Browsing Month: September 2018

Bolehkah Berpindah Madzhab?
  • 29, Sep 2018

Bolehkah Berpindah Madzhab?

By gauri    No comments  

pindah madzhab
@Unsplash

Hukum Pindah Madzhab

Bolehkah berpindah madzhab ketika shalat atau ibadah lainnya? ini krn pengaruh mulai belajar perbedaan pendapat ulama. demikian mohon pencerahannya..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Perbedaan dalam masalah ibadah yang ada di masyarakat kita, secara umum bisa kita bagi menjadi dua,

Pertama, ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan yang bersifat keragaman)

Ikhtilaf tanawwu’ merupakan perbedaan yang bersifat variatif, yang semuanya pernah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umumnya perbedaan ini terkait masalah bentuk dan tata cara ibadah, seperti cara takbiratul ihram, cara bersedekap, doa iftitah, doa rukuk, bacaan tasyahud, dst.

Terkadang dalam perbedaan ini, masing-masing madzhab menganut tata cara tertentu, dan meninggalkan yang lain. Sehingga pengikut madzhab memahami, cara itulah yang sesuai dengan madzhabnya.

Untuk ikhtilaf tanawwu’, para ulama mengajarkan untuk mengamalkan semuanya, agar sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa tetap lestari.

Syaikhul Islam mengatakan,

أن العبادات التي فعلها النبي صلى الله عليه وسلم على أنواع يشرع فعلها على جميع تلك الأنواع لا يكره منها شيء وذلك مثل أنواع التشهدات وأنواع الاستفتاح

Bahwa ibadah-ibadah yang dipraktekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara beragam, dianjurkan agar semua ragam itu diamalkan dan tidak ada satupun yang dimakruhkan. Seperti macam-macam tasyahud atau beberapa redaksi doa iftitah. (Majmu’ Fatawa, 22/335).

Contoh, di tempat kita, masyarakat terkadang membaca doa iftitah dengan redaksi “Allahumma baa’id bainii wa baina khathaayaaya…” ada juga yang membaca iftitah dengan redaksi, “Allahu akbar kabiiraa wal hamdu lillahi katsiiraa…”

Yang terjadi di masyarakat kita, ketika mereka sudah memilih satu doa iftitah tertentu, itu saja yang dipegangi dan mereka tidak mau membaca doa iftitah yang lain. Padahal sikap yang benar, selama semuanya berdalil, seharusnya diamalkan secara bergantian.

Setidaknya ada 3 manfaat ketika kita mengamalkan sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki banyak ragam secara bergantian,

[1] Melestarikan semua sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ketika kita hanya memilih salah satu, dan hanya itu yang diamalkan, bisa jadi sunah yang lain akan terlupakan.

[2] Mempraktekkan semua yang pernah dipraktekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengamalkan sunah yang variatif itu secara bergantian, berarti kita mengamalkan semua yang beliau ajarkan dalam masalah itu.

[3] Menghindari potensi konflik. Ketika masing-masing kelompok hanya mengambil salah satu sunah tertentu, muncul anggapan di masyarakat bahwa masing-masing kelompok memiliki ajaran yang berbeda. Seperti di tempat kita, Kalimat tasyahud:

‘Attahiyaatu lillah was shalawaatu wat thayyibaat…’ dst. diklaim sebagai tasayhudnya Muhammadiyah.

Sementara kalimat tasyahud, ‘Attahiyaatul mubaarakaatus shalawatut thayyibaatu lillah’ diklaim sebagai tasyahudnya orang NU.

Padahal keduanya diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, ikhtilaf tadhad (perbedaan yang saling bertentangan)

Itulah perbedaan antara madzhab, dimana antara satu pendapat dengan pendapat yang lain saling bertentangan, sehingga tidak bisa digabungkan.

Misalnya, apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu ataukah tidak? Ada khilaf diantara ulama dalam masalah ini.

[1] Syafiiyah menyatakan, menyentuh wanita yang bukan mahram membatalkan wudhu

[2] Hanafiyah menyatakan, menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak

[3] Hambali dan Malikiyah, menyentuh wanita membatalkan wudhu jika diiringi dengan syahwat. Dan jika tanpa syahwat, tidak batal wudhu.

Dan ketiga pendapat ini saling bertentangan, dan tidak mungkin dikompromikan.

Contoh yang lain, mengenai mengeraskan basmalah ketika shalat jahriyah.

[1] Jumhur ulama berpendapat basmalah dibaca pelan ketika shalat jahriyah

[2] Syafi’iyah berpendapat, basmalah dibaca keras ketika shalat jahriyah

Dan Kedua pendapat ini saling bertentangan, sehingga tidak mungkin dikompromikan.

Yang perlu kita pahami bahwa semua perbedaan ini berangkat dari upaya mereka melakukan ijtihad.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan, apakah semua ijtihad ini benar ataukah kebenaran hanya satu?

Bedakan 2 hal berikut, benar dari sisi usaha dan benar dari sisi hasil usaha.

Para ulama diperintahkan untuk berusaha mempelajari al-Quran dan sunah, dalam rangka menggali kebenaran yang ada di dalamnya. Mereka berusaha mengedepankan semangat taqwa, agar bisa menyimpulkan keterangan yang ada dengan benar.

Sehingga dilihat dari sisi usaha, semua benar. Karena semua usaha mereka dilakukan dalam rangka ketaqwaan kepada Allah. Namun dilihat dari sisi hasil, bisa jadi berbeda. dan tentu saja, hasil yang sesuai kebenaran yang sejatinya hanya satu.

Karena itulah, mujtahid yang salah dalam mendapatkan hasil ijtihad, mereka tetap mendapatkan pahala. Meskipun hasil ijtihadnya salah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Ketika seorang hakim berijtihad lalu dia benar, maka dia berhak mendapat dua pahala, namun ketika dia berijtihad lalu dia salah, maka dia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari 3609 dan Muslim 2214).

Dalam hadis ini, Allah tetap memberikan nilai untuk usaha ijtihadnya, meskipun hasilnya salah. Artinya, usahanya dibenarkan, selama diiringi dengan semangat taqwa.

