Browsing Month: August 2018

Apakah Malaikat Masuk Surga?
  • 31, Aug 2018

Apakah Malaikat Masuk Surga?

By gauri    No comments  

malaikat di akhirat surga
Ilustrasi goa, unsplash free wallpaper

Apakah Malaikat Masuk Surga?

Apakah nanti malaikat akan masuk surga? Thnk’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara prinsip terkait hal yang ghaib adalah mengimani semua yang disebutkan dalam al-Quran dan hadis yang shahih. Sementara bagian yang tidak kita ketahui, kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Terlalu kepo atau meraba-raba hal yang ghaib adalah tindakan yang tercela dalam syariat. Karena hal yang ghaib tidak bisa diterka atau disketsa.

Mengenai malaikat, mereka adalah makhlluk Allah yang selalu taat kepada-Nya dan melaksanakan semua yang diperintahkan kepada mereka. Mereka akan selalu melaksanakan tugas yang Allah perintahkan.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya: 26-28)

Allah juga berfirman,

عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“..penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan…” (QS. at-Tahrim: 6)

Sehingga malaikat tidak akan melakukan pekerjaan apapun tanpa ada perintah dari Allah Ta’ala.

Dalam fatwa islam (no. 154221) ditegaskan,

وحالهم (أي الملائكة) لا يختلف ، سواء قبل خلق آدم عليه السلام ، أو بعد فناء الدنيا وانقضاء أيامها ، أو يوم البعث والنشور والحساب والجزاء ، أو بعد أن ينصرف الناس يوم القيامة فريقين : فريق في الجنة وفريق في السعير

Kondisi para malaikat tidak berubah, baik sebelum Adam diciptakan, maupun setelah kehancuran dunia, atau ketika hari berbangkit, hari hisab dan pemberian balasan, atau setelah manusia terbagi, sebagian masuk surga dan sebagian masuk neraka.

Kondisi mereka tetap sama, dalam arti mereka tidak pernah durhaka terhadap perintah Allah dan selalu melaksanakan apa yang Allah perintahkan.

Mereka bukan makhluk yang mendapatkan beban syariat (ahlu taklif), mereka tidak dihisab pada hari kiamat, hanya saja mereka memiliki tugas yang beragam sebelum kiamat dan sesudah kiamat. Dan mereka selalu tunduk dan taat kepada perintah Allah.

Ketika kiamat, diantara mereka ada yang memikul arsy.

Allah berfirman,

وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka..” (al-Haqqah: 17)

Ada juga yang bertasbih dan memuji Allah sambil mengelilingi Arsy.

Allah berfirman,

وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. az-Zumar: 75)

Ada juga yang diperintahkan untuk mendatangi penduduk surga,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. ar-Ra’du: 23-24)

Ada juga yang diperintahkan untuk menghukum penduduk neraka.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Yang lainnya mendapatkan perintah sesuai yang Allah kehendaki. Dan semuanya kembali kepada ilmu Allah, Dzat yang Maha Mengetahui.

Allah berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS. al-Muddatsir: 31)

Seperti inilah kaidah yang difatwakan Lajnah Daimah ketika ditanya mengenai kondisi malaikat setelah hisab di hari kiamat.

Ketika ditanya tentang kondisi malaikat ketika kiamat, Lajnah Daimah menjelaskan,

قد أخبر الله سبحانه عن الملائكة بأنهم ( عِبَادٌ مُكْرَمُونَ * لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ) الآيات ، فهم محل كرامته وإحسانه وتحت تصرفه وأمره . فمنهم الموكل بأهل الجنة ، ومنهم الموكل بأهل النار ، ومنهم حملة العرش ، ومنهم الحافون بالعرش ، والله أعلم بتفاصيل أعمال بقيتهم

Allah menyampaikan tentang keadaan para malaikat bahwa mereka adalah “hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” Mereka bagian dari kemuliaan Allah dan kebaikan Allah, dan mereka di bawah kekuasaan Allah. Diantar mereka ada yang diperintahkan untuk menangani penduduk surga. Ada yang diperintah untuk menangani penduduk neraka. Ada yang memikul Arsy, ada yang mengelilingi Arsy. Dan Allah Maha Tahu mengenai semua rincian amal mereka. (Fatwa Lajnah Daimah, 3/468 – 469)

Hanya saja, ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa malaikat masuk surga, karena mereka ahli tauhid.

As-Suyuthi menyebutkan,

سئل الصفار – من علماء الحنفية – : أتكون الملائكة في الجنة ؟ قال : ” نعم إنهم موحدون ، وبعضهم يطوفون حول العرش يسبحون بحمد ربهم ، وبعضهم يبلغون السلام من الله تعالى على المؤمنين

As-Shaffar – ulama Hanafiyah – pernah ditnya,

Apakah malaikat masuk surga? Beliau menjawab, “Benar, mereka ahli tauhid. Sebagian diantara mereka ada yang mengelilingi Arsy, bertasbih dan memuji Allah. Diantara mereka ada yang menyampaikan salam dari Allah kepada kaum mukminin.” (al-Habaik Akhbar al-Malaik, as-Suyuthi, hlm. 88)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Hukum Laki-laki Memakai Pakaian Wanita untuk Pentas Seni Drama dan Karnaval
  • 30, Aug 2018

Hukum Laki-laki Memakai Pakaian Wanita untuk Pentas Seni Drama dan Karnaval

By gauri    No comments  

hukum laki-laki memakai baju wanita
Ilustrasi gambar pakaian wanita unsplash

Memakai Pakaian Wanita ketika Karnaval dan Pentas Seni

Misal lelaki memakai baju perempuan. dan hal ini digunakan untuk kebutuhan pementasan seni,  main film, atau karnaval, apakah boleh?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menegaskan larangan bagi lelaki untuk meniru wanita atau wanita meniru gayanya lelaki.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad 3151 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).

Dan secara khusus, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang lelaki memakai pakaian wanita atau wanita memakai pakaian lelaki.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Juga disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud 4098, Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Semua dalil di atas secara tegas melarang kaum laki-laki memakai pakaian wanita, meskipun tujuannya hanya untuk main-main, seperti karnaval, atau main drama. Selama itu dilakukan dengan sengaja dan tidak ada udzur syar’i, tidak diperbolehkan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid?
  • 29, Aug 2018

Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid?

By gauri    No comments  

Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid
Masjid Malaysia

Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid?

Jika wanita paling utama shalat di rumah, apakah jika dia shalat di masjid, dia mendapatkan keutamaan jamaah di masjid?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” (HR. Abu Daud 570 dan dishahihkan al-Albani).

