Browsing Month: February 2019

Nabi ini Memiliki 100 Istri dan Hikmahnya
  • 28, Feb 2019

Nabi ini Memiliki 100 Istri dan Hikmahnya

By gauri    No comments  

kisah nabi sulaiman dan istrinya
Ilustrasi @unsplash free images

Nabi ini Memiliki 100 Istri dan Hikmahnya

Benarkah Nabi Sulaiman memiliki 100 istri? Lalu apa hikmahnya jumlah istrinya banyak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengenai jumlah istri Nabi Sulaiman ‘alaihis salam disebutkan dalam beberapa hadis shahih. Diantaranya, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabiﷺ bersabda,

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ بِمِائَةِ امْرَأَةٍ، تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ “، قَالَ: ” وَنَسِيَ أَنْ يَقُولَ: إِنْ شَاءَ اللهُ، فَأَطَافَ بِهِنَّ “، قَالَ: ” فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ “، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَوْ قَالَ: إِنْ شَاءَ اللهُ، لَمْ يَحْنَثْ، وَكَانَ دَرَكًا لِحَاجَتِهِ

Sulaiman bin Daud pernah mengatakan, ‘Saya akan menggilir 100 istri se-malam ini, masing-masing istri akan melahirkan anak lelaki, yang nanti akan berjihad di jalan Allah.’ Namun Sulaiman lupa untuk mengucapkan ‘InsyaaAllah’. Lalu Sulaiman menggilir seluruh istrinya, akan tetapi tidak ada yang melahirkan anak, selain satu istri yang melahirkan setengah anak.

Kemudian Rasulullah ﷺ berkomentar, “Andai Sulaiman mengatakan, ‘InsyaaAllah’ maka sumpahnya tidak gagal dan akan mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.” (HR. Ahmad 7715 dan Bukhari 5242).

Yang dimaksud setengah manusia adalah manusia yang tidak normal, lahir cacat.

Juga disebutkan dalam riwayat lain, beliau menggilir 90 istri. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam mengatakan,

قَالَ سُلَيْمَانُ لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِينَ امْرَأَةً ، كُلٌّ تَلِدُ غُلاَمًا يُقَاتِلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ…

Sulaiman mengatakan, di malam ini saya akan menggilir 90 istri, masing-masing akan melahirkan anak lelaki yang bisa berjihad di jalan Allah… (HR. Bukhari 6720 & Muslim 4379).

Ada juga yang menyebutkan 70 istri. Mengenai riwayat-riwayat yang menyebutkan adanya perbedaan angka, bagaimana komprominya?

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perbedaan dalam penyebutan jumlah istri Sulaiman tidak saling bertentangan. Karena penyebutan angka terkadang dalam rangka penggenapan. Seperti penyebutan angka seratus. (Fathul Bari, 6/460).

Hikmah di Balik Jumlah Istri Sulaiman

Allah Ta’ala memberikan kelebihan kepada sebagian hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Ada yang diberi kerajaan yang besar, ada yang diberi harta yang banyak, ada yang diberi kenikmatan melimpah, sesuai yang Dia kehendaki. Allah berfirman,

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Itulah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar. (QS. al-Jumu’ah: 4).

Dan semua ini Allah berikan sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya. Dia berbuat sesuai yang Dia kehendaki, dan tidak ditanya tantang apa yang Dia lakukan. Allah berfirman,

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, namun merekalah yang akan ditanya. (QS. al-Anbiya: 23).

Allah berikan kepada Sulaiman beberapa kelebihan dalam urusan dunia,

[1] Kekuasaannya mencakup jin dan binatang, sehingga, tidak ada orang setelahnya yang bisa menyamainya

[2] Kendaraan berupa angin yang mengarah sesuai yang dia kehendaki

[3] Kekuasaan yang sangat luas

Allah ceritakan dalam al-Quran,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ . وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ . وَآَخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, ( ) dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. (QS. Shad: 35-38).

Sehingga tidak heran jika beliau juga diberi kekuatan melebihi umumnya lelaki, dengan memiliki istri dengan jumlah yang banyak. Dan tentu saja ini tidak mengurangi kehormatan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Dengan semangatnya yang tinggi, beliau berharap bisa memiliki 100 anak lelaki dalam waktu semalam, agar bisa menjadi pasaukan yang berjihad di jalan Allah.

Dan ini sebagai tantangan bagi orang kafir, tunjukkan, dimana ada orang kafir yang kekuasaannya paling luas, paling besar, paling kaya?

Karena kekuasaan terhebat, Allah berikan kepada seorang mukmin. Allah berfirman,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. al-Anbiya: 105)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Bolehkah Istri Menolak Ajakan Suami karena Tidak Ada Air?
  • 27, Feb 2019

Bolehkah Istri Menolak Ajakan Suami karena Tidak Ada Air?

By gauri    No comments  

istri menolak ajakan suami
Ilustrasi @unsplash

Bolehkah Istri Menolak Ajakan Suami karena Tidak Ada Air?