Syaikhul Islam menjelaskan hal ini dalam Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah,

والناس متنازعون : هل يقال كل مجتهد مصيب ؟ أم المصيب واحد؟ وفصل الخطاب : أنه إن أريد بالمصيب : المطيع لله ورسوله ؛ فكل مجتهد اتّقى الله ما استطاع فهو مطيع لله ورسوله ، فإن الله لا يكلف نفسا إلا وسعها ، وهذا عاجز عن معرفة الحق في نفس الأمر ، فسقط عنه

Masyarakat berbeda pendapat, apakah semua mujtahid itu benar, ataukah kebenaran hanya satu?

Kesimpulannya, jika yang dimaksud ‘benar’ dalam hal ini adalah benar karena mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka semua mujtahid bertaqwa kepada Allah semampu mereka. sehingga mereka adalah orang yang sedang melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak akan membebani jiwa melebihi kemampuannya. Sementara mujtahid ini kesulitan untuk mengetahui kebenaran dalam masalah yang dipelajari, sehingga kewajiban itu gugur darinya.

Beliau melanjutkan,

وإن عني بالمصيب : العالم بحكم الله في نفس الأمر ، فالمصيب ليس إلا واحدا ، فإن الحق في نفس الأمر واحد

“Jika yang dimaksud ‘benar’ dalam hal ini adalah orang yang mengetahui hukum Allah untuk kasus yang dipelajari, maka mujtahid yang benar hanya satu. Karena kebenaran dalam setiap perkara hanya satu. (Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah, 6/27-28).

Kebenaran itu datang dari Allah, sehingga tidak mungkin kebenaran itu saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Karena wahyu Allah tidak mungkin saling bertentangan.

Dan bagian dari usaha bertaqwa kepada Allah dalam masalah khilafiyah adalah berusaha mencari pendapat yang lebih mendekati kebenaran dengan diiringi semangat taqwa, sesuai kemampuannya.

Selanjutnya, bolehkah kita pindah madzhab dalam satu amalan tertentu?

Syaikhul Islam pernah diminta memberikan penjelasan mengenai pernyataan Najmuddin bin Hamdan,

التزم مذهبا أنكر عليه مخالفته بغير دليل ولا تقليد أو عذر آخر‏؟‏‏

Siapa yang telah komitmen dengan madzhab tertentu, dia tidak boleh bertindak menyalahi madzhabnya tanpa dalil, atau taqlid kepada madzhab lain, atau udzur lainnya.

Jawaban Syaikhul Islam,

فأجاب‏:‏ هذا يراد به شيئان‏:‏

أحدهما‏:‏ أن من التزم مذهبا معينا ثم فعل خلافه من غير تقليد لعالم آخر أفتاه ، ولا استدلال بدليل يقتضي خلاف ذلك ، ومن غير عذر شرعي يبيح له ما فعله ؛ فإنه يكون متبعا لهواه ، وعاملا بغير اجتهاد ولا تقليد ، فاعلا للمحرم بغير عذر شرعي ، فهذا منكر ‏.‏ وهذا المعنى هو الذي أورده الشيخ نجم الدين ، وقد نص الإمام أحمد وغيره على أنه ليس لأحد أن يعتقد الشيء واجبا أو حراما ثم يعتقده غير واجب ولا حرام بمجرد هواه …

Ada 2 makna dari pernyataan ini,

Pertama, bahwa orang yang komitmen dengan madzhab tertantu kemudian dia melakukan amalan yang bertentangan dengan madzhab itu, bukan karena taqlid kepada ulama lain yang mengajarnya, atau kesimpulan dari dalil yang bertentangan dengan madzhabnya, dan tidak ada udzur syar’i yang membolehkannya untuk meninggalkan komitmen dia, berarti orang ini hanya mengikuti hawa nafsu. Beramal tanpa ijtihad atau taqlid kepada ulama, melakukan yang haram tanpa udzur syar’i. sehingga orang ini melakuan kemungkaran. Inilah makna pernyataan Syaikh Najmuddin. Imam Ahmad dan yang lainnya menegaskan bahwa siapapun tidak boleh meyakini sesuatu yang wajib atau haram, kemudian dia tiba-tiba dia meyakini itu bukan wajib atau haram hanya karena hawa nafsunya.

Beliau melanjutkan,

وأما إذا تبين له ما يوجب رجحان قول على قول ، إما بالأدلة المفصلة إن كان يعرفها ويفهمها ، وإما بأن يرى أحد رجلين أعلم بتلك المسألة من الآخر ، وهو أتقى لله فيما يقوله ، فيرجع عن قول إلى قول لمثل هذا ، فهذا يجوز بل يجب وقد نص الإمام أحمد على ذلك

Namun ketika orang itu mengetahui pendapat A lebih kuat dibandingkan pendapat B, baik berdasarkan dalil yang lebih rinci yang dia ketahui, atau dia melihat ada orang yang lebih paham dalam masalah ini, dan dia lebih bertaqwa kepada Allah terhadap apa yang dia ucapkan, lalu dia meninggalkan pendapat madzhabnya dan beralih ke pendapat yang lain, karena alasan di atas, maka ini dibolehkan, bahkan wajib. Imam Ahmad telah menegaskan hal ini. (Majmu’ Fatawa, 20/220-221)

Berpindah dari satu madzhab ke madzhab yang lain dalam satu perkara, karena dia merasa bahwa itu yang lebih sesuai kebenaran, ini dibolehkan bahkan diharuskan. Karena kebenaran tidak berpihak kepada madzhab tertentu. Namun kebenaran berpihak kepada orang yang pendapatnya lebih mendekati dalil.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Mimpi Dusta untuk Mendakwahi Keluarga
  • 28, Sep 2018

Mimpi Dusta untuk Mendakwahi Keluarga

By gauri    No comments  

mimpi melihat akhirat
Ilustrasi @unsplash

Mengaku Mimpi Melihat Akhirat ?

Bolehkah dusta menceritakan mimpi untuk menasehati suami atau anak-anak yang malas ibadah.. misalnya, berpura-pura mimpi bahwa suami atau anak-anak dihukum di akhirat, agar dia mau rajin shalat. Mohon pencerahannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Termasuk diantara dosa besar, mengaku bermimpi padahal tidak pernah mengalami mimpi itu.

Dari Watsilah bin al-Asqa’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْرَى الفِرَى أَنْ يُرِيَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ

“Sungguh termasuk kedustaan yang paling besar adalah menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami.” (HR. Bukhari 7043 dan Ahmad 16980).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ancaman khusus bagi orang yang mengaku bermimpi, padahal tidak pernah mengalaminya.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ، وَلَنْ يَفْعَلَ

“Siapa yang mengaku bermimpi, padahal dia tidak mengalaminya, maka kelak di hari kiamat dia akan dibebani perintah untuk mengikat 2 biji gandum, dan tidak mungkin bisa melakukannya.” (HR. Bukhari 7042).

