangan tabi’in –

الناس كلهم من ذرية نوح عليه السلام

Semua manusia adalah keturunan Nuh ‘alaihis salam.

Keterangan mereka disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir. (Tasir Ibnu Katsir, 7/22).

Ibnu Katsir di tempat yang lain juga menegaskan,

إن الله لم يجعل لأحد ممن كان معه من المؤمنين نسلا ولا عقبا سوى نوح عليه السلام

Sesungguhnya Allah tidak memberikan keturunan dan nasab bagi kaum mukminin yang ikut nabi Nuh, selain Nuh ‘alaihis salam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/114).

Berdasarkan keterangan di atas, kita menyimpulkan bahwa semua manusia yang hidup setelah zaman Nuh adalah keturunan nabi Nuh ‘alaihis salam.

Bagaimana dengan Nabi Syits?

Ada sebagian yang menyebutkan bahwa tidak ada keturunan Adam yang menghasilkan keturunan selain Nabi Syits. Ini sebagaimana keterangan at-Thabari.

وشيث بن آدم، قال الطبري في تاريخه له: فمنه كان النسل، وأنساب الناس اليوم كلهم إليه دون أبيه آدم، فهو أبو البشر

Syits bin Adam, at-Thabari mengatakan dalam Tarikhnya,

Dari Syits inilah adanya keturunan. Dan nasab semua manusia hari ini kembali kepadanya, setelah ayahnya Adam. Sehingga Syits adalah bapak manusia.

Kesimpulannya, bahwa bapak manusia ada 3 orang:

[1] Nabi Adam – alaihis salam – manusia pertama yang Allah ciptakan

[2] Nabi Syits – alaihis salam – satu-satunya keturunan Adam yang memberikan keturunan setelahnya.

[3] Nabi Nuh – alaihis salam – satu-satunya manusia yang berketurunan setelah banjir bandang.

Demikian

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Menyewakan Uang dan BMT
  • 14, Jul 2018

Menyewakan Uang dan BMT

By gauri    No comments  

bmt dan akad ijarah
Ilustrasi-money wallpaper, source: https://unsplash.com/photos/ZHhvHaAj9C4
Donasi Dakwah Islam Yufid

Menyewakan Uang dan BMT

Di sebagian BMT menerapkan akad ijarah untuk uang. Istilahnya mereka menyewakan uang. Sehingga BMT berhak mendapat upah sewa, sesuai kesepakatan. Apakah ini dibenarkan? Misal sewa 1jt selama 1 bulan, wajib mengembalikan 1 juta dan biaya sewa 100rb.

Katanya ini sdh dikonsultasikan k dewan syariahnya.. mohon penjelasan.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang. Jika si A memberi utang beras kepada si B, maka beras ini menjadi hak milik si B. dan selanjutnya, si B bisa menggunakan beras itu untuk kepentingan apapun, termasuk dihabiskan.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan kepemilikan. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna terhadap objek itu, selama waktu yang diizinkan pemilik barang.

Jika anda utang motor, maka anda berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa anda jual, anda sewakan atau digadaikan untuk utang atau bahkan dijual.

Lain halnya jika anda pinjam motor, lalu anda jual, anda atau sewakan atau digadaikan untuk utang, anda akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor anda, tapi motor kawan anda. Anda hanya memiliki hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya tetap utang. Misalnya, pinjam makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

Karena status akad itu melihat hakekat dan konsekuensinya, dan bukan melihat namanya.

Dalam hal ini terdapat kaidah yang menyatakan,

العبرة في العقود بالمقاصد والمعاني لا بالألفاظ والمباني

“Inti akad berdasarkan maksud dan makna akad, bukan berdasarkan lafadz dan kalimat” (al-Wajib fi Idhah al-Qawaid al-Kulliyah, hlm. 147).