Bolehkah istri menolak ajakan suami untuk berhubungan badan, ketika tidak ada air?..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Tidak ada air, bukan penghalang bagi seseorang untuk menghindari hadats, baik besar maupun kecil. Karena Allah telah memberikan pengganti cara bersuci bagi mereka yang tidak memiliki air atau tidak mampu menggunakan air, yaitu dengan tayamum.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu… (QS. al-Maidah: 6)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan 3 bentuk bersuci,

[1] Wudhu sebagai alat bersuci untuk hadast kecil

[2] Mandi besar sebagai alat bersuci untuk hadast besar

[3] Tayamum sebagai cara bersuci pengganti wudhu dan mandi bagi mereka yang tidak memiliki air, seperti karena safar atau tidak mampu menggunakan air, seperti karena sakit.

Kita tidak pernah diajarkan bahwa seseorang diminta untuk menahan kentut gara-gara tidak memiliki air wudhu. Karena ketika tidak ada air, orang yang mengalami hadats kecil bisa tayamum.

Demikian pula, tidak ada anjuran untuk menghindari hadats besar (hubungan badan), disebabkan tidak ada air. Karena ketika tidak ada air, mandi besar bisa digantikan dengan tayamum.

Di masa silam, tidak semua rumah memiliki kamar mandi. Sehingga mereka hanya bisa mandi di tempat pemandian. Terkadang ada sebagian orang yang tidak memiliki uang untuk biaya masuk ke pemandian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mendapatkan pertanyaan semacam ini.

Pertanyaan,

عن المرأة يجامعها بعلها ولا تتمكن من دخول الحمام لعدم الأجرة وغيرها . فهل لها أن تتيمم ؟ وهل يكره لبعلها مجامعتها والحالة هذه

Tentang wanita yang diajak berhubungan badan suaminya, sementara tidak memungkinkan baginya untuk masuk ke pemandian, karena tidak memiliki uang untuk bayar biaya masuk atau karena sebab yang lain. apakah dimakruhkan bagi suaminya melakukan jimak dengannya dalam kondisi semacam ini?

Jawaban Syaikhul Islam,

الحمد لله ، الجنب سواء كان رجلا أو امرأة فإنه إذا عدم الماء أو خاف الضرر باستعماله فإن كان لا يمكنه دخول الحمام لعدم الأجرة أو لغير ذلك فإنه يصلي بالتيمم؛ ولا يكره للرجل وطء امرأته كذلك بل له أن يطأها كما له أن يطأها في السفر ويصليا بالتيمم

Alhamdulillah,

Orang yang junub, baik lelaki maupun wanita, ketika tidak ada air, atau dikhawatirkan membahayakan dirinya ketika menggunakan air, atau tidak bisa masuk pemandian karena tidak memiliki biaya atau karena sebab lainnya, maka dia bisa shalat dengan tayamum. Demikian pula, tidak dimakruhkan bagi suami untuk mengajak hubungan badan istrinya. Dia boleh melakukan hubungan badan dengan istrinya, sebagaimana boleh bagi suami untuk melakukan hubungan badan ketika safar, dan shalat dengan tayamum. (Majmu’ Fatawa, 21/446)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Mantan Mertua Masih Tetap Mahram Bagi Mantan Menantu?
  • 26, Feb 2019

Mantan Mertua Masih Tetap Mahram Bagi Mantan Menantu?

By gauri    No comments  

mantan mertua dan mantu mahram

Sampai Kapan Menantu Menjadi Mahram Mertuanya?

Kalo sm menantu yg anaknya blm kumpul… Udh mahrom ya? Trus misal kalo blm kumpul mrk cerai… Trus sm mantan menantunya td mahrom gak?

Dari : Ummu Tsaqif, di Salatiga.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah wassholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Menantu merupakan mahram bagi mertuanya. Suami anak adalah mahram untuk ibu mertuanya, demikian pula istri anak adalah mahram untuk ayah mertuanya. Dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمۡ

Diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibu istri kalian (mertua), (QS. An-Nisa’ : 23).

Kapan Mulai Menjadi Mahram?

Para ulama berbeda pendapat apakah mahram harus setelah terjadi jima’ (hubungan badan) atau cukup dengan akad nikah yang sah.

Pendapat yang kuat dalam masalah ini –wallahua’lam– adalah cukup dengan akad yang sah menantu sudah menjadi mahram untuk mertuanya..

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– menerangkan saat menafsirkan ayat di atas,

أما أم المرأة فإنها تحرم بمجرد العقد على ابنتها، سواء دخل بها أو لم يدخل

Ibunya istri (ibu mertua) menjadi mahram cukup dengan berlangsungnya akad nikah atas putrinya. Baik telah berhubungan badan ataupun belum. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/249)

Rincian alasannya adalah sebagai berikut :

Pertama, seorang wanita dikatakan sah sebagai istri cukup dengan akad nikah. Tanpa harus dengan adanya hubungan badan setelah akad.

Karena ayatnya berbunyi,

وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمۡ

Diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibu istri kalian (mertua), (QS. An-Nisa’ : 23).

Nisa’ pada ayat di atas maknanya adalah istri.

