Browsing Month: March 2019

Hukum Mengucapkan “Iblis Laknatullah”
  • 30, Mar 2019

Hukum Mengucapkan “Iblis Laknatullah”

By gauri    No comments  

Hukum Mengucapkan “Iblis Laknatullah

Mohon pencerahannya ust, Iblis itu kan mmg terlaknat. Lantas boleh ga kita mendoakan dasar iblis Laknatullah…setan Laknatullah…?
Syukron atas jawabannya ust..

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala, Rasulillah wa ba’du.

Iblis dan bala tentaranya berusaha keras mengajak manusia menjadi penghuni neraka bersamanya. Allah berfirman,

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir : 6)

Dari sinilah kemudian muncul dorongan untuk melaknat Iblis. Karena memang mereka makhluk yang pantas mendapat laknat.

Namun, ada hadis shahih yang menerangkan larangan melaknat atau mencela Iblis. Hadis tersebut bersumber dari seorang sahabat yang menceritakan pengalamannya saat membonceng Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

كنت رديف النبي فعثرت دابته فقلت تعس الشيطان فقال لا تقل تعس الشيطان فإنك إذا قلت ذلك تعاظم حتى يكون مثل البيت ويقول بقوتي ولكن قل بسم الله فإنك إذا قلت ذلك تصاغر حتى يكون مثل الذباب

“Aku pernah membonceng Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu unta beliau terpeleset. Maka aku berkata, ”Celaka setan !”

Nabipun menegurku” Jangan katakan: Celaka Setan. Jka kamu katakan demikian, setan akan membesar sampai sebesar rumah. Setan akan berkata, ”Dengan kekuatanku”. Akan tetapi ucapkanlah: Bismillah, karena jika kamu mengucapkan bismillah setan akan mengecil sampai menjadi sekecil lalat.” (HR. Abu Dawud dan lainnya)

Hadis Ini, menunjukkan makruhnya ucapan laknat kepada Iblis/setan. Setidaknya karena dua alasan berikut :

[1] ucapan laknat, atau yang semisalnya, akan membuat setan makin percaya diri. Dia mengira bahwa peristiwa yang menimpa kita karena sebabnya.

[2] Setan adalah makhluk terlaknat tanpa perlu kita laknat.

Allah berfirman,

إِن يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ إِنَٰثٗا وَإِن يَدۡعُونَ إِلَّا شَيۡطَٰنٗا مَّرِيدٗا

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inasan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang terlaknat. (QS. An-Nisa’ : 117)

Sementara suka mengucapkan laknat, bukan sifat orang Mukmin. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan lain-lain)

Sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, saat beliau menjelaskan mengapa Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang mencela setan,

إن العبد إذا لعن الشيطان يقول: إنك لتلعن ملعناً “. ومثل هذا قول القائل: أخزى الله الشيطان ، وقبح الله الشيطان، فإن ذلك كله يفرحه ويقول علم ابن آدم أني قد نلته بقوتي ، وذلك مما يعينه على إغوائه ، ولا يفيده شيئاً، فأرشد النبي صلى الله عليه وسلم من مسه شيء من الشيطان أن يذكر الله تعالى، ويذكر اسمه ، ويستعيذ بالله منه ، فإن ذلك أنفع له، وأغيظ للشيطان

Seorang jika melaknat setan, dia telah melaknat sesuatu yang telah dilaknat (pent, tanpa perlu dia laknat).
Ucapan yang semisal laknat seperti,
“Semoga Allah menghinakan setan!..
Moga Allah memperburukmu setan!” (pent, ucapan yang populer di tengah kita adalah “setan alas”). Ucapan seperti ini, akan menyenangkan setan.

Dia akan berkata, “Manusia tahu kalau kejadian yang menimpanya karena sebab kekuatanku.”

Tentu ini akan menolong setan dalam menggoda manusia. Sehingga ucapan semacam ini sama sekali tidak bermanfaat. Oleh karenanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberi arahan saat setan menggoda manusia untuk berdzikir kepada Allah, mengucapkan namanya (pent, dengan ucapan bismillah seperti yang dijelaskan hadis di atas), atau berlindung kepada Allah dari godaan setan (ber-ta’awwudz). Itu justeru lebih manfaat dan membuat setan jengkel. (Lihat : Zadul Ma’ad, hal. 276)

Ucapan yang Lebih Manfaat

Saat setan menggoda, akan lebih bermanfaat jika kita ucapkan :

[1] bismillah, saat setan menggoda kita.

Seperti diajarkan dalam hadis di atas.

[2] atau mengucapkan ta’awwudz :

A’udzbillah minas syaitoonir rojiim.
(Artinya : Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)

Karena Allah telah memerintahkan,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Fushilat : 36)

Wallahua’lam bis showab.