Barang Habis Pakai Tidak Bisa Disewakan

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ menegaskan,

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

“Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakekatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti.” (Tuhfatul Fuqaha’, 3/178)

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh,

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

“Berdasarkan penjelasan ini dipahami bahwa meminjamkan dinar atau dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara dinar dirham tidak mungkin dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain menghabiskan bendanya bukan mengambil hak gunanya.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan,

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

“Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’I as-Shana’I, 8/374)

Karena itu, TIDAK ada istilah menyewakan uang. Itu hanya alasan untuk mengelabuhi akad ribawi. Yang ada, utang uang. Dan mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Antara Aisyah dan Khadijah
  • 13, Jul 2018

Antara Aisyah dan Khadijah

By gauri    No comments  

istri nabi aisyah dan khadijah
Ilustrasi
Donasi Dakwah Islam Yufid

Antara Aisyah dan Khadijah

Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah? Dan mana yang lebih istimewa, Aisyah ataukah Khadijah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Aisyah radhiyallahu ‘anha, diisyaratkan melalui mimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mimpi para nabi adalah wahyu.

Dalam sebuah hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau,

أُرِيتُكِ فِى الْمَنَامِ ثَلاَثَ لَيَالٍ جَاءَنِى بِكِ الْمَلَكُ فِى سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ فَيَقُولُ هَذِهِ امْرَأَتُكَ. فَأَكْشِفُ عَنْ وَجْهِكِ فَإِذَا أَنْتِ هِىَ فَأَقُولُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ

Kamu diperlihatkan kepadaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu kepadaku dengan tutup sepotong sutera.” Malaikat itu berkata, “Inilah isterimu!” Kemudian aku buka cadar wajahmu dan ternyata ia itu adalah kamu. Akupun, ‘Jika mimpi ini berasal dan Allah, niscaya Dia akan mewujudkannya.” (HR. Bukhari 3895 & Muslim 6436)

Melalui pernikahan beliau, umat islam mendapatkan keberkahan yang luar biasa. Aisyah dikenal wanita yang cerdas, mudah menghafal, memahami, dan fasih dalam berbahasa, Sehingga banyak sekali kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumahnya atau kegiatan beliau bersama keluarganya termasuk fikih terkait rahasia wanita, yang dijelaskan oleh Aisyah.

Kita berhutang budi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Melalui penjelasan beliau, kita bisa mengetahui banyak sekali sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak disaksikan selain para istri beliau.

Aisyah atau Khadijah yang lebih berjasa bagi umat?

Keduanya memiliki jasa besar bagi umat. Khadijah berjasa mendukung dakwah suaminya di awal islam, yang ketika itu umat islam masih sangat lemah keberadaannya.

Sementara Aisyah berjasa menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para generasi setelahnya.

Dalam Bada’i al-Fawaid, Ibnul Qoyim menjelaskan,

ومنها أنه سئل عن خديجة وعائشة أمي المؤمنين ايهما أفضل فأجاب بأن سبق خديجة وتأثيرها في أول الإسلام ونصرها وقيامها في الدين لم تشركها فيه عائشة ولا غيرها من امهات المؤمنين

Ada yang bertanya tentang Khadijah dan Aisyah – dua ummul mukminin, mana yang lebih afdhal? Jawabannya, perjuangan Khadijah lebih awal dan jasa beliau di awal islam, serta pembelaan beliau terhadap agama yang itu tidak dialami Aisyah atau para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.

Kemudian Ibnul Qoyim melanjutkan,

وتأثير عائشة في آخر الإسلام وحمل الدين وتبليغه إلى الأمة وإدراكها من العلم ما لم تشركها فيه خديجة ولا غيرها مما تميزت به غيرها

Sementara jasa Aisyah di akhir dakwah islam. Beliau memahami agama dan menyampaikannya kepada umat manusia. Serta pemahaman beliau terhadap ilmu sunah, yang ini tidak terjadi pada Khadijah atau istri Nabi lainnya, yang ini menjadi kekhususan bagi Aisyah. (Bada’i al-Fawaid, 3/684)

Keterangan semisal juga disampaikan ulama lainnya.