Menunjukkan bahwa ibu istri (mertua), menjadi mahram cukup dengan sahnya putrinya menjadi istri. Yaitu dengan akad nikah, karena jima’ (hubungan badan) tidak disyaratkan dalam keabsahan pernikahan.

Kedua, ayat di atas bersifat umum, maka kita pahami apa adanya.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma,

أبهموا ما أبهم القرآن

Samarkanlah hukum yang disamarkan oleh Al-Qur’an.

(Lihat : Al-Mughni, 7/85, dikutip dari https://islamqa.info)

Maksud perkataan beliau adalah, ayat yang bersifat umum dan tidak ditemukan dalil khusus yang memungkinkan dijadikan penjelasnya, maka biarkanlah berlaku umum. Contohnya adalah ayat di atas. Sehingga tidak perlu diperinci kemahraman ibu istri berlaku jika istri sudah di-dukhul (disetubuhi). Karena ayatnya hanya menerangkan ibu istri (mertua) adalah mahram bagi suami anak (menantu), tanpa ada keterangan sudah di-dukhul (disetubuhi) atau belum di-dukhul.

Seperti dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah,

فمن تزوج امرأة حرم عليه كل أُم لها ، قريبة أو بعيدة [يعني الأم والجدة] بمجرد العقد نص عليه أحمد وهو قول أكثر أهل العلم منهم ابن مسعود وابن عمر وجابر وعمران بن حصين وكثير من التابعين وبه يقول مالك والشافعي وأصحاب الرأي….؛ لقول الله تعالى : ( وأمهات نسائكم ) والمعقود عليها من نسائه ، فتدخل أمها في عموم الآية . قال ابن عباس: أبهموا ما أبهم القرآن يعني عمموا حكمها في كل حال ، ولا تفصلوا بين المدخول بها وبين غيرها

“Laki-laki yang menikahi seorang wanita, maka seluruh ibu sang wanita menjadi mahramnya, baik ibu jauh maupun dekat (yakni ibu kandung ataupun nenek), hanya dengan melakukan akad nikah.

Inilah pendapatnya Imam Ahmad dan dipegang oleh mayoritas ulama diantaranya : Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Jabir, Imron bin Hushoin serta banyak ulama di generasi tabi’in. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan Hanafi. Dasarnya adalah firman Allah,

وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمۡ

Diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibu istri kalian (mertua), (QS. An-Nisa’ : 23)

Hanya dengan melakukan akad nikah, wanita sudah sah menjadi istri, (tanpa harus melakukan hubungan badan dulu, pent). Sehingga ibu istri, masuk dalam keumuman ayat (otomatis menjadi mahram bagi menantu, pent).

Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma menjelaskan, “Samarkan kalimat yang disamarkan oleh Al-Qur’an.”

Maksudnya, keumuman hukumnya biarkan berlaku pada setiap keadaan. Jangan diperinci pada wanita yang sudah di-dukhul (hubungan badan) atau yang belum.”

(Al-Mughni, 7/85, dikutip dari https://islamqa.info)

Jika Terjadi Perceraian Apakah Masih Mahram?

Mahram ada dua macam :

1. Mahram sementara (mu-aqqot)

2. Mahram selamanya (mu-abbad)

Mertua tergolong mahram selamanya (mu-abbad). Karena disebut dalam ayat yang menjelaskan tentang mahram di atas (QS. An-Nisa :23). Semua mahram yang disebutkan dalam ayat tersebut, statusnya adalah mahram selamanya. Sehingga meski anaknya sudah cerai, mantan menantunya tetap menjadi mahramnya selamanya.

Dijelaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah no. 26819 :

فلا يجوز للرجل الزواج من أم زوجته بعد طلاق بنتها أو وفاتها؛ لأن أم الزوجة محرمة على زوج ابنتها على التأبيد

Seorang lelaki tidak boleh menikahi ibunya istri meski setelah menceraikan putrinya atau ditinggal mati putrinya yang menjadi istrinya. Karena ibu mertua statusnya mahram selamanya bagi menantu.

Demikian, wallahua’lam bis showab.

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Keseleo dalam Berdoa
  • 25, Feb 2019

Keseleo dalam Berdoa

By gauri    No comments  

keseleo dalam berdoa

Keseleo dalam Berdoa

Jika kita keseleo dalam berdoa apakah akan dikabulkan? Misalnya orang berdoa karena bingung nyusun kalimat, dia mengucapkan ‘Ya Allah, tambahkan utang untukku.’ Padahal maksud dia adalah tambahkan rizkiku agar bisa melunasi utangku. Apakah ini akan dikabulkan, dan bagaimana cara meng-koreksinya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang Allah nilai dari ucapan manusia adalah apa yang sengaja dia lakukan. Sementara ucapan atau perbuatan di luar kesengajaan, tidak dinilai. Dan Allah Maha Mengetahui kondisi batin manusia.

Allah berfirman,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

Tidak ada dosa bagi kalian untuk sesuatu yang keliru ketika melakukannya, namun yang dinilai adalah apa yang disengaja oleh hati kalian. (QS. al-Ahzab: 5)

Sebagaimana ini berlaku dalam ucapan sehari-hari, ini juga berlaku dalam doa. Sehingga ucapan doa yang tidak disengaja, atau keseleo lidah sehingga terucap, tidak ada nilainya.