Mengapa ancamannya sangat besar?

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip keterangan at-Thabari,

أما الكذب في المنام: فقال فيه الطبري: إنما اشتد فيه الوعيد مع أن الكذب في اليقظة قد يكون أشد مفسدة منه؛ إذ قد تكون شهادة في قتل أو حد أو أخذ مال؛ لأن الكذب في المنام كذب على الله أنه أراه ما لم يره، والكذب على الله أشد من الكذب على المخلوقين

Berdusta menceritakan mimpi, dijelaskan oleh at-Thabari, mengapa dusta dalam hal mimpi ada ancaman besar, padahal dusta terkait kehidupaan riil bisa jadi kerusakannya lebih besar. Karena dusta itu bisa terkait pembunuhan atau mengambil harta orang lain. (jawabannya) karena dusta terkait mimpi adalah kedustaan atas nama Allah, bahwa dia bermimpi sesuatu padahal dia tidak pernah mengalaminya. Sementara berdusta atas nama Allah lebih berat dosanya dibandingkan berdusta atas nama makhluk.

Kemudian at-Thabari melanjutkan,

وإنما كان الكذب في المنام كذبا على الله لحديث الرؤيا جزء من النبوة، وما كان من أجزاء النبوة فهو من قبل الله تعالى

Berdusta terkait mimpi termasuk berdusta atas nama Allah, karena hadis yang menyebutkan bahwa mimpi itu bagian dari nubuwah. Sementara apapun yang merupakan bagian dari nubuwah, berarti itu datang dari Allah. (Fathul Bari, 12/428).

Bagaimana jika tujuannya untuk dakwah?

Dalam islam kita diajarkan bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu hanya berdasarkan niat dan tujuannya. Karena islam untuk menilai cara dan amalnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim 2564, Ibn Majah 4143, dan yang lainnya)

Karena itu, jika ada amal yang tujuannya baik, niatnya baik, namun caranya jelek, tetap dihukumi jelek.

Ingin menyadarkan suami atau istri dan anak-anak agar mau shalat, memang tujuan yang baik. Namun jika ini dilakukan dengan mengaku-ngaku bermimpi padahal itu dusta, jelas ini dilarang dan bahkan dosa besar.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang orang yang mengaku bermimpi mengalami kejadian tertentu, untuk menakut-nakuti suami tentang neraka agar mau shalat.

Jawaban beliau,

الكذب في الحلم حرام، بل من كبائر الذنوب؛ لأن الإنسان إذا كذب في الحلم، أي: قال: إني رأيت في المنام كذا. وهو لم يره، فإنه يعذب يوم القيامة، يكلف بأن يعقد بين شعيرتين وليس بعاقد، ولا يقال: إنه إذا كان هناك مصلحة جاز الكذب؛ لأنه لا يمكن أن يدعى إلى الله بمعصية الله أبدًا، ولكن يكفينا ما في القرآن والسنة من المواعظ

Berdusta tentang mimpi hukumnya haram, bahkan dosa besar. Karena ketika seseorang berdusa tentang mimpinya, dimana dia mengatakan, saya bermimpi seperti ini, padahal dia tidak mengalaminya, maka kelak di hari kiamat dia akan dihukum dengan dibebani perintah untuk mengikat 2 biji gandum, dan tidak mungkin bisa melakukannya. Kita tidak boleh mengatakan, jika di sana ada maslahatnya maka boleh berdusta. Karena selamanya kita tidak mungkin mengajak orang kembali kepada Allah dengan cara bermaksiat kepada Allah. Namun cukup kita nasehati dengan al-Quran dan sunah. (Fatawa Nur ala ad-Darb, volume 9).

Anda bisa ajak keluarga – suami dan anak-anak – untuk ikut kajian sunah. karena ketika manusia memiliki komunitas yang baik, semoga dia bisa ketularan jadi baik.

Demikian.

Semoga bermanfaat..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Syafa’at Beberapa Nabi yang Ditolak oleh Allah
  • 27, Sep 2018

Syafa’at Beberapa Nabi yang Ditolak oleh Allah

By gauri    No comments  

Ilustrasi Istana Alhambra

Syafa’at Beberapa Nabi yang Ditolak oleh Allah

Apa benar, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memohonkan ampun untuk ibunya, lalu Allah melarangnya. Berarti itukan syafaat, kenapa bisa ditolak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Syafa’at secara bahasa berasal dari kata as-Syaf’u [الشفع] yang artinya genap. Allah berfirman,

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ . وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Demi waktu fajar, demi 10 malam, demi yang genap dan yang ganjil. (QS. al-Fajr: 1-3)

Disebut Syafa’at karena dia menggenapkan hak tunggal Allah dalam mengampuni hamba-Nya.

Ilustrasinya,

Satu-satunya Dzat yang berhak mengeluarkan hamba dari neraka menuju surga hanyalah Allah. Namun terkadang Allah memberikan kesempatan bagi sebagian hamba-Nya yang soleh untuk menyelamatkan keluarganya atau temannya atau muridnya, sesuai yang Allah kehendaki. Sehingga, seolah sang hamba menggenapkan hak tunggal Allah dalam menyelamatkan manusia dari neraka.

Sehingga ketika ada orang yang hendak menyelamatkan keluarganya, agar diampuni oleh Allah, berarti dia sedang memberikan syafaat kepadanya.

Ada beberapa nabi yang berusaha menyelamatkan keluarganya yang mati kafir, namun permohonan mereka ditolak oleh Allah. Diantaranya,

[1] Permohonan ampunan nabi Nuh – ‘alaihis salam – untuk putranya.

Allah berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ . قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Hud: 45-46).

Nuh sangat berharap anaknya selamat ketika peristiwa banjir itu. Namun anaknya lebih memilih untuk kafir, tidak mau mengikuti bapaknya. Nabi Nuh ‘alaihis salam sangat berharap anaknya diselamatkan, namun Allah memutuskan anaknya ditenggelamkan.

