Browsing Category: Featured

Utang Tidak Mengurangi Zakat
  • 21, May 2019

Utang Tidak Mengurangi Zakat

By gauri    No comments  

zakat bagi yang punya utang
Ilustrasi /Money @unsplash

Punya Tabungan Tapi Juga Punya Utang, Bagaimana Zakatnya?

Jika ada orang yang memiliki tabungan 100jt, namun dia punya utang 70jt, apakah dia berkewajiban zakat? Sementara nilai utangnya bisa mengurangi banyak tabungannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berikut rincian yang bisa kami berikan;

Pertama, jika utang itu dibayarkan sebelum yang bersangkutan bayar zakat, sehingga total hartanya menjadi di bawah nishab atau bahkan habis, maka dia tidak berkewajiban bayar zakat. Karena dia tidak lagi tergolong orang yang wajib zakat, disebabkan hartanya kurang dari nishab.

Kedua, jika utang itu belum dibayarkan, dalam arti masih dia tahan karena jatuh tempo masih jauh, apakah nilai utang ini bisa mengurangi harta yang wajib dizakati zakat?
Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Namun sebelumnya untuk bisa memahami istilah harta dzahir dan harta bathin, kami sarankan agar anda membaca artikel kami di web pengusahamuslim.com berikut: Pembagian Harta Zakat, Harta Dzahir dan Harta Bathin

Selanjutnya, kita akan melihat perbedaan pendapat ulama, apakah utang bisa mengurangi harta yang dizakati ataukah tidak?

Pendapat pertama, Utang mengurangi harta yang dizakati secara mutlak, baik untuk harta
bathin, seperti emas, perak, tabungan, atau uang, maupun untuk harta dzahir, seperti binatang ternak atau hasil pertanian. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Sehingga, dari kasus pertanyaan di atas, jika si A memiliki uang 100jt, namun dia memiliki utang 70jt, maka si A tidak wajib zakat, karena total hartanya setelah dikurangi nilai utang, di bawah satu nishab. Meskipun utang itu belum dia bayarkan, ketika si A menyerahkan zakat.

Pendapat kedua, Utang mengurangi harta yang dizakati untuk harta bathin, namun tidak mengurangi untuk harta dzahir. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad juga dalam salah satu riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263-266).

Pendapat ketiga, Utang tidak mengurangi harta yang dizakati, baik untuk harta bathin, maupun harta dzahir. Selama harta itu sudah di atas nishab dan bertahan selama setahun, tetap wajib dizakati, meskipun nilai utangnya menghabiskan semua harta. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, diantaranya: Rabi’ah ar-Ra’yi (guru Imam Malik), Hammad bin Abi Sulaiman, Imam as-Syafi’i dalam qoul jadid (pendapat baru) dan pendapat Ahmad dalam riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263 – 265).

Dalam al-Inshaf, al-Mardawi mengatakan,

“ولا زكاة في مال من عليه دين ينقص النصاب”. هذا المذهب إلا ما استثنى وعليه أكثر الأصحاب وعنه لا يمنع الدين الزكاة مطلقا

Tidak ada zakat untuk harta milik orang yang memiliki utang yang nilainya mengurangi nishab. Inilah pendapat madzhab hambali, kecuali komoditas tertentu. Dan ini pendapat mayoritas hambali. Dan dari Imam Ahmad – dalam salah satu riwayat – utang itu tidak menghalangi zakat secara mutlak. (al-Inshaf, 3/20)

Dan pendapat yang paling mendekati adalah pendapat ketiga, bahwa utang tidak menjadi penghalang zakat, selama utang itu masih ditahan. Ketika Khalifah Utsman hendak menarik zakat di bulan tertentu, beliau mengingatkan,

هَذَا شَهْرُ زَكَاتِكُمْ فَمَن كَانَ عَلَيهِ دَينٌ فَلْيُؤَدِّ دَينَهُ حَتَّى تَحْصُل  أَمْوَالكُم فَتُؤَدُّوا مِنْهَا  الزَّكَاة

Ini adalah bulan zakat kalian. Siapa yang memiliki utang, hendaknya segera dia lunasi utangnya, sehingga ketahuan berapa sisa hartanya. Lalu tunaikan zakat untuk harta sisanya. (HR. Malik dalam al-Muwatha’, 322).