Syaikhul Islam membahas orang yang menyusun kata-kata rumit dalam berdoa. Beliau mengatakan,

إن أصل الدعاء من القلب واللسان تابع للقلب . ومن جعل همته في الدعاء تقويم لسانه أضعف توجه قلبه ولهذا يدعو المضطر بقلبه دعاء يفتح عليه لا يحضره قبل ذلك وهذا أمر يجده كل مؤمن في قلبه .

Asal doa adalah dari hati, sementara lisan mengikuti hati. Orang yang obsesinya ketika berdoa hanya menyusun kata-kata indah, akan mengurangi ke-khusyu’an doanya. Karena itulah, orang yang dalam kondisi terjepit dia bisa berdoa sangat khusyu dengan kalimat yang Allah ilhamkan kepadanya, yang sebelumnya tidak terfikir untuk mengucapkannya. Dan suasana ini dijumpai seorang muslim dalam batinnya.

Beliau melanjutkan,

والدعاء يجوز بالعربية وبغير العربية والله سبحانه يعلم قصد الداعي ومراده وإن لم يقوم لسانه فإنه يعلم ضجيج الأصوات

Doa bisa dengan bahasa arab dan bisa juga dengan selain bahasa arab. Dan Allah mengetahui maksud orang yang berdoa dan keinginannya, meskipun dia tidak menata kata-kata indah. Karena Dia mengetahui suara yang pelan sekalipun. (Majmu’ Fatawa, 22/489).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

فإن خطأك في الدعاء لا أثر له، فالعبرة بما في قلبك، وأما ما يسبق به لسانك من الخطأ فهو معفو عنه، قال تعالى: وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ {الأحزاب:5}. والله يعلم قصدك ونيتك، ويجيبك بحسب ما وقع في قلبك من الإرادة والقصد

Keliru dalam berdoa tidak memberikan pengaruh sama sekali, karena yang dinilai adalah apa yang disengaja dalam hati. Sementara kesalahan karena sabqul kalam (keseleo lidah), diampuni. Allah berfirman,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ

Tidak ada dosa bagi kalin untuk kekeliruan yang kalian lakukan. (QS. al-Ahzab: 5)

Dan Allah Maha Tahu maksud dan niat anda, dan Dia akan memberikan ijabah sesuai keinginan dan maksud yang ada dalam hati anda. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 337750)

Dan jika doa ini ingin dikoreksi – karena anda merasa doa ini di luar kesengajaan -, maka bisa anda baca secara langsung koreksinya, setelah membaca doa yang keliru tersebut.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Kotoran Kuda Tidak Najis
  • 23, Feb 2019

Kotoran Kuda Tidak Najis

By gauri    No comments  

hukum kotoran kuda tidak najis
Horse wallpaper @unsplash

Benarkah Kotoran Kuda Tidak Najis?

Pernah denger ada ustaz bilang kotoran kuda ngga najis , ini beneran ngga najis ya pak ustaz?

Abdullah, di Bantul.

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, waba’du.

Kuda adalah binatang yang halal dimakan. Dan semua hewan yang halal dimakan, kotorannya tidak najis.

Dalilnya adalah :

Pertama, kaidah fikih yang berbunyi,

الأصل في الأشياء طهارة

Hukum asal segala sesuatu adalah suci.

Berlaku tetap pada kesucian sampai ada dalil yang menerangkan kenajisannya.

Kotoran kuda, dan seluruh hewan yang halal dimakan, tidak ada dalil yang menjelaskan kenajisannya sehingga tetap pada hukum asalnya, yaitu suci.

Kedua, bolehnya berobat dengan air onta

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau bercerita,

قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَوْمٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِلِقَاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا

Sejumlah orang dari suku ‘Uql atau Uranah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun mereka mengalami sakit karena tidak betah di Madinah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk mendatangi kandang unta, dan menyuruh mereka untuk minum air kencing dan susunya. (HR. Bukhari 1501 & Muslim 4447)

Tentu tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan obat dari barang yang najis. Menunjukkan semua binatang yang dagingnya halal dimakan, kotorannya tidak najis.

Ketiga, hadis tentang bolehnya sholat di kandang kambing.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ

Sebelum masjid dibangun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di kandang kambing. (HR. Bukhari 234 dan Muslim 1202).

Dan hadis dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, bolehnya shalat di kandang kambing. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صلوا فيها ، فإنها بركة

Shalatlah kalian di kandang kambing, karena padanya ada barokah. (HR. Muslim).

Sangatlah mustahil Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat yang najis. Ini menunjukkan bahwa kotoran kambing dan semua hewan yang halal dimakan adalah suci.

Keempat, ijma’ (kesepakatan) ulama.

Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir –rahimahullah-,

أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ : أَنَّ سُؤْرَ مَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ طَاهِرٌ ، يَجُوزُ شُرْبُهُ ، وَالتَّطَهُّرُ بِهِ

Para ulama sepakat (ijma’); tidak ada beda pendapat, bahwa kotoran hewan yang halal dimakan adalah suci. Boleh diminum dan digunakan untuk bersuci. (Al-Ausath, 1/159)

Dalil-dalil di atas sangat cukup sebagai bukti bahwa kotoran kuda tidak najis. Sehingga tak perlu ragu meyakini hal ini, selama keyakinan yang kita pegang didukung oleh dalil.

Dan semoga tulisan ini dapat memberikan kabar gembira kepada para pecinta kuda, untuk semakin leluasa berinteraksi dengan kuda-kuda peliharaannya.

Demikian, wallahua’lam bis showab.

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Sejarah Penamaan Surat Dalam Alquran

By gauri    No comments  

Sumber Penamaan Surat Dalam Al Qur’an

Bismillah…

Ada 114 surat dalam Al-Qur’an, dan beberapa diantaranya dikenal namanya melalui hadis-hadis Nabi shallallahu’alaihi, seperti Al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imran, Al Kahfi dan lainnya.

Para ulama berbeda pandangan, apakah penamaan seluruh surat dalam Al-Qur’an bersumber dari Nabi ﷺ (tauqifi) atau sebagiannya bersumber dari pendapat (ijtihad) para sahabat?

Mayoritas ulama lebih condong pada pendapat nama seluruh surat Al Qur’an bersumber dari Nabi ﷺ. Diantara yang memilih pendapat ini adalah Imam At Thobari, Imam Zarkasi, dan Imam Suyuti –rahimahumullah-.

Imam Suyuti –rahimahumullah– menegaskan,

وقد ثبتت جميع أسماء السور بالتوقيف من الأحاديث والآثار ، ولولا خشية الإطالة لبينت ذلك

Seluruh nama surat dalam Al-Qur’an adalah tauqifi bersumber dari hadis-hadis dan riwayat-riwayat Nabi ﷺ. Kalau bukan karena khawatir memperpanjang, tentu akan saya jelaskan hadis-hadis tersebut. (Al-Itqon, hal. 347)

Inilah insyaallah pendapat yang kuat dalam hal ini. Sebagaimana dinilai kuat oleh seorang ahli tafsir Syekh Sulaiman bin Muhammad Al Bujairimi rahimahullah (w.1221 H.),

“أسماء السور بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ؛ لأن أسماء السور وترتيبها وترتيب الآيات كل من هذه الثلاثة بتوقيف من النبيّ صلى الله عليه وسلم ، أخبره جبريل عليه السلام بأنها هكذا في اللوح المحفوظ” انتهى باختصار .

Nama-nama surat dalam Al-Qur’an bersumber dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Karena nama dan urutan surat demikian juga urutan ayat, tiga hal ini semuanya bersumber dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Sebagaimana dikabarkan oleh Jibril alaihassalaam bahwa Al Qur’an yang tersimpan di Lauh Al Mahfudz adalah demikian. (Lihat: Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khotib 2/163, dikutip dari islamqa.info)

Demikian, wallahua’lam bis showab..

***

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Hukum Wudhu Memakai Makeup Waterproof
  • 20, Feb 2019

Hukum Wudhu Memakai Makeup Waterproof

By gauri    No comments  

wudhu memakai makeup waterproof
Ilustrasi @unsplash

Memakai Makeup Waterproof, Sahkah Wudhu?

Apa hukum wanita menggunakan makeup waterproof,sah kah wudhunya?

Dari : Ummu Sarah, di Jogjakarta.

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Membasahi badan yang tergolong anggota wudhu saat berwudhu, adalah kewajiban. Bahkan Rasulullah ﷺ sampai pernah mengancam,

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Celaka atau lembah wail (di neraka jahanam) bagi para pemilik tumit yang tidak terkena air wudhu. Sempurnakan wudhu kalian!” (HR. Muslim)

Saat Nabi melihat seorang sholat dengan kondisi ada bagian anggota wudhu yang tidak terbasahi air, Nabi perintahkan orang tersebut mengulang wudhu dan sholatnya. Khalid bin Mi’dan menceritakan kisah ini yang beliau dapat dari sebagian istri-istri Nabi ﷺ,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلا يصلي وفي ظهر قدمه لمعه قدر الدرهم لم يصبها الماء فأمره رسول الله صلى الله عليه وسلم ” أن يعيد الوضوء “.

”Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang shalat sedangkan di punggung kakinya ada bagian mengkilap karena tidak terbasuh air wudhu, seukuran sekeping dirham. Lalu Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang kembali wudhunya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Sedikit saja bagian wudhu tidak terkena air wudhu, itu dapat membatalkan seluruh basuhan wudhu, sehingga harus mengulang kembali wudhu secara sempurna. Ini menunjukkan pentingnya memastikan semua anggota wudhu terbasahi air wudhu.

Bagaimana dengan Makeup Waterproof?

Secara umum makeup wanita ada dua jenis :

Pertama, memiliki ketebalan dan membentuk lapisan.

Makeup jenis ini, harus dihilangkan sebelum berwudhu. Karena menghalangi sampainya air ke anggota wudhu. Jika tidak dihilangkan, maka wudhu tidak sah, dan terkena ancaman hadis di atas.