[2] Permohonan ampunan Nabi Ibrahim – ‘alaihis salam – untuk ayahnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ ، فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِى فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ . فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ ، إِنَّكَ وَعَدْتَنِى أَنْ لاَ تُخْزِيَنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، فَأَىُّ خِزْىٍ أَخْزَى مِنْ أَبِى الأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّى حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ، ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ ، فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ

Ibrahim bertemu ayahnya Azar di hari kiamat. Di wajahnya Azar ada kotoran dan berdebu. Ibrahim mengatakan kepada Azar,

“Bukankah aku telah katakan kepadamu, jangan mengingkariku!”

“Mulai hari ini, saya tidak akan mengingkarimu..” jawab ayahnya.

Lalu Ibrahim mengatakan,

“Wahai Rabku, Engkau telah memberi janji kepadaku, bahwa Engkau tidak akan membuatku sedih di hari kiamat. Kesedihan mana lagi yang lebih berat, dibandingkan kesedihan karena ayahnya dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Kemudian Allah menjawab,

“Sesungguhnya Aku haramkan surga bagi orang kafir.” (HR. Bukhari 3350).

Ibrahim sangat berharap ayahnya masuk islam. Namun ayahnya tetap berpihak pada agama paganis, sehingga dia mati kafir. Ibrahim mencintai ayahnya, dan berharap ayahnya bisa diampuni. Namun Allah menolak harapan Ibrahim untuk membela ayahnya, karena dia mati kafir.

Allah menceritakan harapan Ibrahim,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (QS. al-Mumtahanah: 4)

Termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri pernah meminta izin untuk memohonkan ampunan bagi ibunya, namun Allah tidak mengizinkannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ziarah ke makam ibunya, lalu beliau menangis, hingga menangis pula orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda,

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى

“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan.” (HR. Muslim 108)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena ibunya tidak boleh didoakan agar diampuni. Artinya ibunya mati dalam kondisi kafir. Dan setiap mukmin dilarang memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (Syarh Shahih Muslim, 3/402).

Allah berfirman,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” (QS. At Taubah: 113)

Sehingga kata kunci untuk bisa mendapatkan syafaat para nabi kembali kepada tauhid. Siapa yang tauhidnya benar, dia akan ditolong oleh Allah denga syafaat beliau.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

Siapa orang yang akan berbahagia karena mendapatkan Syafaat anda di hari kiamat?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang meng-ikrarkan ‘Laa ilaaha illallaah ikhlas dari dalam hatinya.’ (HR. Bukhari 6570).

Mari kita berjuang untuk menjadi ahli tauhid, semoga kita mendapat syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang soleh di saat kita membutuhkan pertolongan dari Allah.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Mimisan Membatalkan Shalat?
  • 26, Sep 2018

Mimisan Membatalkan Shalat?

By gauri    No comments  

mimisan ketika shalat
Ilustrasi @mimisan

Hukum Mimisan Ketika Shalat

Apakah mimisan membatalkan shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat, apakah darah mimisan membatalkan wudhu ataukah tidak. As-Syaukani menyebutkan khilaf diantara mereka,

وأما الرعاف فهو ناقض للوضوء، وقد ذهب إلى أن الدم من نواقض الوضوء القاسمية وأبو حنيفة وأبو يوسف ومحمد وأحمد بن حنبل وإسحاق وقيدوه بالسيلان

Mimisan itu membatalkan wudhu. Yang berpendapat bahwa semua darah membatalkan wudhu adalah al-Qasimiyah, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rahuyah. Hanya saja mereka memberikan batasan, mimisan membatalkan wudhu jika darahnya mengalir.

Kemudian As-Syaukani menyebutkan pendapat kedua,

وذهب ابن عباس والناصر ومالك والشافعي وابن أبي أوفى وأبو هريرة وجابر بن زيد وابن المسيب ومكحول وربيعة إلى أنه غير ناقض

Sementara Ibnu Abbas, an_Nashir, Malik, Syafii, Ibnu Abi Aufa, Abu Hurairah, Jabir bin Zaid, Ibnul Musayib, Makhul, dan Rabi’ah mereka semua berpendapat bahwa darah tidak membatalkan wudhu. (Nailul Authar, 1/238).

Dan pendapat yang lebih kuat, sebatas mimisan tidak membatalkan wudhu maupun shalat.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang mimisan, apakah membatalkan wudhu.

Jawab beliau,

الرعاف ليس بناقض للوضوء سواء كان كثيراً أم قليلاً، وكذلك جميع ما يخرج من البدن من غير السبيلين فإنه لا ينقض الوضوء، مثل القيء، والمادة التي تكون في الجروح فإنه لا ينقض الوضوء سواء كان قليلاً أم كثيراً

Mimisan tidak membatalkan wudhu, baik banyak maupun sedikit. Demikian pula semua yang keluar dari badan dari selain 2 jalan kemaluan, tidak membatalkan wudhu. Seperti muntah, atau zat yang keluar dari luka, tidak membatalkan wudhu, baik sedikit maupun banyak.

Beliau melanjutkan,

ولكن إذا كان يزعجك في صلاتك ولم تتمكن من إتمامها بخشوع فلا حرج عليك أن تخرج من الصلاة حينئذ، وكذلك لو خشيت أن تلوث المسجد إذا كنت تصلي في المسجد فإنه يجب عليك الانصراف لئلا تلوث المسجد بهذا الدم الذي يخرج منك

Hanya saja, jika mimisan ini mengganggu anda dalam shalat, dan tidak memungkinkan bagi anda untuk menyelesaikan shalat dengan khusyu, maka tidak masalah ketika itu kamu membatalkan shalat. Demikian pula jika anda khawatir akan mengotori masjid – jika anda shalat di masjid, maka wajib bagi anda untuk membatalkan shalat, agar tidak mengotori masjid dengan darah yang keluar. (Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 12 – Bab Menjauhi Najis)

Fatwa yang lain disampaikan Imam Ibnu Baz. Beliau menjelaskan tentang mimisan ketika shalat,

إذا كان يسيرًا يواصل الصلاة لا ينقض الوضوء، أما إن كثر فالأفضل قطع الصلاة؛ لأن جمع من أهل العلم يراه ينقض الوضوء، فيقطعها ويتنظف

Jika mimisan itu sedikit, tetap lanjutkan shalat dan wudhu tidak batal. Namun jika darah mimisan yang keluar banyak, yang afdhal batalkan shalat. Karena sebagian ulama menilai batal wudhu, sehingga dia harus membatalkan shalat dan membersihkannya. (Fatawa Ibnu Baz no. 16499)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Melihat Malaikat Menjelang Kematian
  • 25, Sep 2018

Melihat Malaikat Menjelang Kematian

By gauri    No comments  

melihat malaikat menjelang kematian
Ilustrasi Lighting @unsplash

Melihat Malaikat Menjelang Kematian

Benarkah orang yang hendak mati dia bisa melihat malaikat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah berfirman di surat al-Furqan,

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا

Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa.” (QS. al-Furqan: 22)

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan, ada 2 tafsir mengenai makna ‘mereka melihat malaikat

[1] Bahwa mereka melihat malaikat menjelang kematian

[2] Bahwa mereka melihat malaikat pada hari kiamat.