Juga dinyatakan dalam riwayat lain dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ibnu Khuzaimah 1683 dan dihasankan Syu’aib Al-Arnauth).

Kemudian juga disebutkan dalam hadis dari Ummu Humaid Radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersama anda.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى

“Aku telah mengetahui hal itu bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Ahmad 27090 dan dihasankan Syu’aib Al-Arnauth)

Disebutkan dalam Ensiklopedi Fiqh,

اتفق الفقهاء على أن صلاة الرجل في المسجد جماعة أفضل من صلاته منفرداً في البيت ، لحديث أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( صلاة الجماعة أفضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة ) وفي رواية : ( بسبع وعشرين درجة ) – متفق عليه -.

أما في حق النساء فإن صلاتهن في البيت أفضل ؛ لحديث أم سلمة مرفوعاً : ( خير مساجد النساء قعر بيوتهن ) – رواه أحمد في ” المسند ” (6/297) وحسنه محققو المسند

Para ulama sepakat bahwa shalat wajib bagi lelaki di masjid secara berjamaah lebih afdhal dibandingkan ketika dia kerjakan di rumah sendirian. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Shalat jamaah lebih afdhal 25 kali dibandingkan shalat sendirian’

Dalam riwayat lain, lebih afdhal 27 kali. (Muttafaq ‘alaih)

Sementara untuk wanita, lebih afdhal mengerjakan shalat wajib di rumah, berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad dan dihasankan oleh muhaqqiqnya). (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 8/231)

Berdasarkan hadis-hadis di atas, sebagian ulama menegaskan bahwa keutamaan shalat jamaah di masjid hanya berlaku bagi lelaki dan bukan wanita. Karena yang diperintahkan dalam hal ini adalah lelaki dan bukan wanita.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, ‘Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19)

Demikian pula keterangan yang disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadis tentang 7 orang yang akan mendapatkan naungan kelak di hari kiamat. Salah satunya adalah

رجل قلبه معلق في المساجد

“Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid..”

Menurut al-Hafidz, keutamaan ini hanya berlaku bagi lelaki. Karena shalat wanita di rumahnya lebih afdhal dibandingkan ikut berjamaah di masjid. (Fathul Bari, 2/147).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Siapa yang lebih besar Syahwatnya, Pria atau Wanita?
  • 27, Aug 2018

Siapa yang lebih besar Syahwatnya, Pria atau Wanita?

By gauri    No comments  

perbedaan syahwat laki-laki dan wanita
Unsplash free wallpaper

Perbedaan Syahwatnya Pria atau Wanita?

Benarkah syahwat wanita lebih besar dibandingkan syahwat laki-laki?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Kita kutipkan keterangan Ibnu Muflih dalam kitabnya al-Adab as-Syar’iyah,

وللأطباء قولان أيهما أشد شهوة الرجال أم النساء؟ ويروى من حديث أبي هريرة موقوفاً ومرفوعاً “فضلت المرأة على الرجل بتسعة وتسعين جزءاً من اللذة، أو قال من الشهوة، لكن الله ألقى عليهن الحياء”

Ada dua pendapat terkait, siapa yang lebih besar syahwatnya, lelaki ataukah wanita? Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara mauquf (sampai kepada Abu Hurairah), dan secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wanita menikmati kelezatan hubungan badan 99 kali lelaki.” Dalam riwayat lain, “Syahwat wanita 99 kali syahwat lelaki, hanya Allah menutupi mereka dengan rasa malu.”

Kemudian Ibnu Muflih menyebutkan beberapa keterangan para ulama,

وذكره ابن عبد البر وغيره. وقال ابن عقيل في الفنون: قال فقيه: شهوة المرأة فوق شهوة الرجل بتسعة أجزاء

Ini juga yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Bar dan yang lainnya. kemudian Ibnu Aqil dalam kitabnya al-Funun mengatakan, “Ada seorang ulama menyatakan, ‘Syahwat wanita 9 kali di atas syahwat pria.’ (Hadis ini diriwayatkan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan sanadnya putus, sehingga dinilai dhaif sekali oleh al-Albani).

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan pendapat kedua,

فقال حنبلي: لو كان هذا ما كان له أن يتزوج بأربع، وينكح ما شاء من الإماء. ولا تزيد المرأة على رجل، ولها من القسم الربع، وحاشا حكمته أن تضيق على الأحوج

Seorang ulama hambali mengomentari pendapat pertama, ‘Jika benar syahwat wanita lebih besar, tentu seorang lelaki tidak boleh menikahi 4 wanita atau melakukan hubungan badan dengan budaknya. Sementara wanita tidak boleh menikah lebih dari seorang lelaki, sementara dia hanya berhak mendapatkan bagian seperempat. Ini tidak sesuai hikmah-Nya, dimana yang lebih membutuhkan keadaannya dipersulit.’ (al-Adab as-Syar’iyah, 2/389).

Pendapat kedua juag didukung oleh Ibnul Qoyim. Dalam I’lamul Muwaqqi’in, beliau mengatakan,

وأما قول القائل: إن شهوة المرأة تزيد على شهوة الرجل فليس كما قال، والشهوة منبعها الحرارة، وأين حرارة الأنثى من حرارة الذكر، ولكن المرأة ـ لفراغها وبطالتها وعدم معاناتها لما يشغلها عن أمر شهوتها وقضاء وطرها ـ يغمرها سلطان الشهوة ويستولي عليها، ولا يجد عندها ما يعارضه، بل يصادف قلباً فارغاً ونفساً خالية فيتمكن منها كل التمكن، فيظن الظان أن شهوتها أضعاف شهوة الرجل، وليس كذلك

Pernyataan orang bahwa syahwat wanita melebihi syahwat lelaki, itu tidak benar. Karena syahwat itu terbit dari sifat hararah (darah panas). Dan jelas hararah lelaki lebih kuat dibandingkan wanita. Hanya saja, karena wanita itu longgar, tidak berkegiatan dan tidak terpancing untuk melampiaskan syahwatnya, maka kekuatan syahwatnya (saat berhubungan) menguasainya, dan tidak ada yang menghalanginya. Bahkan (saat berhubungan) hatinya kosong, sehingga bisa fokus melampiaskannya. Karena itu, orang menyangka syahwatnya lebih besar dibandingkan syahwat lelaki. Padahal tidak seperti itu.