Demikian…

Semoga Allah meridhai mereka dan para sahabat lainnya..

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Hibah Orang Tua tidak Sah Jika Belum Diserahkan
  • 12, Jul 2018

Hibah Orang Tua tidak Sah Jika Belum Diserahkan

By gauri    No comments  

hibah orang tua untuk anak, warisan dan nafkah
Ilustrasi https://unsplash.com/photos/LbMy35NyCNg
Donasi Dakwah Islam Yufid

Status Hibah Orang Tua yang Belum Diserahkan Ke Anak

Ada orang tua menyatakan secara lisan, di depan seorang saksi, bahwa dia memberikan rumah yang dia huni kepada anak pertamanya. Sementara tidak ada penyerahan sertifikat, maupun bukti tertulis. Akibatnya, ketika orang tua meninggal, terjadi rebutan antar-anak terhadap rumah itu. anak pertama menuntut, bahwa rumah itu sdh menjadi miliknya, sehingga tidak dibagi waris.. sementara anak yang lain, menuntut rumah itu dibagi waris. Mohon penjelasan masalah ini..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Perpindahan harta dari orang tua ke anaknya, ada beberapa bentuk,

[1] Nafkah

Nafkah adalah pemberian yang menjadi kewajiban kepala rumah tangga kepada semua orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, seperti istri dan anak. Nafkah diberikan sesuai kebutuhan. Terlepas dari jenis kelaminnya. Sehingga bisa jadi nafkah untuk anak perempuan lebih besar dibandingkan anak laki-laki.

[2] Hibah

Adalah pemberian orang tua kepada anak yang statusnya tidak wajib. Dan – menurut pendapat yang lebih kuat – hibah diberikan sama rata untuk semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Kapan hibah terhitung sah? insyaaAllah akan kita bahas setelah ini.

[3] Warisan

Adalah perpindahan harta dari orang tua kepada anak sebagai ahli warisnya, dengan ketentuan sebagaimana yang telah ditetapkan syariat. Karena itu, untuk warisan, manusia hanya diminta untuk mengikuti aturan yang ada, dan tidak boleh berkreasi di sana.

Selanjutnya, kita bahas mengenai hibah.

Kapan Hibah Terhitung Sah?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Pertama, menurut Malikiyah, hibah sah hanya dengan akad secara lisan, dan tidak disyaratkan harus ada serah terima. Alasan mereka bahwa hibah sama seperti jual beli atau akad perpindahan hak milik lainnya, yang terhitung sah hanya dengan akad.

Para ulama Malikiyah mengatakan,

الهبة جائزة إذا كانت معلومة، قبضت أو لم تقبض

Hibah itu sah, selama objeknya jelas, baik setelah diserah terimakan maupun belum diserah terimakan. (Simak, Bidayah al-Mujtahid, 2/324; Hasyiyah ad-Dasuqi, 4/101).

Kedua, dalam madzhab Hambali, menurut riwayat yang rajih dari Imam Ahmad, bahwa objek hibah ada 2:

[1] Objek yang terukur dengan cara ditimbang atau ditakar, seperti bahan makanan, Hibah untuk objek ini terhitung sah, jika sudah diserah terimakan. Karena itu, jika baru sebatas dilisankan, tidak terjadi perpindahan hak milik, artinya hibah dibatalkan. Dalil mereka adalah ijma’ sahabat dalam masalah ini.

[2] Objek yang tidak diukur dengan takaran atau timbangan, seperti properti. Hibah untuk objek ini dinilai sah hanya dengan akad secara lisan, meskipun belum diserah terimakan.