Ibnu Katsir mengatakan,

بَلْ يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لَهُمْ ، وَذَلِكَ يَصْدُق عَلَى وَقْتِ الِاحْتِضَارِ حِينَ تُبَشِّرُهُمُ الْمَلَائِكَةُ بِالنَّارِ ، وَغَضَبِ الْجَبَّار… وَهَذَا بِخِلَافِ حَالِ الْمُؤْمِنِينَ فِي وَقْتِ احْتِضَارِهِمْ ، فَإِنَّهُمْ يُبَشَّرُونَ بِالْخَيْرَاتِ ، وَحُصُولِ الْمَسَرَّاتِ

“Tetapi mereka melihat malaikat, dan tidak ada kabar gembira bagi mereka. Dan itu tepat ketika kejadian ini dipahami pada waktu menjelang kematian, pada saat malaikat memberi ancaman mereka dengan neraka dan murka Allah… dan ini berbeda dengan kondisi mukmin ketika menjelang kematiannya, mereka mendapatkan kabar gembira dengan kebaikan, dan akan mendapatkan kesenangan.”

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan pendapat kedua,

وَقَالَ آخَرُونَ: بَلِ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ : ( يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلائِكَةَ ) يَعْنِي : يَوْمَ الْقِيَامَة . قَالَهُ مُجَاهِد ، وَالضَّحَّاكُ ؛ وَغَيْرُهُمَا .

Sementara ulama lainnya mengatakan, bahwa maksud ayat, ‘mereka melihat malaikat’ adalah pada hari kiamat. Ini pendapat Mujahid, ad-Dhahhak, dan yang lainnya.

Kemudian beliau berkomentar,

وَلَا مُنَافَاةَ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ مَا تَقَدَّمَ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ فِي هَذَيْنَ الْيَوْمَيْنِ يَوْمِ الْمَمَاتِ وَيَوْمِ الْمَعَادِ تَتَجَلَّى لِلْمُؤْمِنِينَ وَلِلْكَافِرِينَ، فَتُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَتُخْبِرُ الْكَافِرِينَ بِالْخَيْبَةِ وَالْخُسْرَانِ، فَلَا بُشْرَى يَوْمئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ

Dan pendapat kedua ini tidak bertentangan dengan pendapat sebelumnya. Karena para malaikat di dua hari tersebut, hari kematian dan hari kebangkitan, mereka menampakkan diri kepada orang mukmin dan orang kafir. Lalu mereka memberikan kabar gembira berupa rahmat dan ridha bagi kaum mukminin. Dan mereka memberitakan kepada orang kafir dengan kecelakaan dan kerugian. Tidak ada kabar gembira bagi orang yang rajin berbuat dosa ketika itu. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/101-102)

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Katsir mengisyaratkan bahwa menjelang kematian, terkadang manusia melihat malaikat.

Kemudian, disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ شَهِدَتْهُ الْمَلَائِكَةُ فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَبَشَّرُوهُ بِالْجَنَّةِ

Sesungguhnya ketika hamba mukmin pada waktu menjelang kematiannya, akan disaksikan malaikat, dan mereka akan memberi salam kepada hamba yang mukmin, dan memberikan kabar gembira dengan surga. (Tafsir at-Thabari, 13/664).

Malaikat memberi salam kepada hamba mukmin menjelang kematiannya.

Apakah hamba mukmin ini akan menjawabnya?

Ibnul Qoyim menyebutkan dalam kitabnya ar-Ruh,

وقد سُمع بعض المحتضرين يقول : أهلا وسهلا ومرحبا بهذه الوجوه .

وأخبرني شيخنا عن بعض المحتضرين ، فلا أدرى أشاهده أم أخبر عنه ؟ أنه سُمع وهو يقول : عليك السلام ها هنا فاجلس ، وعليك السلام ها هنا فاجلس ….

Dan terkarang bisa didengar kalimat yang diucapkan oleh orang yang hendak mati, ‘Selamat datang (ahlan wa sahlan wa marhaban) wajah-wajah baru…’

Guru kami menceritakan kepadaku mengenai peristiwa yang terjadi pada sebagian orang menjelang kematiannya, saya tidak tahu apakah beliau menyaksikannya langsung atau hanya menukil berita, bahwa didengarkan suara orang yang hendak mati ini mengatakan, “’Alaikas salam, silahkan duduk di sini… wa ’alaikas salam, silahkan duduk di sini…” (ar-Ruh, hlm. 64).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Alam Sadar
  • 24, Sep 2018

Bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Alam Sadar

By gauri    No comments  

mengaku bertemu nabi di alam sadar bukan mimpi
Ilustrasi Aurora @Unsplash

Bertemu Nabi Secara Langsung Di Alam Sadar?

Bisakah orang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi sadar? Seperti pengakuan UYM, bagaimana kita menyikapinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagi sebagian orang, cerita mimpi bisa menaikkan derajat atau menjatuhkan derajat. Karena itu, terkadang ada beberapa orang sufi yang mengaku ketemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun kita tidak tahu nilai kebenarannya. Bisa saja orang berdusta terkait mimpinya, hanya agar posisinya semakin diakui masyarakat. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman keras bagi orang yang mengaku bermimpi sesuatu secara dusta, yang dia tidak pernah mengalaminya.

Dari Watsilah bin al-Asqa’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْرَى الفِرَى أَنْ يُرِيَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ

“Sungguh termasuk kedustaan yang paling besar adalah menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami.” (HR. Bukhari 7043 dan Ahmad 16980).

Dalam riwayat lain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ، وَلَنْ يَفْعَلَ

Siapa yang mengaku bermimpi, padahal dia tidak mengalaminya, maka kelak di hari kiamat dia akan dibebani perintah untuk mengikat 2 biji gandum, dan tidak mungkin bisa melakukannya. (HR. Bukhari 7042).