***

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Kapan Waktu Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum’at?
  • 29, Mar 2019

Kapan Waktu Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum’at?

By gauri    No comments  

membaca surat al-kahfi di hari jumat

Waktu Membaca Surat Al Kahfi di Hari Jum’at

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Dalam Islam, pergantian hari dimulai sejak terbenamnya matahari, membentang sampai terbenam. matahari di hari berikutnya.

Diterangkan dalam Fatawa Islamweb,

وتكون بداية اليوم بهذا الاعتبار من غروب الشمس إلى غروبها،

Hari dimulai dari terbenam matahari sampai terbenam matahari hari berikutnya. (Fatawa Islamweb no. 31343)

Sehingga waktu membaca surat Al Kahfi dimulai sejak maghrib hari Kamis, membentang sampai maghrib hari Jumat.

Tak ada hadis yang menerangkan kapan waktu yang paling afdol dari rentang waktu ini. Bahkan dalam hadis-hadis yang menerangkan keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari Jumat, menyebutkan dua keterangan waktu sekaligus: satu hadis menyebutkan malam, hadis yang lain menyebutkan siang.

Dari Abu Said Al-Khudri berkata,

من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه وبين البيت العتيق

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dia akan diterangi dengan cahaya antara dia dan Baitul Atiq (Ka’bah).” (HR. Ad-Darimi, no. 3407, Hadits inidishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 6471)

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Siapa membaca surat Al-Kahfi pada siang hari Jum’at, maka dia akan diterangi dengan cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. Hakim, 2/399. Baihaqi, 3/29)

Malam menurut syariat, dimulai sejak terbenam matahari, sampai tiba waktu subuh (terbit fajar shodiq).

Adapun siang hari, dimulai sejak subuh (terbit fajar shodiq), sampai terbenam matahari.

Ini menunjukkan, tidak ada waktu khusus terkait anjuran membaca Al Kahfi di hari Jumat, selama kita masih berada di hari Jumat, itulah waktu yang afdol untuk membaca surat Al Kahfi.

Imam Al Manawi memberikan keterangan tentang waktu membaca Al Kahfi di hari Jum’at,

قال الحافظ ابن حجر في ” أماليه ” : كذا وقع في روايات ” يوم الجمعة ” وفي روايات ” ليلة الجمعة ” ، ويجمع بأن المراد اليوم بليلته والليلة بيومها .

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam “Amaaliihi“, “Berkaitan waktu membaca surat Al Kahfi, terdapat riwayat yang menyebutkan “hari Jumat” dan riwayat lain menyebutkan “malam Jumat”. Dua riwayat ini dikompromikan sehingga maksudnya waktu membaca Al Kahfi adalah siang hari dan malam hari Jumat, atau malam hari dan siang hari Jumat. (Faidhul Khotir, 6/245).

Sekian. wallahua’lam bis showab.

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Adakah Doa Ketika Naik-Turun Tangga?
  • 28, Mar 2019

Adakah Doa Ketika Naik-Turun Tangga?

By gauri    No comments  

doa naik turun tangga rumah
Ilustrasi @unsplash/stairs

Dianjurkan Takbir dan Tahmid ketika Naik Turun Tangga?

Apakah dianjurkan membaca takbir dan tahmid ketika naik turun tangga di rumah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengenai anjuran untuk bertakbir ketika melewati jalanan yang naik dan bertasbih ketika melewati jalanan yang turun, disebutkan dalam beberapa hadis. Diantaranya,

[1] Hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Kami para sahabat ketika melewati jalana yang naik, kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih. (HR. Bukhari 2993)

Para sahabat ketika safar, mereka melintasi padang pasir dan daerah yang penuh dengan perbukitan. Sehingga mereka melewati jalanan menaiki bukit atau menuruni lembah.

[2] Keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

Nabi ﷺ dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang naik, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih. (HR. Abu Daud 2601 dan dishahihkan al-Albani)

Selanjutnya apakah sunah ini juga berlaku ketika naik turun tangga?

Mengejar pahala dengan mengamalkan sunah, memang ciri ahlus sunah.

Sebagaimana dinyatakan dalam bait syair,

أهل الحديث هم أهل الرسول فإن … لم يصحبوا نفسه أنفاسه صحبوا

Ahlu hadis adalah keluarga Rasul.. Kalaupun mereka tidak menyertai jasad beliau, namun mereka menyertai nafas-nafas beliau.

Yang dimaksud nafas beliau adalah hadis-hadis Nabi ﷺ.

Karena itulah, dalam setiap bersikap, ahlus sunah selalu mendasarinya dengan dalil, selama memungkinkan. Sehingga amal mereka diiringi dengan semangat, meniru Nabi ﷺ.