Atsar ini menunjukkan bahwa:

A. Jika utang itu belum dibayarkan, maka dihitung sebagai harta yang wajib dizakati.

B. Jika utang itu dibayar dan masih ada sisa yang melebihi satu nishab, maka harta sisa ini yang dizakati.

C. Jika utang itu dibayar dan tidak ada sisa yang melebihi satu nishab, maka tidak ada kewajiban zakat.

Contoh yang paling banyak terjadi di zaman kita adalah kasus KPR. Ada orang memiliki tanggungan KPR 200jt, dan memiliki uang tunai + tabungan totalnya 100jt.

Apakah orang ini wajib zakat?

Jika melihat total tabungannya (Rp 100jt), dia wajib zakat. Dan jika dipotong tanggungan KPR, minus 100jt. Namun mengingat tanggungan KPR ini tidak segera ditutupi, maka tidak diperhitungkan. Sehingga orang ini tetap berkewajiban zakat sebesar 2,5% x 100jt = 2,5 juta.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Pahala Shalat Jenazah dapat Dua Qirath
  • 20, May 2019

Pahala Shalat Jenazah dapat Dua Qirath

By gauri    No comments  

tidak tahu jenis kelamin mayit waktu shalat jenazah
Ilustrasi @Prosesi shalat jenazah tentara saudi Mohammed Maghawi Farah Haridi

Pahala Shalat Jenazah dapat Dua Qirath

Mohon penjelasan tentang hadist menyelenggarakan menyolatkan jenazah yg pahalanya 2 qiroth, terimakasih…

Sri Ummu Ilyas, di Tegalwaton Semarang.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ اتَّبَعَهَا حَتَّى تُوضَعَ فِي الْقَبْرِ فَقِيرَاطَانِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَمَا الْقِيرَاطُ قَالَ مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa mensholatkan jenazah, maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang mengantarnya hingga jenazah itu di letakkan di liang kubur, maka baginya pahala dua qirath.”

“Ya Abu Hurairah, seperti apakah dua qirat itu?” Tanyaku.

Beliau menjawab, “Seperti gunung Uhud.” (HR. Muslim)

Hadis di atas jelas menunjukkan bahwa pahala :

[1]. Sholat jenazah adalah satu qirath.

[2]. Sholat dan menghadiri proses pemakaman, dua qirath.

Namun, ada dua catatan penting harus kita kaji:

Pertama, syarat pahala satu qirath untuk yang mensholatkan Jenazah.

Sebagian ulama mensyaratkan, pahala satu qirath dari mensholatkan jenazah dapat diperoleh jika seorang mensholatkan dan berdiam layat di rumah duka, sampai jenazah diantar ke pemakaman. Kesimpulan ini berdasarkan hadis riwayat Muslim dari sahabat Khobab –radhiyallahu’anhu-, yang mana dalam hadis ini satu qirath disyaratkan demikian,

من خرج مع جنازة من بيتها

Siapa yang keluar bersama jenazah dari rumah dukanya…

Namun yang tepat dalam hal ini, tidak disyaratkan demikian, pahala satu qirath, cukup didapat dengan mensholatkan saja.

Meskipun akan berbeda satu qirath yang didapat oleh orang yang mensholati jenazah saja, dengan yang sholat jenazah dan menunggu di rumah duka sampai jenazah di antar ke pemakaman.

Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah,

والذي يظهر لي : أن القيراط يحصل أيضا لمن صلى فقط ، لأن كل ما قبل الصلاة وسيلة إليها ، لكن يكون قيراط من صلى فقط دون قيراط من شيّع مثلا وصلى ، ورواية مسلم عن أبي هريرة بلفظ : ( أصغرهما مثل أحد ) يدل على أن القراريط تتفاوت

Yang tampak kuat bagiku adalah, pahala satu qirath cukup didapatkan dengan mensholati saja. Karena segala kegiatan sebelum sholat, itu hanya sarana untuk mensholati jenazah. Namun, satu qirath yang didapat oleh orang yang hanya mensholatkan, berbeda dengan satu qirath orang yang didapat oleh orang sholat dan melayat di rumah duka sampai Jenazah di antar ke pemakaman. Dalam hadis riwayat Muslim diterangkan

أصغرهما مثل أحد

Satu qirath itu seperti gunung yang besar, yang kecil seperti gunung Uhud.

Menunjukkan bahwa pahala qirath, bertingkat – tingkat. (Fathul Bari, 4/101)

Kedua, sekedar mengahdiri proses pemakaman, tanpa mensholati, apakah dapat dua qirath?

Jika kita perhatikan hadis di atas, pahala dua qirath tidak cukup didapat hanya dengan menghadiri proses pemakaman. Namun untuk mendapatkannya, disyaratkan melakukan tiga hal berikut:

[1]. Mensholati Jenazah.