Contohnya seperti lipstik, bedak wajah yang tebal dll.

Kedua, tidak memiliki ketebalan dan tidak membentuk lapisan.

Makeup jenis ini tidak harus dihilangkan. Karena tidak mengandung lapisan atau ketebalan, yang menghalangi basahan air wudhu. Contohnya makeup yang hanya berupa warna, seperti celak, pewarna kuku dll.

Syekh Abdulaziz Ibnu Baz-rahimahullah– menerangkan,

إذا كان المكياج له جسم، يمنع الماء، يزال، وإن كان ليس له جسم بل هو مجرد صبغ، لا يكون له جرم، فلا يلزم إزالته، أما إذا كان له جسم يحصل له منع، يعني يمنع الماء، فهذا يجب أن يزال من الوجه، وهكذا من الذراع، إذا كان فيه شيء كالعجين يزال، أما إذا كان الشيء مجرد صبغ ليس له جسم ولا جرم، هذا ما تجب إزالته

Jika make-up memiliki fisik (membentuk lapisan), menghalangi sampainya air ke anggota wudhu, maka harus dihilangkan. Jika tidak memiliki fisik, jadi hanya sebatas warna, tidak memiliki ketebalan, maka tidak harus dihilangkan.
Namun jika make-up memiliki fisik, sehingga dapat menghalangi basahan air wudhu, maka make up seperti ini wajib dihilangkan. Seperti make-up wajah atau lengan, jika mengandung zat lilin (membentuk lapisan), maka harus dihilangkan. Adapun kalau hanya sebatas warna tidak memiliki fisik dan ketebalan, tidak harus dihilangkan…

Simak fatwa beliau dibawah ini:

Dari kedua jenis makeup di atas, makeup waterproof tergolong yang mana?

Dari namanya kita bisa menangkap bahwa salah satu jenis make-up yang sekarang banyak diminati ini, tergolong jenis pertama. Waterproof artinya anti air. Ini jelas menunjukkan memiliki ketebalan dan lapisan. Sehingga harus dihilangkan saat hendak berwudhu.

Demikian, Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Hukum Ruqyah Lewat Whatsapp
  • 19, Feb 2019

Hukum Ruqyah Lewat Whatsapp

By gauri    No comments  

hukum ruqyah dengan whatsapp
Ilustrasi handphone and whatsapp @unsplash

Ruqyah Via Whatsapp?

Ada yg tanya… Di grup wa ada slh seorang member yg sakit.. Trus ada member yg lain meminta utk membacakan surat Alfatihah utk temannya yg sakit td… Apa ini boleh? Apa ini bisa masuk pd keumuman bolehnya meruqyah org sakit dg ayat al Quran?

Dari : Ummu Hanif, di Salatiga.

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah wassholaatu was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, waba’du.

Allah ‘azza wa jalla telah menerangkan bahwa Al-Qur’an dapat menyembuhkan penyakit,

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞ

Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. (QS. Fushilat : 44).

Ada dua tafsiran tentang makna “penyembuh” dalam ayat di atas, dijelaskan oleh Imam Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qodir :

Pertama, penyembuh bagi penyakit hati, seperti kebodohan tentang syariat Allah, keraguan dan lain sebagainya.

Kedua, penyembuh penyakit-penyakit badan, dengan mempergunakan bacaan Qur’an sebagai ruqyah.

Kata Imam Syaukani rahimahullah,

ولا مانع من حمل الشفاء على المعنين

Tidak masalah “penyembuh” yang disinggung dalam ayat dimaknai dua tafsiran ini. (Fathul Qodir, 1/285)

Berkaitan ruqyah via grup WhatsApp, sama kasusnya dengan ruqyah via rekaman Mp3 atau kaset ruqyah. Karena biasanya member di grup WhatsApp saat mengirimkan bacaan Al Fatihah, hanya bisa dengan rekaman audio, seperti halnya rekaman Mp3.

Tentang hukum ruqyah via rekaman, alhamdulillah telah banyak penjelasannya dari para ulama, diantaranya Fatwa Lajnah Da-imah (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) berikut:

تشغيل جهاز التسجيل بالقراءة والأدعية لا يغني عن الرقية ؛ لأن الرقية عمل يحتاج إلى اعتقاد ونية حال أدائها ، ومباشرة للنفث على المريض . والجهاز لا يتأتى منه ذلك . والله أعلم .

“Memperdengarkan bacaan ayat atau doa-doa ruqyah, tidak cukup untuk meruqyah. Karena ruqyah adalah amalan yang butuh keyakinan (tawakal dll), niat saat melakukannya dan interaksi langsung dengan pasien supaya dapat meniupkan ludah (nafs) pada sakit yang dialami pasien. Dan memperdengarkan bacaan ruqyah melalui mp3 tidak bisa melakukan hal-hal seperti ini.”

(Dikutip dari: islamqa.info/amp/ar/answers/11109)

Karena sebenarnya ruqyah adalah salahsatu metode pengobatan. Sebagaimana seorang dokter saat mengobati pasien harus bertatap muka langsung dengan pasien, tidak mungkin menyuntikkan antiseptik misalnya, melalui telepon atau video call sekalipun, demikian pula Ruqyah.