Sufyan at-Tsauri mengatakan,

إِنِ اسْتَطَعْتَ ، أَلا تَحُكَّ رَأْسَكَ إِلا بِأَثَرٍ فَافْعَلْ

Jika kamu bisa tidak menggaruk kepalamu kecuali ada dalilnya, maka lakukanlah. (al-Jami’ li Akhlak ar-Rawi wa Adab as-Sami’, 1/197).

Kembali ke masalah naik turun tangga, apakah dianjurkan membaca takbir dan tasbih?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

[1] Dianjurkan untuk membaca takbir dan tasbih ketika naik turun tangga. Karena bacaan ini dianjurkan untuk setiap kegiatan menaiki sesuatu atau menuruni sesuatu. Termasuk tangga atau eskalator.

[2] Tidak dianjurkan untuk membaca takbir dan tasbih ketika naik turun tangga atau eskalator. Bacaan ini hanya dianjurkan ketika melakukan perjalanan yang melewati jalanan naik atau turun.

Karena tangga di zaman Nabi ﷺ sudah ada. Sebagaimana muadzin di Madinah, mereka naik turun tempat yang tinggi untuk mengumandangkan adzan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah pertama kali, juga pernah tidur di lantai dua di rumahnya Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Namun tidak dijumpai riwayat, dimana beliau membaca takbir atau tasbih ketika itu. Beliau tidak mengajarkan hal ini, sebagaimana bacaan yang beliau ajarkan ketika keluar masuk rumah. Sehingga dzikir ini hanya berlaku untuk mereka yang melewati jalanan naik atau jalanan turun, bukan semua kegiatan naik turun.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya mengenai hal ini, apakah takbir dan tasbih ketika naik dan turun itu khusus untuk safar atau berlaku juga ketika naik turun tangga?

Jawaban beliau,

” كان النبي صلى الله عليه وسلم في أسفاره إذا علا صَعداً كبر، وإذا نزل وادياً سبح، وذلك أن العالي على الشيء قد يتعاظم في نفسه، فيرى أنه كبير، فكان من المناسب أن يكبر الله عز وجل فيقول: الله أكبر، وأما إذا نزل فالنزول سفول فناسب أن يسبح الله عز وجل عند السفول، هذه هي المناسبة

Nabi ﷺ ketika beliau safar, jika beliau melewati jalanan yang naik, maka beliau bertakbir. Dan jika menuruni lembah, beliau bertasbih. Karena ketika seseorang berada di posisi yang tinggi, terkadang orang merasa tinggi jiwanya, sehingga dia merasa besar. Karena itu, dzikir yang sesuai adalah mengagungkan Allah dengan membaca Allahu akbar. Sementara ketika turun, maka dia merendah, sehingga dzikir yang lebih sesuai adalah bertasbih.

Kemudian beliau melanjutkan,

ولم ترد السنة بأن يفعل ذلك في الحضر، والعبادات مبنية على التوقيف، فيقتصر فيها على ما ورد، وعلى هذا فإذا صعد الإنسان الدرجة في البيت فإنه لا يكبر، وإذا نزل منها فإنه لا يسبح، وإنما يختص هذا في الأسفار” . انتهى من (لقاءات الباب المفتوح 3/102).

Dan tidak dijumpai dalam dalil yang shahih, beliau melakukan itu ketika safar. Sementara ibadah dibangun di atas prinsip mengikuti dalil. Sehingga harus sesuai riwayat yang ada. karena itu, ketika seseorang naik tangga di rumah, maka dia tidak dianjurkan untuk membaca takbir. Demikian pula ketika turun, tidak dianjurkan untuk bertasbih. Namun ini khusus ketika safar. (Liqa’ al-Bab al-Maftuh, vol. 3/102).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Tidak Ada Doa Sebelum Azan?
  • 27, Mar 2019

Tidak Ada Doa Sebelum Azan?

By gauri    No comments  

menjawab adzan
Ilustrasi أذان الفجر, @Qatar Television تلفزيون قطر

Doa Sebelum Azan

Hampir stp azan Muazin di masjid kampung ku membaca doa2 tertentu, sprt yg pernah kudengar membaca taawudz dan selawat.. apa bener ada doanya sblm azan ust? Mhn pencerahannya.. terimakasih.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Dalam hal ibadah, kaidah yang berlaku adalah,

الأصل في العبادة التوقف

Hukum asal ibadah adalah menunggu datangnya dalil.

Artinya, tidak boleh melakukan kegiatan yang dianggap sebagai ibadah, kecuali setelah ada dalil yang memerintahkan.