Hanya mengahdiri proses pemakaman atau mengantar saja tanpa mensholati, tidak akan mendapat pahala dua qirath. Meskipun insyaallah tetap mendapat pahala sesuai dengan niatnya.

[2]. Mengantar ke pemakaman.

Disebut mengantar, jika seorang berjalan ke makam bersama jenazah dan pelayat lainnya. Adapun jika seorang hanya sendiri ke pemakaman, maka dia tidak mendapatkan pahala dua qirath.

[3]. Menghadiri pemakaman.

Ada beberapa riwayat menerangkan sampai kapan harus hadir di proses pemakaman agar genap mendapatkan dua qirath;

حتى يفرغ منها

Sampai prosesi pemakaman selesai.

حتى توضع في اللحد

Sampai jenazah dimasukkan ke liang lahat.

Kedua hadis di atas adalah riwayat Imam Muslim.

Kesimpulan dari keterangan dua riwayat di atas: pahala dua qirath, akan didapat oleh seseorang yang mensholati, mengantar dan menghadiri proses pemakaman sampai kadar yang disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas. Hanya saja, akan berbeda dua Qirath yang didapatkan oleh seorang yang hadir di proses pemakaman sampai mayat diletakkan di liang lahat, dengan yang hadir sampai prosesi pemakaman benar- benar selesai, pahala qirath yang dia dapat lebih besar. Demikian seperti yang telah dijelaskan, bahwa pahala qirath itu bertingkat-tingkat. (Lihat : Fathul Bari, 4/102)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

ومقتضى هذا أن القيراطين إنما يحصلان لمن كان معها في جميع الطريق حتى تدفن ، فإن صلى مثلا وذهب إلى القبر وحده فحضر الدفن لم يحصل له إلا قيراط واحد

Hadis tersebut menunjukkan, bahwa pahala dua qirath dapat diperoleh oleh orang yang mengantarkan jenazah sampai proses penguburan. Seandainya seorang sholat jenazah, kemudian pergi ke kuburan sendirian, lalu hadir di acara pemakaman, maka dia hanya mendapatkan pahala satu qirath. (Dikutip dari : Fathul Bari, 4/101)

Sehingga tiga hal di atas harus terkumpul untuk mendapatkan dua qirath. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadis yang menerangkan tentang pahala sholat semalam suntuk,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الفجر فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قام اللَّيْلَ كُلَّهُ

Siapa mengerjakan sholat Isya berjama’ah, seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Siapa yang sholat subuh berjama’ah, seakan-akan dia telah melakukan sholat semalam penuh. (HR. Muslim)

Artinya, pahala sholat semalam penuh akan didapat, saat seorang melakukan sholat isya dan subuh secara berjama’ah. Berjama’ah Isya saja atau subuh saja, tidak mendapatkan pahala sholat semalam penuh.

Demikian…
Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Mengapa Masalah Perbudakan Tetap Dibahas, Padahal Sudah Tidak Ada
  • 17, May 2019

Mengapa Masalah Perbudakan Tetap Dibahas, Padahal Sudah Tidak Ada

By gauri    No comments  

budak dalam islam
Ilustrasi /Slave wallpaper

Mengapa Masalah Perbudakan Tetap Dibahas, Padahal Sudah Tidak Ada

Di beberapa buku ulama kontemporer, mengapa masalah perbudakan tetap dibahas, padahal sudah tidak ada perbudakan di zaman sekarang..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pembahasan tentang hukum seputar pembebasan budak atau interaksi dengan budak, dibahas oleh para ulama, baik di buku-buku fiqh maupun hadis. Termasuk karya tulis para ulama kontemporer.

Dr. Abdul Karim al-Khudhair menyebutkan bahwa ulama berbeda pendapat mengenai penempatan pembahasan mengenai aturan perbudakan dan pembebasan budak. Beliau mengatakan,

وأهل العلم يختلفون في وضع هذا الكتاب، فمنهم من يجعله في آخر باب من أبواب الكتب، سواء كانت من كتب الأحاديث، أو من كتب الفقه، تفاؤلاً بأن يعتق الله رقابهم من النار بعد أن فرغوا من هذا العمل الجليل، وبعد أن
أتموا مدتهم في هذه الحياة

Para ulama berbeda pendapat mengenai penempatan bab tentang perbudakan. Sebagian ulama menjadikannya di bab terakhir di kitabnya, baik dalam kitab hadis maupun kitab fiqh. Sebagai harapan agar Allah membebaskan dirinya dari neraka, setelah mereka menyelesaikan buku itu dan setelah mereka menghabiskan usia hidupnya.