Kemudian Ibnul Qoyim menyebutkan alasannya,

ومما يدل على هذا أن الرجل إذا جامع امرأته أمكنه أن يجامع غيرها في الحال، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يطوف على نسائه في الليلة الواحدة، وطاف سليمان على تسعين امرأة في ليلة… والمرأة إذا قضى الرجل وطره فترت شهوتها، وانكسرت نفسها، ولم تطلب قضاءها من غيره في ذلك الحين، فتطابقت حكمه القدر والشرع والخلق والأمر

Diantara yang menunjukkan bahwa syahwat lelaki lebih tinggi, bahwa ketika seorang lelaki melakukan hubungan badan dengan istrinya, masih memungkinkan baginya untuk melakukan hubungan dengan istrinya yang lain di waktu yang sama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir semua istrinya dalam waktu semalam, dan Sulaiman pernah menggilir 90 istrinya dalam waktu semalam…. Dan wanita jika syahwatnya sudah tertunaikan oleh suaminya, dia tidak akan mencari yang lain di waktu yang sama. Sehingga terjadilah kesesuaian takdir Allah dengan aturan syariat. terjadi kesesuaian antara ciptaan Allah dengan ketetapan Allah. (I’lam al-Muwaqqi’in, 2/105).

Maksudnya, Allah ciptakan lelaki dengan syahwat yang lebih besar, sejalan dengan syariat bolehnya mereka berpoligami.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Rahasia Larangan Menolak Pemberian Minyak Wangi
  • 25, Aug 2018

Rahasia Larangan Menolak Pemberian Minyak Wangi

By gauri    No comments  

sedekah minyak wangi
Unsplash wallpaper

Larangan Menolak Pemberian Minyak Wangi

Benarkah jika kita ditawari minyak wangi tidak boleh menolaknya? Bagaimana jika kita tidak kuat dengan baunya, karena tidak sesuai selera..?

Jawab:

Larangan menolak pemberian minyak wangi disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ طِيبٌ فَلاَ يَرُدَّهُ فَإِنَّهُ خَفِيفُ الْمَحْمَلِ طَيِّبُ الرَّائِحَةِ

Siapa yang ditawari minyak wangi, janganlah dia menolaknya. Karena minyak wangi itu ringan diterima, dan baunya harum. (HR. Ahmad 8264, Nasai 5276 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Untuk menerima hadiah minyak wangi, kita tidak perlu mengeluarkan modal banyak, sebagaimana hadiah besar lainnya. Seperti hadiah binatang atau benda berat yang mungkin susah untuk dipindahkan. (Hasyiyah as-Sindi untuk Musnad Ahmad, 14/16).

Juga disebutkan dalam hadis lain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ الْوَسَائِدُ وَالدُّهْنُ وَاللَّبَنُ

Ada 3 hal yang tidak boleh ditolak, bantal untuk duduk, minyak wangi, dan susu. (HR. Turmudzi 3020, al-Baghawi 3173, dan dihasankan al-Albani)

Yang dimaksud bantal di sini bukan bantal untuk alas kepala ketika tidur, namun bantal lebar untuk alas duduk.

Di samping larangan di atas, juga disebutkan dalam hadis yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak pemberian minyak wangi. Setiap beliau diberi minyak wangi, beliau selalu menerimanya.

Seorang ulama tabi’in, Tsumamah bin Abdillah bercerita,

كَانَ أَنَسٌ لاَ يَرُدُّ الطِّيبَ. وَقَالَ أَنَسٌ إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَرُدُّ الطِّيبَ

Anas tidak pernah menolak pemberian minyak wangi. Anas mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menolak minyak wangi. (HR. Bukhari 2582, Turmudzi 3019 dan yang lainnya).

Mengapa kita dilarang untuk menolaknya?

Ulama berbeda pendapat mengenai alasan mengapa pemberian minyak wangi dilarang untuk ditolak?

Pendapat pertama, kita dilarang menolak pemberian minyak wangi, maknanya adalah perintah agar kita selalu menggunakan minyak wangi. Tujuannya, agar kita bisa selalu dalam kondisi wangi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menggunakan minyak wangi, agar beliau selalu bisa bermunajat dengan malaikat, dan malaikat menyukai bau harum. Ini merupakan pendapat Ibnu Batthal.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan Ibnu Batthal,

قَالَ بن بَطَّالٍ إِنَّمَا كَانَ لَا يَرُدُّ الطِّيبَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ مُلَازِمٌ لِمُنَاجَاةِ الْمَلَائِكَةِ وَلِذَلِكَ كَانَ لَا يَأْكُلُ الثُّومَ وَنَحْوَهُ

Ibnu Batthal mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak minyak wangi, karena beliau selalu menjaga kondisi untuk ber-munajat dengan malaikat. Karena itulah, beliau tidak makan bawang atau makanan bau sejenisnya.

Namun pendapat ini dikomentari al-Hafidz Ibnu Hajar, bahwa jika alasan ini yang diterima tentu khusus berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Karena yang selalu bermunajat dengan Malaikat hanya beliau. Padahal tidak bolehnya menolak pemberian minyak wangi, juga berlaku untuk semua umatnya. (Fathul Bari, 5/209).

Pendapat kedua, bahwa larangan ini tujuannya untuk memperhatikan kondisi perasaan pemberi minyak wangi. Karena ketika hadiahnya ditolak, bisa jadi dia sakit hati. Karena itulah, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasan mengapa dilarang menolak hadiah minyak wangi, karena benda ini ringan diterima, sehingga tidak selayaknya ditolak.

Sebagai contoh penerapannya, seperti yang disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar, mengenai 3 hal yang tidak boleh ditolak. Tiga benda ini, bantal untuk duduk, minyak wangi dan susu adalah jamuan pertama yang diberikan tuan rumah kepada tamunya yang baru datang. Secara materi, nilainya sangat murah. Sekalipun sangat murah, ketika itu diberikan sebagai penghargaan dari tuan rumah, hendaknya tamu tidak menolaknya, agar tidak menyakiti perasaan si pemberi.

Dalam Syarah Sunan Turmudzi, dinukil keterangan Imam at-Thibi,

قال الطيبي يريد أن يكرم الضيف بالوسادة والطيب واللبن وهي هدية قليلة المنة فلا ينبغي أن ترد

At-Thibi mengatakan, ‘Tuan rumah hendak memuliakan tamunya dengan bantal alas duduk, minyak wangi, dan susu. Hadiah ini nilainya kecil, karena itu, tidak selayaknya ditolak.’ (Tuhfatul Ahwadzi, 8/61).