Berbeda dengan perkara dunia, yang hukum asalnya adalah boleh (mubah), selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Jika kita sadari, kaidah ini sebenarnya bukti rahmad Allah kepada manusia. Dimana untuk perkara ibadah, yang berisi pembebanan, lingkupnya dipersempit, cukup yang diperintah oleh dalil. Adapun masalah dunia, Allah beri kelonggaran, silahkan dinikmati selama tidak ada dalil yang mengharamkan.

Berdoa sebelum azan dengan doa tertentu, tentu ini perkara ibadah. Perlu dalil sebagai legalitas ibadah ini. Namun ternyata tidak ada satu pun hadis shahih yang memerintahkan doa sebelum azan. Sehingga tidak ada doa tertentu sebelum mengumandangkan azan.

Dalam situs Islamqa (situs Ilmiyyah yang diasuh oleh Syekh Sholih Al Munajid –hafidzohullah– ) diterangkan,

أما عن الدعاء قبل الأذان فليس هناك دعاء قبل الأذان – فيما أعلم – ولو خصص ذلك بقول خاص أو غير خاص في ذلك الوقت فهو بدعة منكرة ولكن إن جاء اتفاقاً وصدفة فلا بأس به .

Sebatas pengetahuan kami, tidak ada doa sebelum azan. Jika sebelum azan seorang Muazin mengkhususkan bacaan tertentu atau mengkhususkan bacaan dzikir lainnya, selain yang biasa dia baca sebelum azan, maka hal tersebut termasuk bid’ah yang tercela. Namun jika bacaan dzikir yang dia ucapkan kebetulan saja bertepatan sebelum azan (tidak diyakini sebagai dzikir khusus sebelum azan), maka tidak mengapa.

(https://islamqa.info/amp/ar/answers/5666)

Syekh Dr. Sa’ad Ats-Tsisri (anggota ulama senior Kerajaan Saudi Arabia) juga menerangkan senada,

نحن نتبع في هذا الأذان هدي النبي صلى الله عليه وسلم، النبي صلى الله عليه وسلم قد علم أصحابه كيف يؤذن وكان هؤلاء المؤذنون يؤذنون بين يديه صلى الله عليه وسلم، سنوات طويلة،

“Dalam berazan, kita mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Beliau ﷺ telah mengajarkan cara azan kepada para sahabat beliau. Bertahun-tahun para sahabat mengumandangkan azan di hadapan Nabi ﷺ.”

Syekh melanjutkan,

ويقرهم على هذا الأذان ولم يكن يزيدون فيه، ومن ثم أي زيادة على هذه الجمل التي بين أيدينا فإنها زيادة غير مقبولة، سواء كان قال : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، أو قال بسم الله الرحمن الرحيم، أو قال صلى الله على محمد، أو قال أشهد أن سيدنا محمد الرسول الله، فهذه زيادات غير مقبولة،

“Dan beliau menyetujui azannya para sahabat. Tak sedikitpun mereka tambahi. Maka tambahan bacaan tertentu dalam lafaz azan yang sudah kita kenal, tidak bisa diterima. Baik ucapan “a’udzbillah minas syaitoonir rojiim“, atau “bismillahirrahmanirrahim“, atau “shallallahu’ala Muhammad“, atau “Asy-hadu anna sayyidana Muhammad Rasulullah“, tambahan-tambahan seperti ini tidak bisa diterima..

ومثله لو قال : حي على خير العمل، هذه لم ترد عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولم تثبت عنه، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، كما قال تعالى ((لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا)), وكما قال النبي صلى الله عليه وسلم ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد) فهذه الزيادات التي تكون في الأذان مردودة غير مقبولة، لأنه من نوع من أنواع الإبتداع، قال تعالى ((أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ…))

Sama juga seperti bacaan, “Hayya ‘ala khoiril amal” (mari melakukan sebaik-baik amal… Sebagai ganti lafaz “Hayya ‘alas Sholah; artinya mari mengerjakan sholat). Lafaz-lafaz seperti ini, tidak bersumber dari Nabi ﷺ. Sementara sebaik-baik petunjuk adalah, petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana Allah firmankan,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Dan Nabi ﷺ juga bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Siapa yang membuat ibadah baru dalam ajaran kami, maka ibadah tersebut tertolak.