Mimpi Bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para ulama sepakat bahwa manusia mungkin saja mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atas diriku secara sengaja maka hendaknya dia mengambil tempat duduk dalam neraka.”(HR. Bukhâri 110)

Dan penting untuk diperhatikan, untuk bisa membuktikan kebenaran mimpi itu adalah yang bersangkutan harus mengetahui ciri fisik Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang ulama tabi’in, Ayyub as-Sikhtiyani menceritakan,

كان محمد -يعني ابن سيرين – إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم قال: صف لي الذي رأيته ، فإن وصفه له صفة لا يعرفها ، قال لم تره

Apabila ada orang yang mengaku mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Muhammad bin Sirin, maka beliau meminta, “Ceritakan kepadaku, bagaimana ciri-ciri orang yang kamu lihat.” Jika orang ini menyebutkan ciri-ciri yang tidak beliau kenal, maka Ibnu Sirin akan mengatakan, “Kamu tidak bertemu nabi.” (Fathul Bari, 12/384).

Sekali lagi, pertemuan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini hanya berlaku dalam mimpi.

Bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Kondisi Sadar?

Yusuf Mansur bukan orang yang pertama mengaku seperti ini. Dulu sudah ada orang yang mengaku seperti ini. Terutama orang-orang sufi. Dan ini sudah diingkari oleh beberapa ulama, diantaranya al-Hafidz Ibnu Hajar dan as-Sakhawi.

Al-Hafidz menyebutkan dalam Fathul Bari,

أن ابن أبى جمرة نقل عن جماعة من المتصوفة أنهم رأوا النبي في المنام ثم رأوه بعد ذلك في اليقظة

Bahwa Ibnu Abi Hamzah pernah menyebutkan dari beberapa orang sufi bahwa mereka melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, kemudian setelah itu mereka melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi sadar (di luar mimpi).

Kemudian dikomentari oleh al-Hafidz Ibnu Hajar,

وهذا مشكل جدًا ولو حُمِل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة ويعكر عليه أن جمعًا جمًا رأوه في المنام ، ثم لم يذكر واحد منهم أنه رآه في اليقظة

Ini pemahaman sangat bermasalah, jika hadis itu dipahami sebagaimana dzahirnya (bahwa orang bisa bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di luar mimpi) tentu mereka semua menjadi sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mungkin saja masa sahabat itu terus berlangsung sampai hari kiamat. Dan ini terbantahkan dengan adanya banyak orang yang bermimpi ketemu beliau, namun tidak ada satupun diantara mereka bahwa dirinya melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di alam sadar. (Fathul Bari, 12/385).

Subhanallah… seperti itulah komentar orang yang berilmu.. sederhana, namun mengena… andai klaim Yusuf Mansur ini benar, bahwa dia bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur atau ketika di mobil, berarti Yusuf Mansur adalah sahabat. Karena definisi sahabat adalah orang yang bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi beriman kepada beliau dan mati sebagai muslim.

Selanjutnya kita akan melihat keterangan as-Sakhawi.

Dinukil oleh al-Qasthalani pernyataan as-Sakhawi dalam buku beliau terkait perkara laduni,

لم يصل إلينا ذلك ـ أي ادعاء وقوعها ـ عن أحد من الصحابة ولا عمن بعدهم وقد اشتد حزن فاطمة عليه‏ صلى الله عليه وسلم حتى ماتت كمدًا بعده بستة أشهر على الصحيح وبيتُها مجاور لضريحه الشريف ولم تنقل عنها رؤيته في المدة التي تأخرتها عنه

Belum pernah sampai kepada kami pengakuan seperti itu dari para sahabat atau para ulama generasi setelahnya. Fatimah mengalami kesedihan luar biasa dengan wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai Fatimah meninggal disebabkan kamdan (menahan kesedihan) setelah berlalu waktu 6 bulan pasca-wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal rumah beliau bertetangga dengan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dan tidak dinukil dari Fatimah bahwa beliau melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidup beliau setelah wafatnya ayahnya. (al-Mawahib al-Laduniyah, 2/371)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

🌐 https://konsultasisyariah.com/
✅ https://telegram.me/KonsultasiSyariah
🌐 Twitter: https://twitter.com/Kons_Syariah
📱Download aplikasi KonsultasiSyariah di Android https://goo.gl/Jja8Ee


Source link

Jangan Letakkan Apapun diatas Mushaf al-Quran
  • 22, Sep 2018

Jangan Letakkan Apapun diatas Mushaf al-Quran

By gauri    No comments  

Hukum Meletakkan Benda diatas Mushaf al-Quran

Benarkah kita dilarang meletakkan benda apapun di atas mushaf?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Para ulama sepakat bahwa setiap muslim wajib menghormati dan memuliakan mushaf al-Quran. Dan ini bagian dari mengagungkan syiar agama Allah.

Allah berfirman,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj: 32)

Diantara bentuk memuliakan mushaf itu adalah memposisikan mushaf selalu di atas. Berikut rincian dan sekaligus keterangan para ulama tentang itu,

[1] Meletakkan mushaf di atas mushaf

Para ulama membolehkan meletakkan mushaf al-Quran di atas mushaf al-Quran.

Al-Haitami mengatakan,

يجوز وضع مصحف على مصحف

“Boleh meletakkan mushaf di atas mushaf.” (al-Fatawa al-Haditsiyah, hlm. 164).

Di tempat yang lain, al-Haitami mengatakan,

والأولى أن لا يجعل فوق المصحف غير مثله من نحو كتاب أو ثوب وألحق به الحليمي جوامع السنن أيضا

Selayaknya tidak meletakkan apapun di atas mushaf selain mushaf, seperti kitab atau baju. Al-Halimi dalam hal ini juga memasukkan kitab-kitab hadis (selayaknya tidak diletakkan di atas mushaf). (al-Fatawa al-Haditsiyah, hlm. 164)

[2] Meletakkan benda lain selain mushaf, di atas mushaf

Para ulama melarang hal ini, dan menyarankan agar tidak meletakkan benda apapun di atas mushaf selain mushaf.

Hakim at-Turmudzi mengatakan,

ومن حرمته – يعني المصحف – إذا وضع أن لا يتركه منشورا ، وأن لا يضع فوقه شيئا من الكتب ، حتى يكون أبدا عاليا على سائر الكتب

Bagian dari kehormatan mushaf, ketika diletakkan, jangan dibiarkan berserakan. Dan jangan meletakkan kitab apapun di atasnya, sehingga Mushaf al-Quran selalu berada di atas semua kitab. (Nawadir al-Ushul, 3/254).