Ibnu Qudamah mengatakan,

إن المكيل والموزون لا تلزم فيه الصدقة والهبة إلا بالقبض، وهو قول أكثر الفقهاء. أما غير المكيل أو الموزون فتلزم الهبة فيه بمجرد العقد، ويثبت الملك في الموهوب قبل قبضه، لما روي عن علي وابن مسعود رضي الله عنهما قالا: الهبة جائزة إذا كانت معلومة، قبضت أو لم تقبض

Sedekah atau hibah untuk objek yang ditimbang atau ditakar, tidak terhitung sah, kecuali jika diserah-terimakan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Sementara untuk objek yang tidak ditakar atau ditimbang, hibah sah sekalipun hanya dengan akad, dan objek berpindah hak milik, meskipun belum diserah terimakan. Berdasarkan riwayat dari Ali dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma. Mereka mengatakan, ‘Hibah dibolehkan, jika diketahui, baik sudah diserahkan maupun belum diserahkan.’ (simak al-Mughni, 5/591)

Ketiga, sementara menurut Syafiiyah dan Hanafiyah, hibah untuk objek bernilai sah jika diserah-terimakan. Jika hibah belum diserah-terimakan tidak teranggap, sehingga tidak ada perpindahan hak milik.

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

[1] Riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pernah secara lisan memberikan hibah kepada Aisyah. Menjelang wafatnya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

يابنية … إني كنت نحلتك جداد عشرين وسقاً من مالي، ولو كنت جددتيه وأحرزتيه لكان لك، وإنما هو اليوم مال الوارث، وإنما هما أخواك وأختاك فاقتسموه على كتاب الله

Wahai putriku…, aku pernah memberimu hartaku berupa kurma matang 20 wasaq, andai dulu kamu menerimanya, tentu itu menjadi milikmu. Namun hari ini, harta itu menjadi harta ahli waris, yaitu kedua saudara laki-laki dan saudara perempuanmu. Karena itu, bagilah sesuai aturan Allah. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, 806).

[2] Riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ما بال رجال يَنْحَلون أبناءهم نُحلاً، ثم يمسكونها فإن مات ابن أحدهم، قال: «مالي بيدي، لم أعطه أحداً، وإن مات هو قال: هو لابني، قد كنت أعطيته إياه، فمن نحل نحلة فلم يَحُزْها الذي نحلها ـ وأبقاها ـ حتى تكون إن مات لورثته، فهي باطلة

Mengapa ada orang yang memberikan hibah ke anak mereka, namun tidak diserahkan. Ketika anaknya mati, dia mengatakan, “Harta ini masih milikku, aku belum pernah memberikannya kepada siapapun.” Namun ketika orang tua yang mati, dia mengatakan, “Ini milik anakku, aku telah memberikannya kepadanya.”

Kemudian Umar menegaskan, ‘Siapa yang memberi hibah, namun dia belum menerimanya – dia pertahankan – sehingga ketika dia mati hartanya menjadi warisannya, maka hibah ini batal. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, 2784).

Dan pendapat ini merupakan pendapat Utsman, Ali dan beberapa sahabat lainnya. (al-Fiqh al-Islami, Wahbah Zuhaili, 5/637).

Pendapat ini juga meng-qiyaskan hibah sebagaimana sedekah atau utang. Keduanya sama-sama akad irfaq (membantu karena iba/cinta), sehingga selama baru diucapkan, dan belum diserahkan maka tidak diperhitungkan..

Dan insyaaAllah pendapat ketiga ini yang lebih kuat.

Saran Bagi Orang Tua

Terkadang pertengkaran antar-anak, pemicunya adalah orang tua. karena perbedaan kecintaan pada anak, sehingga orang tua menyatakan secara lisan menghibahkan hartanya kepada sebagian anaknya. rumah ini nanti jadi milik kamu, tanah ini milik kamu, dst. sementara anak yang lain tidak diberi yang sama. Akibatnya, ketika orang tua meninggal, mereka rebutan harta peninggalan orang tua.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, agar memberi hibah secara merata kepada semua anak. Jika tidak, biarkan harta peninggalan itu sebagai warisan, yang dibagi sesuai aturan waris.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Aqiqah Boleh Dibagi Mentahan
  • 11, Jul 2018

Aqiqah Boleh Dibagi Mentahan

By gauri    No comments  

daging akikah mentahan
Ilustrasi https://unsplash.com/search/photos/goat
Donasi Dakwah Islam Yufid

Daging Aqiqah Boleh Dibagi Mentahan

Apakah aqiqah boleh dibagikan mentahan? Dengan tujuan lebih murah, krn dana terbatas..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Inti dari aqiqah adalah menyembelih hewan ternak (kambing) sebagai bentuk rasa syukur untuk kelahiran anak.