Ini menunjukkan, bahwa tambahan-tambahan bacaan dalam azan seperti ini tertolak; tidak diterima di sisi Allah. Karena tindakan seperti ini termasuk membuat amalan baru dalam agama. Allah berfirman,

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ

Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zhalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. (QS. Asy-Syura : 21)”

Fatwa beliau bisa disimak di:

Yang dituntunkan adalah, membaca doa setelah azan. Yaitu doa yang berbunyi:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan salat yang tetap ditegakkan, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan kemuliaan, serta tempatkanlah ia pada kedudukan yang telah Engkau janjikan. (HR. Bukhori)

Selengkapnya tentang doa setelah azan, Anda bisa pelajari di sini : Doa Azan Sesuai Sunnah (http://hamalatulquran.com/doa-azan.html)

Demikian.
Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Gelar Syaikhul Islam
  • 26, Mar 2019

Gelar Syaikhul Islam

By gauri    No comments  

syaikhul islam ibnu taimiyah

Gelar Syaikhul Islam untuk Ibnu Taimiyah

Mengapa Ibnu Taimiyah sering disebut Syaikhul Islam, sementar lainnya tidak disebut seperti itu? lalu apa makna Syaikhul Islam itu sendiri.. mohon pencerahannya..! jazakumullah khoiran..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kata Syaikhul Islam [شيخ الاسلام] terdiri dari 2 kata: Syaikh dan Islam. Syaikh artinya tua. Dan manusia mendapatkan gelar tua, karena usianya atau karena ilmunya. Sehingga dia menjadi rujukan bagi yang lebih muda, baik secara usia maupun lebih muda secara ilmu.

Ketika seorang ulama digelari dengan Syaikhul Islam, berarti dia adalah orang yang menjadi rujukan bagi kaum muslimin, karena ilmu dan hikmahnya.

Ada banyak sekali ulama yang bergelar Syaikhul Islam. Dan gelar itu diberikan oleh ulama lainnya, sebagai bentuk penghargaan bagi karya dan perjuangannya dalam mengkaji dan memaparkan kebenaran islam kepada masyarakat.

Di masa daulah Utsmaniyah, gelar ini diberikan kepada semua mufti resmi negara. Dan diantara ulama besar yang sangat terkenal dengan gelar ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan keterangan mengenai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

وشهرة إِمَامه الشَّيْخ تَقِيّ الدّين ابْن تَيْمِية أشهر من الشَّمْس، وتلقيبه بشيخ الْإِسْلَام بَاقٍ إِلَى الْآن على الْأَلْسِنَة الزكية وَيسْتَمر غَدا لما كَانَ بالْأَمْس، وَلَا يُنكر ذَلِك إِلَّا من جهل مِقْدَاره، وتجنب الْإِنْصَاف

Status beliau sebagai imam, syaikh, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, lebih terang dibandingkan matahari. Dan gelar beliau dengan Syaikhul Islam, masih sering kita dengar dari lisan-lisan suci hingga sekarang, dan akan terus bertahan esoknya. Dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak paham siapa beliau atau orang yang tidak bersikap adil dalam menilai.

Gelar Syaikhul Islam juga diberikan kepada para ulama lainnya. seperti al-Iz bin Abdus Salam – ulama Syafiiyah –, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Disamping itu, terkadang sebagian penulis membuat istilah sendiri untuk gelar Syaikhul Islam. seperti al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, ketika beliau menggunakan gelar Syaikhul Islam maka maksud beliau dalam buku itu adalah Sirajuddin al-Bulqini. Sementara Suyuthi ketika menyebut Syaikhul islam, maka maksudnya adalah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani.

Dan dalam madzhab Syafiiyah, penyebutan gelar syaikhul islam ditujukan kepada Syaikhul Islam, Zakariya al-Anshari.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Tidak Boleh Sembarangan Membunuh Hewan
  • 25, Mar 2019

Tidak Boleh Sembarangan Membunuh Hewan

By gauri    No comments  

larangan membunuh hewan
Ilustrasi @unsplash/cow

Tidak Boleh Sembarangan Membunuh Hewan

Ust, mohon dijelaskan hukum membunuh hewan tnpa tujuan manfaat…
Sukron, trmksh ust atas penjelasannya..

Jawaban :

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Islam adalah agama kasih sayang. Bahkan kasih sayang Islam tak hanya dirasakan oleh manusia sebagai makhluk yang paling bermartabat di muka bumi ini. Namun sampai hewanpun merasakan kasih sayang itu.

Rasulullah ﷺ bersabda,

أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي ملكك الله إياها ؟ فإنه شكا إلي أنك تجيعه وتدئبه

“Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam urusan binatang yang telah Allah kuasakan kepadamu?! Dia mengeluh kepadaku bahwa kamu telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat.” (HR. Abu Daud)

Karena memang tujuan Nabi kita diutus adalah, untuk menyebarkan cinta dan kasih sayang kepada segenap alam semesta. Allah ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Dari sini kita menyadari, bahwa Islam berlepas diri dari segala kekejaman dan aksi terorisme.