Dengan melihat alasan pendapat kedua, bahwa larangan menolak pemberian minyak wangi, pada dasarnya termasuk bagian dari larangan menolak hadiah secara umum. Karena menerima hadiah dari sesama muslim, meskipun murah, bisa semakin memper-erat persaudaraan sesama muslim.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ

“Penuhi undangan orang yang mengundang. Jangan tolak hadiah dan jangan memukul seorang muslim.” (Ahmad 3838, Ibnu Hibban 5603 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Juga disebutkan dalam riwayat lain, dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّى فَقَالَ « خُذْهُ ، إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَىْءٌ ، وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ ، فَخُذْهُ ، وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Bahwa suatu ketika Rasulullah memberikan sesuatu untukku lantas kusampaikan kepada Nabi, “Serahkan saja kepada yang lebih miskin dibandingkan diriku”. Nabi lantas bersabda, “Terimalah. Jika engkau mendapatkan pemberian harta padahal engkau tidak memintanya juga tidak mengharapkannya maka terimalah. Jika tidak dapat jangan berharap” (Muttafaq alaih)

Bagaimana status larangan ini?

Jumhur ulama mengatakan bahwa larangan ini bersifat larangan makruh dan bukan larangan haram. Sebagaimana keterangan Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid (1/273). Sehingga, jika ada alasan lain yang membuat kita kesulitan untuk menerima pemberian minyak wangi, misalnya karena alasan kurang kuat dengan baunya atau baunya tidak sesuai selera, kita dibolehkan untuk menolaknya.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Amalan di Hari Tasyrik
  • 24, Aug 2018

Amalan di Hari Tasyrik

By gauri    No comments  

amalan hari tasyrik
Unsplash wallpaper

Amalan di Hari Tasyrik

Bismillah…

Di 10 Dzulhijjah, ada hari raya besar umat Islam di seluruh dunia, hari raya idul Adha atau disebut juga hari raya haji / qurban, karena bertepatan dengan prosesi ibadah yang sangat mulia, ibadah haji dan qurban.

Lalu tiga hari setelahnya, disebut sebagai hari tasyrik. Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda,

يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام، وهي أيام أكل وشرب

Hari Arafah, hari raya qurban (idul Adha) dan hari-hari tasyrik adalah hari raya kita umat Islam. (HR. Nasa-i dan Tirmidzi).

Seorang muslim yang Islamnya baik, ia akan sangat peduli dengan kebugaran imannya. Kebugaran iman akan didapat, dengan mengisi waktu-waktu hidup kita dengan amal baik. Karena memang iman dan amal, adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bagusnya ibadah, akan menambah kualitas iman. Dan maksiat, akan mengurangi kebugaran iman.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani –rahimahullah– mengatakan,

ونعتقد أن الإيمان قول باللسان ومعرفة بالجنان وعمل بالأركان، يزيد بالطاعة وينقص بالعصيان

Kita meyakini bahwa iman adalah ucapan di lisan, mengetahui (membenarkan) dengan hati dan beramal dengan anggota badan. Iman bertambah dengan mengamalkan ibadah dan berkurang karena sebab kemaksiatan.

(Lihat : As-Syaikh Abdul Qadir al Jailani Aaro-ahu wal I’toqodiyah was Shufiyah hal. 92)

Lantas apa saja amalan di hari Tasyrik yang kita sedang berada saat ini, yang dapat membugarkan iman kita?

Ternyata ada lho amalan-amalan prioritas di tiga hari tasyrik ini. Berikut pemaparannya :

Pertama, takbir mutlak dan muqayyad.

Takbiran di hari raya idul Fitri dan idul Adha, sudah biasa kita kenal. Namun ternyata masih boleh takbiran di tiga hari tasyrik ini. Itulah yang disebut sebagai takbir mutlak dan takbir muqayyad.

Takbir mutlak adalah takbir yang tidak terikat oleh waktu. Kapanpun kita dianjurkan bertakbir.

Takbir ini sudah dianjurkan sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari tasyrik, yaitu tanggal Maghrib tanggal 14 Dzulhijjah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan (Ayyaam Al Ma’luumaat). (QS. Al-Hajj : 28).

Ayyaam Al Ma’luumaat atau hari-hari yang telah ditentukan pada ayat di atas maksudnya adalah : 10 hari pertama Dzulhijjah.

Takbir muqayyad, takbir yang terikat waktu, yaitu diucapkan setiap selesai sholat fardhu.
Takbir muqoyyad disunnahkan diucapkan sejak ba’da subuh di hari arafah, sampai akhir hari tasyrik.

Lafadz takbir bisa anda pelajari di : Takbiran Tidak Pernu Menunggu Idul Adha

Allah berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ

Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya (Ayyaam Al Ma’duudaat). (QS. Al-Baqarah 203)

Ayyaam Al Ma’duudaat atau hari yang telah ditentukan jumlahnya maknanya : 3 hari tasyrik.

Imam Qurtubi rahimahullah menerangkan,

وقد روي عن ابن عباس أن المعلومات العشر، والمعدودات أيام التشريق, وهو قول الجمهور

Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Al Ma’luumat maknanya 10 hari pertama Dzulhijjah, dan Al Ma’duudaat maknanya hari tasyrik. Inilah tafsiran mayoritas ulama.

Maka dua ayat di atas adalah dalil disunnahkan memperbanyak dzikir, terutama takbiran sejak 10 hari pertama Dzulhijjah, hingga akhir hari tasyrik. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Umat bin Khattab Ali bin Abi Tholib dan beberapa sahabat lainnya.

(Lihat : Mukhtashar Khilafiyaat Al Baihaqi : 2/373-376).

Kedua, tidak puasa.

Ibadah tak selamanya berupa mengerjakan perintah. Adakalanya berupa meninggalkan larangan. Contohnya tidak melakukan puasa di hari Tasyrik.

Di lain hari-hari ini, puasa dianjurkan, bahkan diwajibkan seperti puasa bulan Ramadhan. Tapi untuk tiga hari ini, kita diharamkan puasa.

Dasarnya adalah sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam,

أيام التشريق أيام أكل وشرب

Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum dan dzikir mengingat Allah. (HR. Muslim)

Hari makan dan minum maksudnya, hari tidak boleh puasa.

(Lihat penjelasan Syaikh Ibu Baz berikut : https://binbaz.org.sa/fatwas/16194/معنى-حديث-ايام-التشريق-ايام-اكل-وشرب-وذكر-لله-تعالى)

Namun ada orang-orang yang boleh puasa di hari tasyrik. Yaitu jamaah haji yang berhaji tamatu’, kemudian dia tidak menyembelih hadyu (kambing).

Allah berfirman :

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ

Tetapi jika dia tidak mendapatkan hadyu, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). (QS. Al Baqarah : 196).