Keterangan lain disampaikan al-Baihaqi,

أن لا يحمل على المصحف كتاب آخر ولا ثوب ولا شيء إلا أن يكون مصحفان فيوضع أحدهما فوق الآخر فيجوز

Jangan meletakkan kitab lain, atau pakaian, atau apapun di atas mushaf. Kecuali jika 2 mushaf, boleh diletakkan dengan cara ditumpuk. (Syu’abul Iman, 3/329).

Demikian, Allah a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Artikel Seputar Puasa Asyura yang Perlu Anda Tahu
  • 19, Sep 2018

Artikel Seputar Puasa Asyura yang Perlu Anda Tahu

By gauri    No comments  

artikel puasa asyura dan muharram
lamp unsplash

Puasa Asyura yang Perlu Kita Tahu

Memasuki tahun baru hijriyah tentu tidak lepas dengan bulan pertama Muharram. Didalam bulan Muharram ada sebuah amalan yang banyak dilakukan kaum muslimin yaitu Puasa Asyura. Karena sangat istimewanya peristiwa ini, tentu saja mereka membutuhkan informasi-informasi shahih seputar puasa Asyura.

Begitu spesialnya hari Asyura, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berpuasa sunnah. Dari Ibnu Abbbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ

Saya belum pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap puasa di satu hari yang beliau istimewakan, melebihi hari asyura, dan puasa di bulan ini, yaitu Ramadhan. (HR. Ahmad 3539 & Bukhari 2006)

Baik, pembaca yang budiman berikut ini artikel-artikel seputar Puasa Asyura:

1. Sejarah Puasa Asyura

Ternyata perintah puasa Asyura mempunyai periode sejarah. Sebelumnya puasa Asyura dilakukan oleh kaum musyrikin mekah, dan Nabipun ikut berpuasa. Kemudian ketika beliau dan kaum muslimin hijrah ke Madinah, Nabipun mendapati kaum Yahudi berpuasa, dan pada waktu itu puasa asyura hukumnya wajib sebelum adanya perintah puasa Ramadhan.  Kemudian turun perintah wajibnya puasa Ramadhan, maka puasa Asyura menjadi sunnah (anjuran). Lalu ketika menjelang akhir hayat Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Artikel lebih lengkap bisa Anda baca:Sejarah Puasa Asyura Bulan Muharram

2. Tingkatan Puasa Asyura dan Hukum Puasa Pada Tanggal 9, 10, 11 Muharram

Beberapa ulama menjelaskan cara puasa sunnah dibulan Muharram. Ibnul Qayyim rahimahullah berpendapat bahwasanya diperintahkan puasa pada tanggal 9, 10, 11 Muharram. Namun sebagian ulama mengingkari hukum puasa pada tanggal 11 muharram, sehingga yang ulama lainnya hanya membolehkan puasa pada Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Lalu bagaimanakah pendapat yang tepat dalam masalah ini? Baca:Tiga Tingkatan Puasa Asyura

3. Adakah Nabi Memerintahkan Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura?

Pembaca budiman, sebagian masyarakat melakukan amalan ini karena termotivasi oleh sebuah riwayat dalam kitab tanbihul ghafilin:

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.

Namun dalam kenyataannya riwayat tersebut palsu, bahkan sebagian ulama hadis mengatakan ada perawi yang tertuduh berdusta. Simak artikel lengkapnya di: Benarkah Nabi Memerintahkan Menyantuni Anak Yatim di Hari Asyura?

4. Hari Asyura dan Tragedi Karbala

Bertepatan pada tanggal 10 Muharram cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein radhiallahu ‘anhu, syahid di Karbala. Setelah meninggalnya beliau, muncul kelompok sesat yaitu Syiah dan Nashibah.

Bahkan sejarah meninggalnya Husein radhiallahu ‘anhu dipelintir oleh kaum syiah, sehingga kaum muslimin tertipu dengan propagannya. Dan artikel ini wajib Anda baca untuk mengetahui sejarah Tragedi Karbala yang shahih: Tragedi Karbala di Hari Asyura

5. Sedih Tidak Bisa Puasa Asyura Karena Sedang Haid

Setiap muslimah yang taat beragama tentu akan bersedih ketika dia tidak mampu beribadah karena terhalang kodratnya. Siklus datang bulan, yang terkadang tidak bisa dikendalikan.

Namun tahukah anda, sejatinya di sana ada amal hati yang memberi peluang bagi muslimah untuk mendulang pahala. Amal itu adalah ridha terhadap ketetapan Allah. Ketika anda merasa sedih karena terhalang untuk bisa menjalani ibadah bersama yang lain, kemudian anda bersabar dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal anda. Bagaimanakah tinjauan syar’i permasalahan ini? Simak lebih lengkap pada artikel: Wanita Haid, Tetap Dapat Pahala Puasa Asyura

Demikian kumpulan artikel seputar puasa Asyura, semoga bermanfaat.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Gunakan yufid.com mesin pencarian Islam, jangan sampai Anda tersesat di google
📝📝
🌐 https://konsultasisyariah.com/
✅ https://telegram.me/KonsultasiSyariah
🌐 Twitter: https://twitter.com/Kons_Syariah
📱Download aplikasi KonsultasiSyariah di Android https://goo.gl/Jja8Ee


Source link

Percobaan Akad Nikah, Ternyata Sah
  • 18, Sep 2018

Percobaan Akad Nikah, Ternyata Sah

By gauri    No comments  

nikah kua
Sumber gambar: kalteng.kemenag.go.id

Latihan Akad Nikah, Ternyata Sah

Mau tanya mengenai percobaan akad nikah. apakah pernikahan itu sah ketika penghulu mengucapkan “percobaan” di awal pada ijab kabul yang dilakukan antara wali nikah dan pengantin pria?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ

Ada 3 hal, seriusnya dianggap serius, main-main-nya juga dianggap serius: nikah, talak, dan rujuk. (HR. Abu Daud 2196, Turmudzi 1184, dan dihasankan al-Albani).