Al-Iraqi mengatakan,

العقيقة: الذبيحة التي تذبح عن المولود

Aqiqah adalah hewan ternak yang disembelih karena kelahiran anak. (Tharh at-Tatsrib, 5/205).

Hanya ulama berbeda pendapat mengenai jenis hewan yang boleh untuk aqiqah, apakah kambing saja ataukah boleh menyembalih sapi dan onta.

Mengenai cara pembagiannya, syariat memberikan kebebasan. Sehingga boleh juga dibagi dalam keadaan mentah. Sebagaimana yang berlaku dalam kurban.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

وسبيلها في الأكل والهدية والصدقة سبيلها ـ يعني سبيل العقيقة كسبيل الأضحية .. وبهذا قال الشافعي

Tata cara aqiqah seperti cara mengkonsumsinya, menghadiahkannya atau mensedekahkanya sama sebagaimana tata cara udhiyah (berqurban)… dan ini yang dinyatakan as-Syafi’i. (al-Mughni, 9/366).

Imam Ibnu Baz menjelaskan,

وإنما العقيقة المشروعة التي جاءت بها السنة الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم هي ما يذبح عن المولود في يوم سابعه ، وهي شاتان عن الذكر ، وشاة واحدة عن الأنثى , وقد ( عق النبي صلى الله عليه وسلم عن الحسن والحسين رضي الله عنهما )

Aqiqah yang sesuai syariat dan yang diajarkan dalam sunah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hewan yang disembelih untuk kelahiran anak pada hari ketujuh. Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meng-aqiqahi Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian beliau melanjutkan,

وصاحبها مخير إن شاء وزعها لحماً بين الأقارب والأصحاب والفقراء ، وإن شاء طبخها ودعا إليها من شاء من الأقارب والجيران والفقراء

Dan sohibul aqiqah boleh memilih, boleh membaginya dalam bentuk daging (mentah) kepada para kerabat, kawan atau orang miskin. Bisa juga dia masak, kemudian mengundang kerabat, tetangga, atau orang miskin yang dia inginkan. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 4/262).

Ini bisa kita jadikan solusi bagi mereka yang ingin aqiqah sementara dananya terbatas. Selagi cukup untuk beli kambing, aqiqah bisa diselenggarakan. Kemudian dibagikan mentahan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Ternyata Kopi itu Khamr
  • 10, Jul 2018

Ternyata Kopi itu Khamr

By gauri    No comments  

kopi khamr
Ilustrasi coffee wallpaper: https://unsplash.com/photos/zlwDJoKTuA8
Donasi Dakwah Islam Yufid

Kopi = Khamr

Saya pernah membaca tulisan bahwa kopi itu khamr. Apakah betul demikian? Lalu apa hukum kopi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Barangkali tulisan itu menyimpulkan dari sisi makna bahasa.

Dalam bahasa arab, kopi disebut dengan qahwah [قهوة]. Dan kata qahwah secara bahasa artinya khamr. Hasan Said al-Karmi – seorang ahli bahasa asal Palestina, dalam bukunya yang berjudul ‘Qoul ala Qoul’ mengatakan,

كلمة ” قهوة ” معناها في الأصل ” الخمر “، ويتّضح ذلك من مراجعة الكلمة في جميع القواميس

“Kata qahwah secara bahasa maknanya adalah khamr. Ini bisa kita lihat dengan jelas, ketika merujuk keterangan kata ini dalam semua kamus.” (Qoul ala Qoul, 3/117).

Kemudian al-Karmi menyebutkan beberapa bait syair arab yang mengisyaratkan makna itu.