Ibunda Aisyah dan Umar bin Khattab Radhiyallahuma berkata :

لم يرخص في أيام التشريق أن يصمن إلا لمن لم يجد الهدي

Nabi tidak membolehkan puasa di hari-hari Tasyrik kecuali jama’ah haji (tamatu’) yang tidak menyembelih hadyu. (HR. Bukhari).

Ketiga, menyembelih hewan qurban.

Ternyata masih boleh nyembelih kurban di 3 hari tasyrik ini. Jadi untuk tempat-tempat yang stok kurbannya banyak, tidak mungkin ditangani satu hari pada hari raya Idul Adha, kurban bisa dicicil di 3 hari tasyrik ini.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu menegaskan,

أيام النحر : يوم النحر ، وثلاثة أيام بعده

Hari penyembelihan kurban adalah : hari raya dan tiga hari setelahnya (hari tasyrik).

(Dikutip dari : Jam’iul Fiqh, 3/576)

Keempat, perbanyak ibadah.

Ibadah saja dengan segala modelnya. Asal ada tuntutan dari Nabi shalallahu alaihi wa salam. Takbir, tahmid, tahlil, sedekah, membantu orang yang terkena musibah, tersenyum, dll.

Nabi menerangkan bahwa hari tasyrik adalah hari yang sangat istimewa di sisi Allah.

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻨَّﺤْﺮِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘَﺮِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul Qarr (hari tasyriq).”

(HR. Abu Daud no. 1765, dishahihkan oleh Al-Albani)

Dan ibadah akan semakin besar kelipatan pahalanya, saat dilakukan di waktu yang mulia.

Wallahu a’lam bis shawab.

Demikian, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Pengajar PP. Hamalatulquran Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Batas Maksimal Boleh Menyimpan Daging Qurban
  • 23, Aug 2018

Batas Maksimal Boleh Menyimpan Daging Qurban

By gauri    No comments  

Hukum Menyimpan Daging Qurban Berhari-hari
Unsplash

Hukum Menyimpan Daging Qurban Berhari-hari

Adakah batas maksimal boleh menyimpan daging qurban? Bolehkah di freezer, kemudian diambil sedikit-sedikit. Terkadang bisa habis selama sebulan.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum menyimpan daging qurban  melebihi hari tasyrik.

Pendapat pertama, dilarang menyimpan dan mengawetkan daging qurban melebih 3 hari Tasyriq. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhum.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah ketika shalat idul adha,  melarang menyimpan daging qurban lebih dari 3 hari. Dari Abu Ubaid – mantan budak Ibnu Azhar – beliau menceritakan,

صَلَّيْتُ مَعَ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ – قَالَ – فَصَلَّى لَنَا قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ نَهَاكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا لُحُومَ نُسُكِكُمْ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ فَلاَ تَأْكُلُوا

Saya pernah shalat id bersama Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Beliau shalat sebelum khutbah. Kemudian beliau berkhutbah, mengingat masyarakat. Beliau menyampaikan,

‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kalian untuk makan daging qurban kalian lebih dari 3 hari. Karena itu, janganlah kalian makan (lebih dari 3 hari).’ (HR. Muslim 5210, dan Nasai 4442).

Sementara riwayat dari Ibnu Umar, bahwa beliau tidak mau makan daging qurban yang disimpan lebih dari 3 hari. Dari Salim – putra Ibnu Umar – bahwa Ibnu Umar mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ تُؤْكَلَ لُحُومُ الأَضَاحِى بَعْدَ ثَلاَثٍ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan daging sembelihan lebih dari 3 hari.

Salim menceritakan kondisi bapaknya,

فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يَأْكُلُ لُحُومَ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثٍ

Karena itu, Ibnu Umar tidak mau makan daging qurban lebih dari 3 hari. (HR. Muslim 5214 dan Ibnu Hibban 5924).

Pendapat kedua, boleh menyimpan dagig qurban lebbih dari 3 hari tasyriq. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, empat imam madzhab, dan selainnya.

Diantaranya diriwayatkan dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha. Dari Abdurrahman bin Abis dari ayahnya, bahwa beliau pernah bertanya kepada A’isyah,

‘Benarkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarag makan daging qurban lebih dari 3 hari?’

Jawab A’isyah,

مَا فَعَلَهُ إِلاَّ فِى عَامٍ جَاعَ النَّاسُ فِيهِ ، فَأَرَادَ أَنْ يُطْعِمَ الْغَنِىُّ الْفَقِيرَ ، وَإِنْ كُنَّا لَنَرْفَعُ الْكُرَاعَ فَنَأْكُلُهُ بَعْدَ خَمْسَ عَشْرَةَ

Beliau hanya melarang hal itu karena kelaparan yang dialami sebagian masyarakat. sehingga beliau ingin agar orang yang kaya memberikan makanan (daging qurban) kepada orang miskin. Karena kami menyimpan dan mengambili daging paha kambing, lalu kami memakannya setelah 15 hari. (HR. Bukhari 5107).

Diantara dalil pendapat ini adalah bahwa larangan makan daging qurban lebih dari 3 hari itu sudah dihapus. Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal itu, diantaranya,

1. Hadis dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda:

« مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى ؟ قَالَ : « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »

“Barangsiapa yang menyembelih hewan qurban, janganlah dia menyisakan sedikitpun dagingnya di dalam rumahnya setelah hari (Tasyriq) yang ketiga (tanggal 13 Dzulhijjah, pent).” Ketika tiba hari raya qurban tahun berikutnya, mereka (para sahabat) bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kami melakukan sebagaimana tahun lalu?” Beliu menjawab: “(Tidak), untuk sekarang, silahkan kalian makan, berikan kepada yang lain, dan silahkan menyimpannya. Karena sesungguhnya pada tahun lalu manusia ditimpa kesulitan (kelaparan), sehingga aku ingin kalian membantu mereka (yang membutuhkan makanan, pent)”. (HR. Bukhari no. 5249, dan Muslim no.1974).

2. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ لاَ تَأْكُلُوا لُحُومَ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ». فَشَكَوْا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ لَهُمْ عِيَالاً وَحَشَمًا وَخَدَمًا فَقَالَ : « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَاحْبِسُوا أَوِ ادَّخِرُوا » رواه مسلم

“Wahai penduduk kota Madinah, Janganlah kalian makan daging qurban melebihi tiga hari (Tasyriq, tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, pent)”. Mereka mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keluarga, sejumlah orang (kerabat) dan pembantu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Kalau begitu) silakan kalian memakannya, memberikannya kepada yang lain, menahannya atau menyimpannya.” (HR. Muslim no.1973).