Beliau melanjutkan,

وبعضهم يقدمه فيجعله في آخر المعاملات المالية، قبل كتاب النكاح؛ لأن فيه شوب مال، فالعبد الرقيق مال يباع ويشترى، فعتقه تفويت لهذا المال

Sebagian ulama ada yang meletakkan pembahasan tentang perbudakan di akhir bab muamalah maliyah, sebelum bab nikah. Karena budak itu ada unsur harta. Seorang budak adalah harta yang bisa diperjual belikan. Sehingga membebaskan budak berarti mengurangi sebagian hartanya.
[https://shkhudheir.com/scientific-lesson/935834532]

Lalu mengapa pembahasan ini tetap disinggung, padahal perbudakan sudah
tidak ada?

Ada beberapa alasan untuk menjawab ini:

  • [1] Perbudakan tidak dihapuskan selamanya, hanya saja di zaman sekarang, masyarakat telah menghilangkannnya. Namun ini tidak berlaku selamanya, karena kelak di akhir zaman akan ada lagi perbudakan.
  • [2] Hukum syariat tentang perbudakan selalu berlaku, meskipun kejadiannya tidak ada. Karena hukum tidak ditinggalkan, sekalipun penerapannya tidak ada.
  • [3] Manusia dibolehkan mempelajari suatu hukum, meskipun dia belum mampu mempraktekkannya. Seperti orang yang miskin, dia boleh belajar fiqh zakat, sedekah atau haji, sekalipun dia sendiri belum bisa mengamalkannya.

Karena kebenaran harus selalu dijaga dan dirawat, sekalipun tidak ada orang yang mempraktekkannya. Bentuk merawat dan menjaga kebenaran adalah dengan menuliskannya atau membahasnya.

As-Suyuthi menukil dialog antara Al-Buwaiti dengan Imam as-Syafi’i. Al-Buwaiti – salah satu muridnya Imam as-Syafi’i – pernah bertanya kepada gurunya,

إنك تتعنّى في تأليف الكتب وتصنيفها. والناس لا يلتفتون إلى كتبك، ولا إلى تصنيفك

Mengapa anda sangat perhatian untuk menulis kitab-kitab dan makalah. Sementara masyarakat tidak ada yang mempedulikan kitabmua atau makalahmu?

Jawab Imam as-Syafi’i,

يا بني، إن هذا هو الحق، والحق لا يضيع.

Wahai muridku, sesungguhnya ilmu ini adalah kebenaran, dan kebenaran tidak boleh dibiarkan. (at-Ta’rif bi Adab at-Taklif, hlm. 72).

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Shalat Ditunda, Adzan Juga Ditunda
  • 16, May 2019

Shalat Ditunda, Adzan Juga Ditunda

By gauri    No comments  

menunda adzan dan iqomah
Ilustrasi @speaker /unsplash

Hukum Menunda Adzan dan Shalat Karena Kajian

Di sebagian tempat, jika ada kajian antara maghrib sampai bakda isya, maka begitu masuk waktu isya’, kajian dihentikan dan adzan dikumandangkan.  Kemudian kajian dilanjutkan, seusai kajian, barulah shalat isya dilaksanakan. Apakah ini dibenarkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi ﷺ memberikan panduan dalam masalah, melaui sabdanya yang disampaikan kepada Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu,

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

“Apabila ‘telah datang waktu shalat’, hendaknya salah seorang diantara kalian mengumandangkan adzan…” (Muttafaq ‘alaih).

Apa yang dimaksud ‘datang waktu shalat’?

Sebagian ulama menjelaskan, diantaranya al-Allamah Abdullah al-Fauzan bahwa yang dimaksud datang waktu shalat adalah datang pelaksanaan shalat, dan bukan masuk waktu shalat ditandai dengan pergeseran matahari.

Sebagai ilustrasi, masuk waktu dzuhur jam 11.30; sementara pelaksanaan shalat dimulai jam 12.15.

Apa makna ‘datang waktu shalat’?

Maknanya adalah ketika pelaksanaan, yaitu jam 12.15 dan bukan ketika
masuk waktu, yaitu jam 11.30.

Syaikh Abdullah al-Fauzan menjelaskan,

يستفاد من قوله: “إذا حضرت الصلاة” أن المراد حضور فعلها؛ وذلك بأن يكون الأذان عند إرادة فعل الصلاة، لا عند دخول الوقت…

Disimpulkan dari sabda beliau, “Apabila datang waktu shalat” bahwa yang dimaksud datang di sini adalah pelaksanaan, dalam arti adzan dikumandangkan ketika hendak melaksanakan shalat, bukan ketika masuk waktu shalat… (Minhah al-Allam, 2/294).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Bahwa ketika Nabi ﷺ di Tabuk, cuaca sangat panas. Ketika masuk waktu dzuhur, Muadzin hendak mengumandangkan adzan, namun Nabi ﷺelarangnya.