Dalam fatwa yang lain diterangkan,

الرقية لابد أن تكون على المريض مباشرة ، ولا تكون بواسطة مكبر الصوت ولا بواسطة الهاتف ، لان هذا يخالف ما فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم وأتباعهم بإحسان في الرقية ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” . والله اعلم

“Ruqyah harus dilakukan dengan cara interaksi langsung dengan pasien. Tidak bisa melalui pengeras suara atau melalui telepon. Cara meruqyah yang seperti itu tidak sesuai dengan metode ruqyah yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, demikian pula para sahabat beliau dan para tabi’in -semoga Allah meredhoi mereka-. Sementara Nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah mengingatkan, “Siapa yang mengada-ada ajaran baru dalam agama kami ini maka amalan tersebut tertolak.” Wallahua’lam…”

(Dikutip dari islamqa.info/amp/ar/answers/11115 )

Ada solusi bagus yang insyaallah juga bermanfaat kepada orang yang sakit, yaitu dengan doa. Doa bisa dilakukan diamanapun dan kapanpun tidak harus dihadapan orang yang kita doakan.

Demikian, Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah untuk Orang Sakit
  • 18, Feb 2019

Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah untuk Orang Sakit

By gauri    No comments  

kirim al fatihah untuk orang sakit
Ilustrasi

Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah untuk Orang Sakit

Maaf mau nanya… Boleh ngga ya menghadiahkan bacaan alfatihah utk tmn kita yg sakit?

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah wassholaatu was salam ‘ala Rasulillah, waba’du.

Kita lihat kasus ini tergolong ibadah atau mu’amalat (non ibadah)?

Yang tampak dalam pandangan kami –wallahua’lam-, masalah ini termasuk perkara ibadah. Mengingat ini masalah ibadah, maka kaidah yang berlaku adalah :

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan,

لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ

“Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157).

Meskipun para ulama berbeda pendapat berkenaan hukum menghadiahkan pahala kepada orang lain; termasuk dalam hal ini menghadiahkan pahala bacaan Qur’an kepada orang lain. Namun, pendapat yang tampaknya mendekati kebenaran dalam hal ini, adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik -rahimahumallah-, bahwa pahala tidak bisa dihadiahkan kepada orang lain, kecuali yang dijelaskan oleh dalil, seperti sedekah, haji / umrah dan doa. (Lihat : Az-Ziyadatu wal Ihsan fi ‘Ulumil Qur’an 2/315)

Hal ini karena tidak ditemukannya dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang melegalkan tindakan tersebut. Mengingat ini perkara ibadah, maka tidak adanya dalil, adalah dalil tidak legalnya menghadiahkan pahala bacaan kepada orang lain. Baik untuk orang sakit atau yang lainnya.

Syekh Abdulaziz Ibnu Baz -rahimahullah- menerangkan,

لم يرد في كتابه العزيز ولا في السنة المطهرة عن الرسول عليه الصلاة والسلام ولا عن أصحابه رضي الله عنهم ما يدل على الإهداء بقراءة القرآن لا للوالدين ولا لغيرهما، وإنما شرع الله قراءة القرآن للانتفاع به والاستفادة منه وتدبر معانيه والعمل بذلك

“Tidak ada dalil dari Al-Qur’an yang mulia, maupun sunah yang suci dari Rasul ﷺ, tidak juga riwayat dari para sahabat -semoga Allah meredhoi mereka- yang menunjukkan legalnya menghadiahkan pahala bacaan Qur’an untuk kedua orangtua atau yang lainnya. Allah memerintahkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaat (melalui ruqyah misalnya, -pent), dipelajari, ditadaburi maknanya serta diamalkan..”

(Rekaman fatwa beliau bisa disimak di :
https://binbaz.org.sa/fatwas/7032/حكم-اهداء-ثواب-قراءة-القران-للاخرين)

Terlebih dalam hal ganjaran amal, kaidah yang berlaku sudah dijelaskan oleh ayat,

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Manusia hanya memperoleh ganjaran, dari apa yang telah ia usahakan. (QS. An-Najm : 39)

Oleh karenanya Nabi ﷺ tak pernah pernah memerintahkan umatnya untuk menghadiahkan pahala amal kepada orang lain, baik secara tegas maupun isyarat. Saat putra dan putri beliau meninggal, demikian para sahabat beliau gugur di perang Badar atau Uhud, beliau tidak memerintahkan sahabat yang lainnya untuk mengirimkan Al Fatihah untuk mereka atau menghadiahkan pahala untuk mereka. Demikian pula para sahabat, tidak ditemukan riwayat dari mereka yang menceritakan, seorang sahabat pernah menghadiahkan pahala untuk orang lain.

Saat menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– mengungkapkan pepatah yang sangat indah,

لو كان خيراً لسبقونا إليه

LAU KAANA KHOIRAN LASABAQUUNAA ILAIH

“Andai saja itu baik, tentu mereka para sahabat telah mendahului kita dalam amalan ini.”