Sanggahan:

Sebagian ulama memahami riwayat Ali bin Abi Thalib di atas bahwa ada kemungkinan Ali tidak mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghapus hukum larangan memakan daging qurban lebih dari 3 hari. (al-I’tibar fi Nasikh wa Mansukh, hlm. 297)

Berdasarkan keterangan di atas, tidak masalah seseorang menyimpan daging qurbannya. Dan dalam hal ini tidak ada batas maksimal penyimpanan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan batas waktu maksimal penyimpanan hasil qurban itu.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Hukum Imunisasi yang Mengandung Babi
  • 21, Aug 2018

Hukum Imunisasi yang Mengandung Babi

By gauri    No comments  

imunisasi vaksin MR yang mengandung babi

Imunisasi yang Mengandung Babi

Ustadz, Bagaimana hukum Vaksin MR yang mengandung babi?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pada asalnya, berobat dengan sesuatu yang haram hukumnya terlarang. Karena kesembuhan itu datang dari Allah, sementara manusia hanya bisa berusaha mencari obatnya. Sedangkan Allah tidak meletakkan obat pada sesuatu yang haram.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari 5678)

Dalam riwayat lain, dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Ketika penggunaan obat itu tepat maka akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.” (HR. Muslim 2204).

Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi para dokter dan orang yang sakit agar tidak berputus asa. Karena semua penyakit pasti ada obatnya. Namun di saat yang sama, beliau juga melarang menggunakan benda haram sebagai obat.

Wail al-Hadhrami menceritakan, bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju’fi pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khamr, bolehkah dijadikan sebagai obat? Kemudian beliau melarangnya, dan bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ ، وَلَكِنَّهُ دَاءٌ

“Khamr itu bukan obat, namun itu penyakit.” (HR. Muslim 1948)

Di kampungnya Suwaid, masyarakat suka membuat khamr dari anggur dan digunakan untuk pengobatan. Namun ini dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sebut itu penyakit.

Juga disebutkan dalam hadis yang lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيثِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang obat yang haram. (HR. Turmudzi 2045 dan dishahihkan al-Albani)

Semua dalil di atas memberikan kesimpulan bahwa berobat dengan sesuatu yang haram hukumnya dilarang. Disamping sesuatu yang haram adalah penyakit dan bukan obat.

Jika kita anggap pemberian vaksin (imunisasi) sebagai bagian dari upaya berobat, berarti juga berlaku hukum di atas. Hanya saja, apakah pertimbangan darurat bisa dijadikan sebagai alasan?

Berikut kami kutipkan fatwa yang diterbitkan oleh lembaga fatwa Syabakah Islamiyah di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih

Kami susun per-poin agar mudah dipelajari,

إن وقع شك في مكونات الدواء الذي يكون به التطعيم فيمكن مراجعة الثقات والأمناء من الأطباء المسلمين

[1] Jika masih ada keraguan mengenai kandungan obat yang digunakan untuk vaksin, maka bisa merujuk kepada para dokter yang ahli dan amanah di bidangnya.

فإن ثبت اشتماله على شيء من النجاسات فالأصل أنه لا يجوز التطعيم به ما لم يكن هذا النجس قد استحال استحالة كاملة بحيث لم يبق له أثر ، فقد نص الفقهاء على طهارة الأعيان النجسة بالاستحالة

[2] Jika dipastikan obat itu mengandung sesuatu yang najis, maka hukum asalnya tidak boleh digunakan untuk vaksinasi, selama najis itu tidak mengalami istihalah (perubahan unsur) secara sempurna, dimana sudah tidak lagi tersisa unsur najisnya (karena sudah berubah menjadi unsur yang lain). Para ulama telah menegaskan bahwa benda najis bisa menjadi suci karena mengalami istihalah (perubahan unsur).

وأما إذا لم يستحل فإن وجد عنه بديل مباح فلا يجوز استعماله هو

[3] Apabila tidak mengalami istihalah secara sempurna, jika dijumpai ada pengganti yang mubah, maka tidak boleh menggunakan vaksin yang najis ini.

وإما إذا لم يوجد البديل المباح فالظاهر أن في المسألة تفصيلا

[4] jika tidak ada pengganti vaksin yang mubah, yang lebih tepat ada rincian dalam masalah ini,

فإن كان احتمال إصابة من لم يتم تطعيمهم احتمالا راجحاً وكان المرض المخوف حصوله مرضاً خطيراً بحيث يخشى أن يسبب وفاة أو إعاقة دائمة فالظاهر أن هذه الحالة تقترب من الضرورة الملجئة والله جل وعلا يقول

[5] Jika orang yang tidak diberi imunisasi berpeluang besar terkena wabah penyakit, sementara wabah penyakit yang dikhawatirkan terjadi adalah wabah yang membahayakan, dimana dikhawatirkan menimbulkan kematian atau cacat permanen, yang lebih tepat, pada keadaan ini mendekati kondisi darurat yang mulji’ (tidak ada pilihan lain).

Dan Allah berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. al-An’am: 119)

وأما إذا اختل واحد من الشرطين فالظاهر عندنا عدم جواز الإقدام على التطعيم بما هو نجس لم تتم استحالته

[6] Jika salah satu diantara syarat di atas tidak ada, yang lebih tepat menurut kami, tidak boleh menggunakan vaksin yang mengandung najis itu, selama tidak terjadi istihalah sempurna.

Sumber: Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 96527

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Khutbah Idul Adha 1439 H – 2018 M
  • 21, Aug 2018

Khutbah Idul Adha 1439 H – 2018 M

By gauri    No comments  

Khutbah Idul Adha 1439 H - 2018 M

Khutbah Idul Adha 1439 H

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله،:

{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} {يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا} {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا} {يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}،

أما بعد،

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hari ini gema takbir dikumandangkan di seluruh penjuru negeri islam… kita mengagungkan Allah, memuji-Nya sebagai bentuk rasa syukur kita atas semua nikmat dan karunia-Nya…

Allahu akbar… Allahu akbar… laa ilaaha illallaah wallahu akbar, Allahu akbar… wa lillahil hamd…

Kaum Muslimin, jamaah shalat id yang kami muliakan,

Hampir dalam setiap agama dan aliran kepercayaan, mereka memililki peribadatan dalam bentuk menyembelih hewan. Menumpahkan darah binatang, dalam rangka mengagungkan tuhan dan sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin mempersembahkan sembelihan mereka kepada thaghut – tuhan-tuhan selain Allah.