Abu Dzar bercerita,

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُؤَذِّنَ الظُّهْرَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». ثُمَّ أَرَادَ أَنْ
يُؤَذِّنَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا حَتَّى رَأَيْنَا فَىْءَ التُّلُولِ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ
فَيْحِ جَهَنَّمَ فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ »

Kami bersama Nabi ﷺ. Ketika Muadzin hendak mengumandangkan adzan dzuhur, beliau bersabda, “Tunda, sampai agak teduh.” Setelah berselang beberapa waktu, muadzin hendak mengumandangkan adzan. Lalu beliau bersabda, “Tunda, sampai agak teduh.” Ini berulang dua atau tiga kali. Sampai ketika kami telah melihat bayangan kerikil (mendekati waktu asar), beliau bersabda, “Sesungguhnya cuaca yang panas itu disebabkan hembusan jahanam. Jika ada cuaca yang panas, maka tundalah waktu shalat hingga agak teduh.” (HR. Bukhari 539 dan Muslim 1431)

Dalam riwayat Bukhari 535 ada tambahan,

أَبْرِدْ أَبْرِدْ – أَوْ قَالَ – انْتَظِرِ انْتَظِرْ

“Tunda, sampai agak teduh.” atau beliau bersabda, “Tunggu dulu.”

Al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan,

ظاهر حديث أبي ذر الذي خرجه البخاري يدل على انه يشرع الإبراد بالأذان عند إرادة الإبراد بالصلاة، فلا يؤذن إلا في وقت يصلي فيه، فإذا أخرت الصلاة أخر الأذان معها، وأن عجلت عجل الأذان

Makna yang mendekati dari hadis Abu Dzar yang diriwayatkan Bukhari menunjukkan disyariatkan untuk menunda adzan, jika shalatnya ingin ditunda. Sehingga tidak dikumandangkan adzan, kecuali bersamaan dengan waktu pelaksanaan shalat. Jika shalatnya di akhirkan, maka adzannya juga diakhirkan sebagaimana shalatnya. Dan jika shalatnya disegerakan, maka adzannya juga disegerakan.

Kemudian al-Hafidz Ibnu Hajar membawakan dalil yang lain,

أن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ليلة جمع لما غربت له الشمس بعرفة، ودفع، لم ينقل عنه أنه أذن للصلاة، فلما قدم جمعاً أذن وأقام وصلى

Bahwa ketika Nabi ﷺ di malam Muzdalifah (malam tanggal 10 Dzulhijjah), ketika matahari sudah tenggelam di Arafah, tidak dinukil bahwa beliau menyuruh untuk mengumandangkan adzan shalat. Baru setelah tiba di Muzdalifah, beliau mengumandangkan adzan, lalu iqamah, lalu mengerjakan shalat. (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 4/249)

Kita sering menjumpai suasana semacam ini ketika kajian setelah maghrib, kemudian lanjut Isya’. Pada saat masuk waktu isya’, kajian dihentikan dan Muadzin mengumandangkan adzan, namun shalat ditunda. Padahal yang lebih sesuai sunah, jika shalat isya’ ingin ditunda hingga selesai kajian, maka sebaiknya adzannya juga ditunda.

Meskipun jika adzan dikumandangkan ketika masuk waktu shalat, dengan pertimbangan untuk menjaga agar tidak terjadi keributan di masyarakat, kemudian iqamahnya yang dintunda, insyaaAllah diperbolehkan. Meskipun yang lebih sesuai sunah adalah yang pertama.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan
  • 15, May 2019

Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan

By gauri    No comments  

memandikan jenazah
Ilustrasi, sumber gambar: banjaranyarNET Penyerahan Keranda Jenazah GRWB.

Meninggal di Bulan Ramadhan

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Banyak keistimewaan tersimpan di bulan berkah ini, seperti:

[1]. Nabi sambut bulan ini dengan sangat gembira.Tidak segembira bulan-bulan yang lain.

Jika Ramadhan tiba, Nabi umumkan kepada sahabat beliau dengan penuh riang,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

Wahai sahabat-sahabatku… Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian. Bulan (penuh) barokah. Allah mewajibkan puasa kepada kalian. (HR. Nasa-i dan Ahmad)

[2]. Pintu-pintu Surga dibuka.

[3]. Pintu-pintu Neraka ditutup.