Hukum Sembarangan Membunuh Hewan

Membunuh hewan karena tujuan manfaat dibolehkan oleh Islam. Seperti untuk dimakan jika hewan tersebut halal dimakan, atau dimanfaatkan kulitnya dan bagian tubuh lainnya jika hewan tersebut haram dimakan atau hewan yang menggangu. Tentu saja selama manfaat tidak melanggar rambu syariat.

Karena Allah telah berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا…

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu…. (QS. Al-Baqarah : 29)

Allah telah menyediakan segala yang ada di bumi ini untuk manusia, termasuk juga hewan. Namun, ini bukan berarti manusia boleh bertindak semena-mena kepada hewan, atau membunuh hewan secara membabi buta tanpa tujuan manfaat.

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً

Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. Nasai dan Ibnu Hibban)

Dalam hadis dari sahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu’anhuma– ditegaskan, Nabi ﷺ bersabda,

لا تَتَّخِذُوا شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضً

Jangan jadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran lemparan. (HR. Muslim).

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma menambahkan,

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من فعل هذا

Sungguh Rasulullah ﷺ melaknat orang yang melakukan tindakan seperti itu (yakni yang dijelaskan dalam hadis Ibnu Abbas di atas). (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadis-hadis di atas menunjukkan haram membunuh hewan secara sia-sia. Karena ancaman laknat adalah tanda keharaman dan menunjukkan dosa besar. Sebagaimana diterangkan para ulama,

كل ما لعن الله ورسوله فهو كبيرة

Setiap dosa yang diancam laknat Allah dan RasulNya adalah dosa besar. (Lihat : Ad-Da’ wad Dawa’ hal. 293)

Saat menjelaskan hadis di atas, Imam Nawawi rahimahullah menyimpulkan dengan menukil pernyataan para ulama yang menjelaskan hadis tersebut,

وهذا النهي للتحريم…

Larangan ini menunjukkan membunuh hewan secara sia-sia adalah haram… (Lihat : Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim 13/108)

Demikian pula dalam Fatawa Syabakah Islamiyah no. 50578 dinyatakan,

فإن قتل القطط والكلاب غير الأسود البهيم أو العقور منها عمداً لغير غرض شرعي حرام، وفاعله آثم يجب عليه أن يستغفر لله تعالى ويتوب إليه

Membunuh kucing, anjing selain anjing hitam atau anjing gila, secara sengaja tanpa untuk tujuan syar’i, hukumnya adalah haram. Pelakunya berdosa wajib beristighfar kepada Allah dan bertaubat.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Jatah Warisan dari Sang Kakak
  • 21, Mar 2019

Jatah Warisan dari Sang Kakak

By gauri    No comments  

warisan kakak
Ilustrasi @unsplash

Jatah Warisan dari Sang Kakak

Kakak laki-laki saya meninggal dunia dan meninggalkan harta 150.000.000
Keluarga yg ditinggalkan seorang istri, seorang anak perempuan, ibu dan ayah kandung, 2 saudari perempuan dan seorang saudara laki-laki
Afwan umm saya ingin menanyakan kpd ustadz siapa yg berhak menerima harta waris dan brp bagian masing-masing nya
Syukron umm jazakallahu khairon

Dari : Syifa di Tasikmalaya

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Dari pertanyaan yang disampaikan, sang kakak meninggalkan ahli waris sebagai berikut :

– Anak perempuan
– Istri
– Ibu
– Ayah
– Dua saudari
– Satu saudara

Harta yang ditinggal sebesar 150.000.000.

Dua saudari perempuan dan satu saudara laki-laki, tidak mendapat warisan, karena terhalangi (mahjub) oleh Ayah. Sebagaimana dijelaskan dalam matan Rohabiyah,

وتسقط الإخوة بالبنينا ** وبالأب الأدنى كما روينا

Saudara/i terhalangi mendapat warisan, karena keberadaan anak atau keberadaan ayah.

(Matan Rohabiyah: kumpulan syair berisi tentang ilmu waris, karya Syekh Muhammad bin Ali Ar-Rahabi)

Demikian pula dalam I’anatut Tholib,

الأخوة الأشقاء: فيحجبهم الابن وإن سفل والأب.

Saudara/i sekandung tidak mendapatkan warisan karena adanya anak laki-laki dan seterusnya ke bawah, atau karena adanya ayah.

(I’anatut Tholib fi Bidaayati ilmil Faro-id, hal. 66)

Yang berhak mendapatkan warisan adalah :

– Anak perempuan: ½
– Istri: ⅛
– Ibu: ¹/6
– Ayah: sisa (‘ashobah).

Setelah menentukan jatah masing-masing ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kita cari KPK- nya (Aslul mas-alah). Ketemulah angka 24. Lalu kita bagi ke masing-masing jatah: Anak perempuan mendapatkan 12, istri mendapat 3, Ibu mendapat 4 dan ayah sisanya yaitu 5.