Ada yang bentuknya larung kepala kerbau di laut, ada yang bentunya sedekah bumi menanam kepala sapi di kaki gunung, atau dalam bentuk sesajian lainnya. Usaha yang mereka lakukan, berujung pada dosa syirik yang akan mengantarkan mereka kekal di neraka.

Di saat yang sama, islam memberikan kesempatan bagi kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah, Rab semesta alam, Sang Pencipta yang paling berhak untuk disembah, dengan menyembelih qurban. Ibadah mulia yang menjanjikan pahala besar.

Kita bisa perhatikan, kegiatan yang dilakukan sama. Sama-sama menyembelih, sama-sama bermodal binatang. Akan tetapi ujung akhirnnya sangat jauh berbeda. Yang satu mengantarkan pelakunya kekal di neraka, dan yang satu mengiring pelakunya menuju kenikmatan surga.

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar wa lillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..,

Mengapa amal kita bisa bernilai pahala? Mengapa amal kita dinilai sebagai amal soleh?

Karena amal kita dibangin di atas pondasi iman… karena kita muslim, karena amal yang kita kerjakan adalah amal yang dilandasi dengan iman. Sehingga apa yang kita lakukan, tidak ada yang sia-sia, dan dinilai ibadah di sisi Allah. Sungguh kita sangat layak bersyukur, atas hidayah iman dan islam.

Hadirin yang berbahagia,

Pada saat anda berqurban, bayangkan, andai saat itu kita tidak berada dalam agama islam. Tentu qurban yang kita kerjakan, bukan untuk Allah, namun akan menjadi pengagungan kepada thaghut.

Karena itulah, sebagai wujud rasa syukur atas hidayah iman yang dijanjikan dengan surga, Allah perintahkan kaum muslimin untuk shalat dan menyembelih hewan qurban.

Allah berfirman,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu telaga al-Kautsar. Karena itu kerjakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban.” (QS. al-Kautsar: 1 – 2).

Menurut 3 ulama tafsir zaman tabiin, Qatadah, Atha’, dan Ikrimah – ahli tafsir murid Ibnu Abbas –, makna perintah shalat dalam ayat itu adalah shalat id, sedangkan makna perintah menyembelih adalah menyembelih qurban. (Tafsir al-Qurthubi, 20/218).

Berdasarkan tafsir di atas, tidak ada kesempatan bagi kita untuk bisa menjalankan perintah dalam ayat ini sekali waktu, kecuali ketika idul adha.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar umatnya selalu berqurban.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad 8273, Ibnu Majah 3123, dan sanad hadits dihasankan al-Hafizh Abu Thohir).

Ma’asyiral muslimin, hadaniallahu wa iyyakum…

Kita yang saat ini tinggal di luar daerah bencana… kita yang saat ini jauh dari wilayah gempa… perbanyaklah bersyukur kepada Allah, dan memohonlah agar Allah mengabadikan kenikamatan rasa aman ini selamanya..

Tadi malam kita bisa tidur dengan nyenyak di dalam rumah kita, tanpa ada rasa takut rumah kita akan roboh karena gempa…

Tadi pagi kita shalat subuh di dalam masjid, tanpa ada kekhawatiran, jangan-jangan masjid ini akan runtuh disebabkan gempa..

Sungguh Allah telah memberikan rasa aman kepada kita, lahir batin… fisik kita aman, batin kita tenang…

Hadirin yang kami muliakan…

Allah menjanjikan, siapapun yang berusaha menjaga iman, maka dia akan aman. Rumusnya, iman sama dengan aman. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Anam: 82)

Jaminan keamanan yang diberikan oleh Allah ada 2,

[1] jaminan keamanan fisik dan

[2] jaminan keamanan batin

Jaminan keamanan fisik, ketika di dunia, Allah berikan kepada siapa saja diantara hamba-Nya yang Allah kehendaki. Baik hamba yang mukmin maupun hamba yang kafir. Semua manusia yang saat ini dalam kondisi sehat wal afiat, Allah telah memberikan keamanan fisik baginya.

Sedangkan jaminan keamanan yang kedua, jaminan keamanan batin, jaminan ini hanya Allah berikan kepada mereka yang memiliki tawakkal yang sempurna kepada Allah… tawakkal yang tumbuh karena iman… tawakkkal yang muncul dari keyakinannya bahwa dia punya Allah yang akan melindunginya, yang akan menjaganya…

Orang-orang soleh di masa silam, mereka menghadapi ujian yang luar biasa… ujian yang sampai mengancam jiwa dan raga.

Namun karena tawakkalnya yang tinggi, mereka tetap tegar dan tidak gentar dalam menghadapinya…

Ibrahim tatkala di lempar ke dalam api, beliau tetap tenang dan bertawakkal kepada Allah. Beliau mengucapkan,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung..”

Ibnu Abbas mengatakan,

“hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api.. (HR. Bukhari 4563).

Tatkala Ibrahim meninggalkan ibunda Hajar bersama putranya Ismail yang masih merah di lembah tanpa kehidupan, mereka bertawakkal kepada Allah…

Begitu Ibrahim beranjak meninggalkan Hajar, beliau mengejar Ibrahim seraya bertanya,

آللهُ الذِّيْ أَمَرَكَ بِهَذَا؟

“Apakah Allah yang memerintahkan kamu melakukan semua ini?”

Ibrahim menjawab: “Na’am” (Iya, Allah yang memerintahkan aku).

Dengan sangat yakin, wanita Solihah ini mengatakan,

إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللهُ

“Berarti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita…”

Subhanallah…

Siapa wanita yang tidak ketakutan ketika dia ditinggal sendiri bersama bayinya di tengah hutan?

Siapa wanita yang tidak ketakutan ketika dia ditinggal sendirian bersama bayinya di lembah tanpa kehidupan?

Namun karena kekuatan iman, mereka yakin bahwa mereka punya Allah yang akan menjaganya… itulah nikmat aman batin..

Demikian pula yang pernah dialami Musa… tatkala beliau bersama Bani Israil lari dari kejaran Fir’aun, hingga mereka terhenti karena di depannya lautan, sementara di belakang mereka Fir’aun bersama pasukannya.

Banyak diantara Bani Israil yang merasa sangat ketakutan, mereka akan ditangkap pasukan Fir’aun…

Allah ceritakan hal ini dalam firmannya,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS. as-Syu’ara: 61-62)

Anda bisa perhatikan, ketika pasukan Fir’aun semakin mendekat, hampir tidak ada peluang untuk bisa melarikan diri… Bani Israil telah terkepung, sehingga merekapun ketakutan..