[4]. Setan dibelenggu.

[5]. Ada malam Lailatul Qadar yang lebih mulia dari seribu bulan.

Rasulullah ﷺ mengabarkan,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan ini, Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang mendapatkan kebaikan malam itu, sungguh dia terhalang dari kebaikan yang banyak.” (HR. Nasa’i, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 999)

[5]. Di setiap harinya, ada hamba – hamba yang bebaskan dari siksa neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar, dari Jabir bin ‘Abdillah)

[6]. Al Qur’an diturunkan di Bulan Ramadhan.

Allah berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Apa Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan?

Secara khusus, tak ada dalil dalam Al Qur’an atau Hadis yang menjelaskan keutamaan meninggal di bulan Ramadhan atau di waktu tertentu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وكل حديث ورد في فضل الموت في يوم معين فإنه ليس بصحيح لأن الثواب على الأعمال التي تقع من العبد اختياراً.

Hadis – hadis yang menerangkan keutamaan meninggal di hari tertentu tidak ada yang shahih. Karena pahala seorang bergantung pada amalannya, itulah yang bisa dia usahakan.

(http://binothaimeen.net/content/11412)

Yang ada adalah, hadis menerangkan keutamaan meninggal dunia saat sedang puasa,

من قال لا إله إلا الله ابتغاء وجه الله ختم له بها دخل الجنة، ومن صام يوماً ابتغاء وجه الله ختم له بها دخل الجنة، ومن تصدق بصدقة ابتغاء وجه الله ختم له بها دخل الجنة.

”Siapa yang mengucapkan Laa ilaha illallah, dan ia mengucapkannya ikhlas hanya mencari keridhaan Allah dan ia mengakhiri hidupnya dengan itu, maka ia masuk surga.

Siapa berpuasa sehari dan ikhlas karena Allah, serta menutup akhir hidupnya dengan ibadah itu, maka ia masuk surga.

Siapa bersedekah dengan penuh keikhlasan, dan ia mengakhiri hidupnya dengan ibadah itu, maka ia masuk surga. (HR. Ahmad no 22173, dinilai Shohih oleh Syekh Albani dalam Ahlamul Jana-iz)

Namun, Ramadhan adalah waktu yang mulia, penuh dengan keistimewaan seperti yang tersebut di atas. Sehingga seorang yang meninggal di waktu mulia seperti ini, pertanda baik insyaAllah dan penyebab tambahan rahmad untuknya jika kesehariannya dia sebagai orang yang bertakwa dan beramal sholih. Bisa dikatakan, meninggalnya seorang yang sholih di bulan yang mulia ini, adalah tambahan kabar gembira untuknya dan untuk keluarga yang dia tinggal.

Nabi ﷺ menerangkan tentang Husnul Khotimah.

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يوفّقه لعملٍ صالحٍ قبل موته

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan mempekerjakannya.”

“Apa yang dimaksud Allah mempekerjakannya ya Rasulullah?”
tanya para sahabat.

Rasulullah ﷺ menjawab, “Dia dimudahkan untuk beramal shalih sebelum meninggalnya.” (HR. Ahmad).

Lebih-lebih jika ini terjadi di bulan paling mulia seperti Ramadhan. Karena amal sholih seperti, puasa, sedekah, sholat, kesabaran, tawakal, keikhlasan, keridhoan dengan takdir Allah, akan semakin besar kelipatan pahalanya saat dikerjakan di waktu – waktu yang mulia. Maka orang sholih yang meninggal di bulan suci Ramadhan, insyaallah itu pertanda baik, pertanda Husnul Khotimah insyaallah.

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Kapan Waktu Untuk Qailulah (Tidur di Siang hari)?
  • 13, May 2019

Kapan Waktu Untuk Qailulah (Tidur di Siang hari)?

By gauri    No comments  

qailulah tidur siang
Iustrasi @unsplash /sleep

Disunnahkan Qailulah (Tidur Siang)

Kapan ya waktu Qailulah ? ada yg bilang sebelum duhur ada yg bilang sesudah, yg bnr manakah?

Ummu Humaira, di Bantul.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Nabi ﷺ bersabda,

قِيلوا فإن الشياطين لا تَقيل

Qailulah lah karena sungguh setan itu tidak Qailulah. (Dinilai Hasan oleh Syekh Albani dalam Shohih Al Jami’).