Berdasarkan hadis ini, main-main dalam akad nikah statusnya sah. Artinya, yang diakui dalam hal ini adalah ucapan lisannya dan bukan kondisi batinnya.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإذا عقد النكاح هازلا أو تلجئة صح لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال‏:‏ ‏(‏‏(‏ ثلاث هزلهن جد‏,‏ وجدهن جد الطلاق والنكاح والرجعة ‏)‏‏)‏ رواه الترمذي وعن الحسن قال‏:‏ قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-‏:‏ ‏(‏‏(‏ من نكح لاعبا‏,‏ أو طلق لاعبا أو أعتق لاعبا جاز ‏)‏‏)‏ وقال عمر أربع جائزات إذا تكلم بهن الطلاق‏,‏ والنكاح والعتاق والنذر وقال على أربع لا لعب فيهن‏:‏ الطلاق‏,‏ والعتاق والنكاح والنذر‏

Jika ada orang yang melakukan akad nikah dengan main-main atau karena terpaksa, status akadnya sah. karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada 3 hal, seriusnya dianggap serius, main-main-nya juga dianggap serius: nikah, talak, dan rujuk.” Riwayat Turmudzi. Dan juga diriwayatkan dari al-Hasan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang nikah main-main, atau menceraikan istrinya main-main, atau membebaskan budaknya main-main, maka itu sah.”

Umar mengatakan, “Ada 4 hal yang sah ketika sudah diucapkan: talak, nikah, membebaskan budak, dan nadzar. Dan ada 4 hal yang tidak ada istilah main-main di sana: talak, membebaskan budak, nikah, dan nadzar.” (al-Mughni, 7/428).

Karena itu, sekalipun akad nikah dilakukan percobaan, selama memenuhi persyaratan sebagai akad nikah yang sah, dalam arti dilakukan oleh wali, ada saksi..

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Qadha Puasa Asyura karena Haid?
  • 17, Sep 2018

Qadha Puasa Asyura karena Haid?

By gauri    No comments  

Qadha Puasa Asyura karena Haid
Ilustrasi : Moon wallpaper @unsplash

Qadha Puasa Asyura karena Haid?

Apakah wanita haid yang tidak bisa puasa Asyura bisa meng-qadha’nya setelah suci? Karena berharap ingin mendapatkan pahala puasa di hari Asyura.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang tidak bisa puasa asyura disebabkan udzur tertentu, tidak perlu meng-qadha’nya. Mengingat tidak ada dalil yang menjelaskan hal ini. Dan pahala puasa Asyura itu dikaitkan dengan kegiatan puasa di tanggal 10 Muharram saja.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya, ada orang yang tidak bisa menjalankan puasa Asyura disebabkan haid, apakah dia boleh meng-qadha’nya?

Jawaban yang beliau sampaikan,

النوافل نوعان : نوع له سبب ، ونوع لا سبب له ، فالذي له سبب يفوت بفوات السبب ولا يُقضى ، مثال ذلك : تحية المسجد ، لو جاء الرجل وجلس ، ثم طال جلوسه ثم أراد أن يأتي بتحية المسجد ، لم تكن تحية للمسجد ، لأنها صلاة ذات سبب ، مربوطة بسبب ، فإذا فات فاتت المشروعية

Amalan sunah itu ada 2: [1] Amalan sunah yang memiliki sebab, dan [2] Amalan sunah yang tidak memiliki sebab. Untuk amalan sunah yang memiliki sebab, menjadi hilang kesempatannya dengan hilangnya sebab, dan tidak perlu di-qadha. Contoh, tahiyatul masjid. Ketika ada orang datang lalu duduk lama sekali, kemudian dia ingin melakukan tahiyatul masjid, maka shalatnya tidak terhitung sebagai tahiyatul masjid. Karena tahiyatul masjid adalah shalat yang memiliki sebab, terikat dengan sebab tertentu. Ketika sebabnya hilang, maka tidak disyariatkan melakukannya.

Kemudian beliau melanjutkan,

ومثل ذلك فيما يظهر يوم عرفة ويوم عاشوراء ، فإذا أخر الإنسان صوم يوم عرفة ويوم عاشوراء بلا عذر ، فلا شك أنه لا يقضي ، ولا ينتفع به لو قضاه ، أي لا ينتفع به على أنه يوم عرفة ويوم عاشوراء .

Contoh yang lain – menurut yang kita pahami – adalah puasa hari arafah dan hari Asyura’. Ketika seseorang menunda puasa hari Arafah dan hari Asyura tanpa udzur, kita semua tahu, dia tidak boleh meng-qadha’nya. Dan tidak ada manfaatnya andai dia meng-qadha’nya. Artinya tidak dinilai sebagai puasa hari Arafah atau hari Asyura.

Beliau juga mengatakan,

وأما إذا مر على الإنسان وهو معذور ، كالمرأة الحائض والنفساء أو المريض ، فالظاهر أيضاً أنه لا يقضي ؛ لأن هذا خص بيوم معين يفوت حكمه بفوات هذا اليوم

Sementara ketika ada orang yang memiliki udzur, seperti wanita haid atau nifas atau karena sakit, yang kami pahami, dia juga tidak perlu meng-qadha’. Karena puasa ini khusus dengan hari tertentu, sehingga hukumnya tidak berlaku ketika hari tersebut sudah berlalu. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/43).

Tetap Memiliki Pahala jika Diiringi dengan Niat

Orang yang memiliki rutinitas amal tertentu, kemudian dia tidak bisa mengerjakannya disebabkan udzur, seperti sakit, haid, atau nifas, dan dia berniat untuk tetap menjalankan amal itu andai tidak ada udzur, maka dia tetap mendapatkan pahala sesuai amal yang dia niatkan.

Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Ketika seorang hamba mengalami sakit atau safar, maka dicatat untuknya pahala amalan seperti yang dia kerjakan ketika mukim dan sehat.” (HR. Bukhari 2996).

al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan,

قَوْله : ( كُتِبَ لَهُ مِثْل مَا كَانَ يَعْمَل مُقِيمًا صَحِيحًا ) وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فمُنِع مِنْهَا ، وَكَانَتْ نِيَّته ـ لَوْلَا الْمَانِع ـ أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis di atas, “dicatat untuknya pahala amalan seperti yang dia kerjakan ketika mukim dan sehat” ini berlaku bagi orang yang memiliki kebiasaan amal soleh, lalu dia terhalangi untuk melakukannya. Sementara niatnya ingin terus mengerjakannya – andai tidak ada penghalang..

(Fathul Bari, 6/136)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

www.000webhost.com