Musa tidak tahu apa yang harus dilakukan, namun beliau yakin, Allah yang akan memberi bimbingan, Allah yang akan menjaganya…

Hingga Allah perintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut.. Allah berfirman di lanjutan ayat,

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. as-Syu’ara: 63).

Kondisi yang sama juga dialami oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ketika mereka mendapatkan informasi bahwa orang-orang musyrikin akan menyerang mereka dengan membawa pasukan yang sangat banyak dari berbagai suku, mereka tetap tenang, dan mereka tawakkal kepada Allah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat semakin beriman, dan mereka mengatakan kalimat hasbunallah wa ni’mal wakiil…,

Sebagaimana yang Allah ceritakan di surat Ali Imran: 173

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Allahu akbar… Allahu akbar… laa ilaaha illallaah wallahu akbar, Allahu akbar… wa lillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Kita bisa melihat masyarakat yang berada di lingkungan kita, mereka yang dekat dengan al-Quran dan sunah, yang dekat dengan sumber ilmu agama, umumnya memiliki mental lebih kuat diabndingkan mereka yang jauh dari agama. Karena orang yang sering mendengarkan al-Quran dan sunah, imannya akan lebih terjaga. Di saat itulah, Allah akan berikan ketenangan baginya… ketenangan batin, sehingga dia tidak gampang stres, tidak mudah putus asa ketika menghadapi masalah.

Termasuk mereka yang hendak hijrah meninggalkan pekerjaan yang haram, orang yang imannya lebih kuat, yang lebih sering dengan kajian sunah, umumnya lebih siap dibandingkan mereka yang jarang dengan kajian..

Kedewasaan mental itulah ketenangan batin, yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman…

Allahu akbar… allahu akbar… laa ilaaha illallahu wallahu akbar, allahu akbar walillahil hamd…

Selanjutnya marilah kita berdoa memohon kepada Allah, agar kita diberi kekuatan iman, kedewasaan mental, sehingga kita menjadi hamba-Nya yang bertawakkal.

Dan semoga Allah memberikan kesabaran bagi kaum muslimin Indonesia, terutama saudara kita yang saat ini sedang tertimpa musibah.. dan semoga Allah segera mengangkat musibah dari mereka…

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

Jatah Shohibul Qurban Diambil dari Daging Qurban Milik Orang Lain?
  • 20, Aug 2018

Jatah Shohibul Qurban Diambil dari Daging Qurban Milik Orang Lain?

By gauri    No comments  

pembagian daging qurban sapi

Jatah Daging Shohibul Qurban Diambil dari Qurban Milik Orang Lain?

Ada panitia qurban di suatu masjid menerapkan bahwa 3 ekor sapi adalah milik 21 orang shohibulqurban. Setelah sapi *pertama* disembelih dan dibersihkan kemudian dibagikan kpd 21 orang shohibulqurban tsb. Sehingga para shohibulqurban bs mendapatkan daging lbh awal. Tdk perlu menunggu sapi *kedua & ketiga* karena nantinya kedua sapi tsb yg akan dibagikan ke warga.
Bolehkah sistem ini diterapkan?

Dari : Anwar Rais, di Yogyakarta

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah wassholaah was salam’ala Rasuulillah, wa ba’du.

Pertama, sebelum kita menyentuh pada inti pertanyaan, terlebih dahulu kita bahas hukum kepemilikan tiga ekor sapi oleh 21 orang, atau urunan tiga sapi oleh 21 orang.

Benar bahwa sapi adalah binatang qurban yang dapat diurunkan maksimal tujuh orang. Sebagaimana yang tercatat dalam Al-Mustadrak karya Imam Al-Hakim, Ibnu Abbas mengisahkan,

كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فحضر النحر فاشتركنا في البقرة عن سبعة

Kami pernah berpergian bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, kebetulan di tengah perjalanan hari raya Idul Adha (yaumun nahr) datang. Akhirnya, kami patungan membeli sapi sebanyak tujuh orang untuk dikurbankan,” (HR Al-Hakim).

Namun yang harus menjadi catatan, urunan qurban ini harus jelas siapa pemiliknya. Maksudnya, masing-masing sapi harus jelas tujuh orang pemiliknya, jika memang urunan tujuh orang. Tidak cukup dengan niat global qurban 3 ekor sapi untuk 21 orang.

Dijelaskan dalam salahsatu fatwa Islam Su-al wal Jawab nomor 146159 (Islamqa); situs Islam binaan Syaikh Dr. Sholih Al Munajjid –hafidzahullah-,

أنه يجب تعيين أصحاب الأضحية عند الذبح ، فينوى أن هذه البقرة عن فلان وفلان بأعيانهم ، ولا يكفي أن يذبح جميع البقرات عن جميع المشتركين ، بل لابد أن يعين كل بقرة عن أصحابها .

Wajib menentukan para pemilik qurban saat penyembelihan. Sehingga saat menyembelih qurban diniatkan bahwa kurban sapi ini dari si A, si B (dan seluruh orang yang terlibat dalam urunan seekor sapi tersebut), secara jelas. Tidak cukup menyembelih semua sapi yang dikurbankan lalu diniatkan untuk seluruh yang terlibat pada urunan sapi-sapi yang ada. Namun harus ada kejelasan kepemilikan untuk setiap sapinya.

Kedua, untuk sistem pembagian seperti yang disebutkan di atas.

Hukumnya boleh, karena dua alasan berikut :

1. Distribusi daging kurban boleh diberikan kepada orang-orang yang mampu, tak hanya fakir miskin saja. Shohibul qurban bisa tergolong orang yang mampu, yang memang juga berhak mendapatkan jatah daging kurban.

2. Mayoritas ulama (Jumhur) berpandangan bahwa bagi shohibul qurban disunnahkan memakan sebagian daging Qurbannya, tidak wajib.

Mengingat hukumnya sunah, maka tidak harus dia mendapatkan jatah kurban dari hewan kurbannya sendiri. Boleh mendapatkan jatah dari kurban orang lain.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Haj : 28)

Perintah untuk Shohibul qurban memakan sebagian qurbannya dipahami oleh mayoritas ulama sebagai perintah yang bermakna anjuran. Sebagaimana keterangan Imam Nawawi rahimahullah,

وَأَمَّا الْأَكْل مِنْهَا فَيُسْتَحَبّ وَلَا يَجِب , هَذَا مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْعُلَمَاء كَافَّة

Adapun shohibul qurban memakan sebagian daging kurbannya, hukumnya dianjurkan bukan wajib. Inilah pendapat Mazhab kami (Syafi’i) dan mayoritas ulama. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim 13/131)

Wallahua’lam bis shawab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc (Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087-738-394-989
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK

Source link

www.000webhost.com