Qailulah juga tersebut dalam Al Qur’an, diantaranya dalam surat Al-Furqon ayat 24 tentang kenikmatan surga,

أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ يَوۡمَئِذٍ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat Qailulahnya. (QS. Al-Furqan : 24)

Imam Al-Azhari menjelaskan makna Qoilulah yang tersebut dalam ayat di ini,

القيلولة عند العرب الاستراحة نصف النهار إذا اشتد الحرّ، وإن لم يكن مع ذلك نوم، والدليل على ذلك أن الجنة لا نوم فيها

Orang-orang Arab memahami Qailulah adalah istirahat pertengahan siang, saat terik matahari memuncak. Meski tidak disertai dengan tidur. Dalilnya adalah penduduk surga juga melakukan Qailulah namun mereka tidak tidur, karena di surga tidak ada tidur.

Imam As-Shon’ani menyimpulkan sama,

المقيل والقيلولة: الاستراحة نصف النهار، وإن لم يكن معها نوم

Maqiil atau Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak disertai tidur.

Penjelasan ini dikuatkan dengan adanya keterangan dari sahabat Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhuma,

لا ينتصِف النهار يوم القيامة حتى يقيل أهل الجنة في الجنة وأهل النار في النار

Di hari Kiamat nanti, siang tidaklah memuncak sampai penduduk surga ber-qailulah (istirahat siang) di surga dan penduduk neraka ber-qailulah di neraka.

Dari keterangan di atas kita simpulkan bahwa :

[1]. Qailulah termasuk ibadah yang disunahkan.

Sebagaimana disimpulkan oleh Imam Syarbini rahimahullah,

يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم.

Disunahkan bagi orang yang ingin melakukan sholat tahajud, untuk ber-qailulah, yaitu tidur sebelum duhur. Qailulah itu manfaatnya seperti sahur bagi orang yang puasa.

Dan ini dinyatakan oleh mayoritas ulama (Jumhur).

[2]. Qailulah adalah istirahat di pertengahan siang, meski tidak harus dengan tidur.

Kapan Waktu Qailulah?

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini :

Pertama, sebelum duhur.

Diantara yang menegang pendapat ini adalah Imam Syarbini rahimahullah, dalam pernyataan beliau di atas.

Kedua, setelah duhur.

Ulama yang memegang pendapat ini diantaranya Al Munawi dan Al’aini –rahimahumallah-.

Al Munawi menyatakan

القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد

Qailulah adalah, tidur di tengah siang, ketika matahari condong ke barat (waktu duhur)atau menjelang sebelum atau sesudahnya.

Al ‘Aini juga menyatakan,

القيلولة معناها النوم في الظهيرة

Qailulah maknanya tidur di rentang waktu sholat duhur (pen, dari condong ke barat / Zawal, sampai ashar).

Pendapat yang tepat –wallahua’lam-, adalah pendapat ke dua ini, yaitu waktu Qailulah adalah setelah masuk waktu duhur / atau setelah melaksanakan sholat dhuhur. Sebagaimana di jelaskan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu,

ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم

Dahulu kami di zaman Nabi ﷺ tidaklah ber- Qailulah atau makan siang kecuali bsetelah jumatan. (Riwayat Bukhori dan Muslim. Teks ini ada pada riwayat Imam Muslim)

Wallahua’lam bis showab.

Rujukan:

  • – https://fatwa.islamweb.net/ar/fatwa/31661/
  • – https://ar.islamway.net/article/32235/-%D9%82%D9%8A%D9%84%D9%88%D8%A7-%D9%81%D8%A5%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%A7%D8%B7%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D9%84

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
    • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi?
  • 10, May 2019

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi?

By gauri    No comments  

rambut nabi

Ngalap Berkah dengan Rambut Nabi?

Assalamuallaikum wrwb ustadz,baru2 ini ada berita opick membawa sehelai rambut Rasululloh,apakh itu benar ? Dan apakah boleh kita sampai mengagung2kn rambut tsb sprti perlakuan opick dkk thd benda tsb

Ibu Farida, di Yogyakarta.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Ngalap berkah (tabarruk) dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shallallahu’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Allah ‘azza wa jalla.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah menceritakan,

دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّيبِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ:يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَنَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ

“Suatu saat, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya.

Nabi shallallahu’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan ?”

“Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.”

Dalam riwayat, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim,

نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا

“Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.”