Kemudian beliau melanjutkan,

وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع

Masalah ibadah dibatasi oleh dalil Al-Qur’an dan Hadis. Tidak boleh melakukan ibadah berdalil pada qiyas dengan segala macamnya atau pendapat ulama. (Tafsir Ibnu Katsir 13/279)

Yang sesuai tuntunan Nabiﷺ dalam memperlakukan orang yang sakit, bukan dengan menghadiahkan bacaan Al-Fatihah untuknya, tapi meruqyahnya dengan membaca Al Fatihah. Tentang hal ini, pembaca bisa pelajari secara detail di sini :

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Sahkah Cerai Saat Hamil?
  • 15, Feb 2019

Sahkah Cerai Saat Hamil?

By gauri    No comments  

hukum cerai ketika hamil
Ilustrasi @unsplash

Hukum Mencerai Istri Saat Hamil

Tanya: Mencerai istri saat hamil itu sah ngga ya ..?

Dari : Ahmad J, di Jogjakarta.

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, waba’du.

Sebelumnya, cerai (talak) dalam Islam terbagi dua macam :

  1. Talak Sunni, yaitu talak yang dilakukan sesuai prosedur syariat.
  2. Talak Bid’i, yaitu talak yang tidak sesuai prosedur syariat.

Mentalak istri saat hamil tergolong talak sunni atau bid’i?

Mari kita simak penjelasan salah seorang ulama pakar fikih, Syekh Prof. Khalid Al Musyaiqih berikut :

طلاق الزّوجة الحامل ليس طلاقاً بدعياً بل هو طلاق شرعي حتى لو جامعتها، لما ثبت في صحيح مسلم أنّ النّبي صلى الله عليه وسلم قال لعبد الله بن عمر لما طلّق امرأته وهي حائض: “راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً” وهذا باتفاق العلماء، وأمّا ما اشتهر عند العوام من أنّ الحامل لا طلاق عليها فهو غير صحيح.

Mentalak istri saat hamil tidak tergolong talak bid’i. Bahkan itu tergolong talak yang syar’i (talak sunni) sampaipun dilakukan setelah suami menyetubuhinya. Hal ini berdasarkan hadis yang terdapat di Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ berpesan kepada Abdullah bin Umar saat dia menceraikan istrinya ketika haid,

راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً

“Rujuklah kepada istrimu yang sudah kamu cerai itu. Tetaplah bersamanya sampai dia suci dari haid, lalu haid kembali kemudian suci lagi. Setelah itu silahkan kalau kamu mau mencerainya : bisa saat istri suci sebelum kamu gauli, atau saat dia hamil.”

Bahkan para ulama sepakat, boleh mencerai istri saat kondisinya hamil. Adapun anggapan yang tersebar di tengah masyarakat awam, bahwa wanita hamil tidak sah dicerai, adalah anggapan yang keliru.

(Sumber: https://ar.islamway.net/fatwa/54859/حكم-طلاق-الحامل)

Bahkan suatu talak disebut sunni, manakala terjadi pada dua kondisi:

Pertama, dilakukan saat wanita sedang hamil.

Kedua, dilakukan saat wanita berada dalam kondisi suci (tidak sedang haid atau nifas), sebelum disetubuhi.

Dalil yang mendasari ini adalah firman Allah ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ

Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya. (QS. At-Thalaq : 1)

Allah memerintahkan jika memang cerai adalah pilihan tepat karena menimbang maslahat yang kuat, maka silahkan lakukan cerai itu saat wanita sedang berada dalam masa ‘iddah. Hamil adalah salah satu waktu iddah untuk wanita yang dicerai, berakhir saat wanita tersebut melahirkan. Menunjukkan, talak yang terjadi saat wanita hamil, adalah talak sunni.

Penjelasan rinci tentang ‘iddah, bisa pembaca pelajari di sini : https://muslimah.or.id/1809-talak-bagian-8-iddah.html

Syekh Ibnu Baz rahimahullah menerangkan,

قال العلماء: معناه: طاهرات من غير جماع. هذا معنى التطليق للعدة: أن يطلقها وهي طاهر لم يمسها، أو حبلى قد ظهر حملها، هذا محل السنة

Para ulama menerangkan, “Makna ayat (At-Thalaq ayat 1) di atas adalah : lakukanlah cerai saat wanita sedang suci dan belum disetubuhi. Inilah makna mencerai wanita saat berada dalam masa iddah, yakni mencerai istri saat suci belum disetubuhi, atau mencerainya saat sedang hamil dan telah tampak kehamilannya. Inilah yang disebut talak sunni.

(Sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/4178/حكم-طلاق-الحامل)

Adapun talak disebut bid’i, manakala dilakukan pada empat keadaan:

Pertama, saat wanita haid.

Kedua, saat nifas

Ketiga, saat suci namun setelah disetubuhi.

Keempat, cerai tiga sekaligus dengan sekali ucapan.

Kesimpulannya, mencerai saat istri sedang hamil, jika karena pertimbangan maslahat yang kuat, hukumnya boleh dan sah.

Demikian, wallahua’lam bis showab…

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

www.000webhost.com