Jatah Warisan dari 150 Juta

150 juta : 24 (KPK) = 6.250.000

Jatah anak perempuan 6.250.000 × 12 = 75.000.000

Istri 6.250.000 × 3 = 18.750.000

Ibu 6.250.000 × 4 = 25.000.000

Ayah mendapatkan sisanya (‘ashobah) yaitu 31.250.000

Demikian.

Wallahua’lam bis showab.

***
Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim

By gauri    No comments  

Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim

Jika saya musafir, lalu shalat dzuhur berjamaah di masjid umum, ketika itu saya menyusul di rakaat keempat, sehingga hanya mendapat 1 rakaat bersama imam, apa yang harus saya lakukan? Cukup nambahi 1 rakaat atau harus nambahi 3 rakaat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Musafir disyariatkan untuk mengerjakan shalat secara qashar. Qashar shalat berarti mengerjakan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Karena itu, istilah qashar hanya berlaku untuk shalat 4 rakaat.

Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya,

[1] Firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu).” (QS. an-Nisa: 101)

[2] Keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ …

“Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat, sampai Allah wafatkan beliau.” (HR. Muslim 1611 & Abu Daud 1225).

[3] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فرض الله الصلاة على لسان نبيكم – صلى الله عليه وسلم – في الحضر أربعًا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة

“Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ; untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” (HR. Muslim).

Bagaimana jika musafir bermakmum dengan mukim?

Musafir yang bermakmum dengan mukim, dia tidak boleh qashar, namun dia shalat 4 rakaat seperti orang mukim.

Musa bin Salamah pernah menyatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ

Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu saya sampaikan,

‘Jika kami shalat bersama anda, kami shalat 4 rakaat. Namun jika kami kembali ke tempat singgah kami, maka kami shalat 2 rakaat.’

Mendengar pernyataan Musa bin Salamah, Ibnu Abbas mengatakan,

تلكَ سُنَّةُ أبي القاسمِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ

“Itulah ajaran Abul Qasim ﷺ.” (HR. Ahmad 1862 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika itu menetap di Mekah, sehingga beliau mukim di Mekah. Sementara Musa bin Salamah hanyalah musafir yang singgah di kota Mekah. Ketika Musa bin Salamah shalat menjadi makmum Ibnu Abbas, Musa mengerjakannya 4 rakaat. Namun ketika Musa shalat di kemah tempat singgahnya, beliau qashar. Dan kata Ibnu Abbas, ini sesuai ajaran Nabi ﷺ.

Karena itu, musafir yang menjadi makmum di belakang orang mukim, dia tidak boleh qashar, meskipun dia hanya menjumpai tasyahud akhir.

Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan,

فإتمام المسافر خلف المقيم سنة، فإذا أدرك المسافر أي شيء من الصلاة الواجب عليه الإتمام .

مسافر أدرك مع الإمام ركعتين (في الصلاة الرباعية) ماذا يعمل؟

يأتي بركعتين. ولو أدرك ثلاث ركعات ماذا يعمل؟

عليه أن يأتي بالرابعة فيصلي الصلاة كاملة، وكذلك لو لم يدرك شيئاً (مثل أن يأتي والإمام في التشهد الأخير )، هذا هو الراجح .

Musafir shalat 4 rakaat ketika jadi makmum di belakang mukim adalah sunah Nabi ﷺ. Jika seorang musafir menyusl gerakan imam yang mukim di posisi apapun, wajib shalat 4 rakaat. Musafir menyusul imam dapat 2 rakaat (untuk shalat 4 rakaat) apa yang harus dilakukan?

Jawab: musafir ini harus menambahi kekurangannya 2 rakaat.

Jika musafir menyusul imam dapat 3 rakaat, apa yang harus dilakukan?

Jawab: musafir ini harus nambahi 1 rakaat, sehingga shalatnya 4 rakaat. Demikian pula ketika musafir ini tidak mendapatkan rakaat apapun, misalnya dia dapat imam di tasyahud akhir. Inilah pendapat yang rajih.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

INFO PAHALA – OPEN DONASI DAPUR UMUM SENTANI, PAPUA
  • 19, Mar 2019

INFO PAHALA – OPEN DONASI DAPUR UMUM SENTANI, PAPUA

By gauri    No comments  

donasi papua
Mohon disebarkan!!

OPEN DONASI DAPUR UMUM SENTANI, PAPUA

Markaz Bersama As-Sunnah membuka donasi untuk dapur umum bagi korban bencana Banjir Bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sentani, Papua.