Mengapa khamr disebut qahwah?

Qahwah berasal dari kata aqhaa – yuqhii yang artinya membuat kenyang. Bisa juga diartikan, membuat tidak suka dan menghindari makanan.

Al-Bairuni mengatakan,

قال الأزهري ( ت 370 هـ ) في ” تهذيب اللغة ” : القهوة : الخمر ؛ سُمِّيتْ قهوةً ، لأنها تُقهِي الإنسانَ : أي تُشْبِعُه . وقال غيره : سُمِّيتْ قهوة ؛ لأنّ شاربَها يُقْهِي عن الطعام : أي يكرهه ويأجَمُه

Al-Azhari (w. 370 H) dalam kitab Tahdzib al-Lughah mengatakan, ‘al-Qahwah’ itu khamr. Disebut ‘qahwah’ karena membuat iqha manusia, artinya membuat kenyang manusia. ada juga yang mengatakan, disebut qahwah, karena orang yang meminumnya yuqhi ‘an at-Tha’am, artinya membenci makanan dan merasa bosan darinya.

Jawaban ini bukan bermaksud menghukumi bahwa kopi itu terlarang apalagi menyebutnya haram. Beberapa ulama membela halalnya kopi, bahkan Dr. Bakr Abu Zaid memiliki tulisan khusus untuk menegaskan halalnya khamr, yang berjudul ‘Itsarah an-Nakhwah bi Hilli al-Qahwah.

Demikian, Allahu a’lam..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Apa Itu Mahram Sementara?
  • 9, Jul 2018

Apa Itu Mahram Sementara?

By gauri    No comments  

mahram sementara
Ilustrasi, sumber: https://unsplash.com/photos/7rIsBSxhiXM
Donasi Dakwah Islam Yufid

Mahram Sementara

Apa itu mahram sementara? Siapa saja mereka? dan bagaimana sikap kita dg mahram sementara? Thnk’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita perlu melihat pengertian mahram.

Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut,

كل من حرم نكاحها على التأبيد بسبب مباح لحرمتها

Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9/105).

Anda garis bawahi kata ‘selamanya’, dan kita akan melihat penjelasan tambahan yang disampaikan an-Nawawi untuk definisi di atas. Diantara yang beliau sampaikan,

فقولنا على التأبيد احتراز من أخت المرأة وعمتها وخالتها ونحوهن

Kami sebut ‘selamanya’ tidak termasuk di dalamnya adalah saudari istri, atau bibinya baik dari bapak atau dari ibu.

Allah melarang menikahi 2 wanita bersaudara sekaligus. Allah berfirman,

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُوراً

“…dan diharamkan bagimu menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nisa: 23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya dalam satu ikatan pernikahan,

أن يجمع بين المرأة وخالتها، والمرأة وعمتها

“Tidak boleh seorang lelaki menggabungkan antara seorang wanita dengan bibinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Mereka tidak boleh dinikahi, namun bukan mahram. Karena mereka tidak boleh dinikahi untuk sementara.

Karena itu, yang lebih tepat, tidak ada istilah mahram sementara. Semua mahram itu selamanya. Jika ada mahram sementara, karena tidak boleh dinikahi sementara waktu, maka semua istri orang lain juga mahram sementara. Karena selama dia masih berstatus istri orang lain, tidak boleh dinikahi oleh siapapun.

Dalam fatwa Lajnah Daimah dinyatakan,

إذا ثبتت المحرمية بنسب أو رضاع أو مصاهرة فالمحرمية مؤبدة ، وليست هناك محرمية مؤقتة أصلاً

Ketika seseorang berstatus mahram karena nasab, persusuan, atau pernikahan, maka status mahramnya selamanya. dan tidak ada istilah mahram sementara sama sekali.. (Fatwa Lajnah Daimah, 17/36)

Untuk mengetahui lebih lengkap siapa saja mahram anda, silahkan mempelajari:

Siapa Mahram Kita?

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

www.000webhost.com