📄 Total Kebutuhan Dana
▪Jumlah porsi : 1500
▪Per porsi @Rp 20.000
Untuk 10 hari kedepan, maka Total Dana yang dibutuhkan sebesar
💰Rp 300.000.000,-

Donasi dapur umum ini bisa disalurkan melalui rekening :

🗳 Rekening Posko Bersama As Sunnah
via Tim HSI AbdullahRoy Peduli

BSM (Bank Syariah Mandiri)
| kode bank : 451
| No. Rek : 710 9913 407
| an. HSI ABDULLAHROY PEDULI
| Cabang : Cakung, Jakarta Timur

⚠ Mohon tambahkan kode unik 100 diakhir nominal untuk membedakan dengan transaksi lain.

📲 Konfirmasi Donasi
wa.me/6285643777225

Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam [HR Bukhari Muslim]

© Didukung oleh : Yufid.com
➖➖➖➖➖

👥 Facebook : fb.com/poskobersamaassunnah
🏜 Instagram : @poskobersamaassunnah
🎈 Twitter : @poskobersamaassunnah
🌎 WEB : www.poskobersamaassunnah.org


Source link

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat

By gauri    No comments  

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat

Ust, sy sering dapati imam sholat habis sholat sll putar balik menghadap makmum, hampir tiap sholat…knp ya ust? Apa mmg ada perintah nya?
Syukron Tadz penjelasannya..

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du.

Kami sangat bangga dengan sikap Anda yang kritis menanyakan dalil tentang amalan ibadah. Semoga Allah memberi keberkahan kepada Anda. Karena memang dalam hal ibadah, kaedah yang berlaku adalah,

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan,

لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ

“Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157).

Menoleh ke arah makmum sesudah sholat, adalah amalan yang disunahkan bagi Imam. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Samuroh bin Jundub –radhiyallahu’anhu-,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

Nabi ﷺ biasa sesudah mengimani sholat beliau menghadap ke arah jama’ah. (HR. Bukhori)

Dalam hadis sahabat Barro’ bin Azib –radhiyallahu’anhu– juga dijelaskan,

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR. Muslim)

Bahkan sebagian ulama menilai makruh jika Imam tetap pada posisinya tidak menghadapkan wajah ke arah makmum, sesudah sholat. Dalam kitab Syarah Mukhtasor Al- Kholil diterangkan,

وكره تنفل الإمام بمحراب المسجد، وكذا جلوسه فيه بعد سلامه على هيئته الأولى

Makruh bagi imam melakukan sholat sunah (rawatib ba’diah) di mihrab, demikian duduk seperti posisinya sebagai imam (pent. tidak menghadap makmum). (Syarah Mukhtasor Al- Kholil Al-Khorqi 4/428)

Mengapa makruh?

Karena alasan berikut :

Pertama, agar makmum yang ketinggalan (masbuk) tidak salahpaham bahwa sholat sudah selesai.

Jika tidak mengubah posisi imam, bisa-bisa makmum yang tertinggal begitu masuk sholat langsung duduk tasyahud. Padahal imam sedang dzikir.

Kedua, status ke-imamannya sudah gugur setelah dia mengucapkan salam. Sehingga tidak berhak lagi berada dalam posisi imam.

Ketiga, menjaga imam dari penyakit riya’.

Karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan. Sehingga mengubah posisi dengan menghadapkan wajah ke arah makmum, dapat mencegah dari perasaan ini.

(Lihat : (Syarah Mukhtasor Al- Kholil 4/428 & Fathul Bari 3/89)

Kapan Waktu Menghadap Makmum?

Sesaat setelah salam. Yakni setelah membaca dzikir setelah sholat istighfar 3x dan Allahumma antas salaam….

Sebagaimana dipaparkan dalam riwayat dari sahabat Tsauban –radhiyallahu’anhu-,

كان صلى الله عليه وسلم إذا سلم استغفر ثلاثاً، وقال: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، ومنكَ السلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ”

Nabi ﷺ biasa jika usai salam, beliau beristighfar 3x, kemudian membaca: Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarokta ya dzal jalaali wal ikroom. (HR. Muslim)

Setelah menukil riwayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ولم يمكث مستقبِلَ القِبلة إلا مقدارَ ما يقولُ ذلك ، بل يُسرع الانتقالَ إلى المأمومين ، وكان ينفتِل عن يمينه وعن يساره

Beliau tidak tetap berada posisi duduk menghadap kiblat (setelah sholat, pent) kecuali selama beliau membaca dzikir di atas. Bahkan beliau selalu segera berpindah ke barisan makmum. Beliau terkadang menghadap makmum dengan memutar ke sisi kanan atau terkadang ke sisi kiri. (Zaadul Ma’ad, hal. 91)

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
    • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

www.000webhost.com