Rasul pun berkata,

أَصَبْتِ

“Anda benar…”

(HR. Bukhori)

Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah radhiallahu ‘anhu mengisahkan,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍفَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضَوئِهِفَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَرَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka. Kemudian beliau shalat zhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat. Beliau shalat menghadap sebuah tombak kecil.” (HR. Bukhori)

Bahkan para ulama sepakat boleh. Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan,

اتفق العلماء على مشروعية التبرك بآثار النبي صلى الله عليه وسلم وأورد علماء السيرة والشمائل والحديث أخبارا كثيرة تمثل تبرك الصحابة الكرام رضي الله عنهم بأنواع متعددة من آثاره صلى الله عليه وسلم

Para ulama telah sepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ulama-ulama Siroh (sejarah Nabi) telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dengan berbagai macamnya. (Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/62)

Hanya Untuk Nabi

Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik yang mulis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Allah lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi.

Syekh Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan,

كان الصحابة يتبركون بعرق النبي صلى الله عليه وسلم ويتبركون بريقه ويتبركون بثيابه ويتبركون بشعره ، أما غيره صلى الله عليه وسلم فإنه لا يتبرك بشيء من هذا منه ، فلا يتبرك بثياب الإنسان ولا بشعره ولا بأظفاره ولا بشيء من متعلقاته إلا النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم

Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau. Adapun untuk selain Nabi shallallahu’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam saja. (Syarah Riyadussholihin, 1/852)

Terbukti dalam praktek para sahabat –radhiyallahu’anhum-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma.

Masih Adakah Rambut Rasulullah saat Ini?

Abdullah bin Mubarok –rahimahullah– pernah mengatakan,

الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya.

Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar.

Mengenai rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keountentiakan rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini?

Mari kita simak keterangan dari pada pakar sejarah. Diantaranya berikut :

[1] Keterangan Syekh Ahmad Basa Taimur.

Beliau menyatakan dalam buku beliau “Al-Atsar An Nabawiyah”,

فما صح من الشعرات التي تداولها الناس بعد ذلك ، فإنما وصل إليهم مما قسم بين الأصحاب رضي الله عنهم ، غير أن الصعوبة في معرفة صحيحها من زائفها

Tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau. Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Allah meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak. (Al-Atsar An Nabawiyah, hal. 82 – 84)

[2] Keterangan pakar hadis abad ini : Syekh Nashirudin Al-Albani.

Beliau menjelaskan,

” هذا ولابد من الإشارة إلى أننا نؤمن بجواز التبرك بآثاره صلى الله عليه وسلم ، ولا ننكره خلافاً لما يوهمه صنيع خصومنا . ولكن لهذا التبرك شروطاً منها الإيمان الشرعي المقبول عند الله ، فمن لم يكن مسلماً صادق الإسلام فلن يحقق الله له أي خير بتبركه هذا ، كما يشترط للراغب في التبرك أن يكون حاصلاً على أثر من آثاره صلى الله عليه وسلم ويستعمله .

Kita mengimani bahwa boleh bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Kita tidak mengingkari hal ini, sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Namun, tabaruk (agar berkhat) memiliki syarat-syarat, diantaranya adalah iman yang diterima di sisi Allah. Siapa yang tidak muslim jujur Islamnya, dia tidak berhak mendapatkan keberkahan ini. Disyaratkan pula untuk mereka yang ingin bertabaruk dengan bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk benar-benar mendapatkan benda tersebut, kemudian menggunakannya untuk wasilah mendapat berkah.

Beliau melanjutkan,

ونحن نعلم أن آثاره صلى الله عليه وسلم من ثياب أو شعر أو فضلات قد فقدت ، وليس بإمكان أحد إثبات وجود شيء منها على وجه القطع واليقين ، وإذا كان الأمر كذلك فإن التبرك بهذه الآثار يصبح أمراً غير ذي موضوع في زماننا هذا ويكون أمراً نظرياً محضاً، فلا ينبغي إطالة القول فيه

Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shallallahu’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun diantara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid. Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Olehkarenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini. (Masu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/731)

Sarana Ngalap Berkah yang Pasti

Jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan. Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shallallahu’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat.

Silahkan ngalap berkah dari meneladani sunah-sunah beliau shallallahu’alaihi wasallam.

Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rahimahullah,

كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَمَّا قَدِمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَرَكَتِهِ لَمَّا آمَنُوا بِهِ وَأَطَاعُوهُ، فَبِبَرَكَةِ ذَلِكَ حَصَلَ لَهُمْ سَعَادَةُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، بَلْ كُلُّ مُؤْمِنٍ آمَنَ بِالرَّسُولِ وَأَطَاعَهُ حَصَلَ لَهُ مِنْ بَرَكَةِ الرَّسُولِ بِسَبَبِ إيمَانِهِ وَطَاعَتِهِ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ

Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan setiap mukmin yang beriman Rasul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Allah. (Majmu’Fatawa, 11/ 113)

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita
  • 8, May 2019

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita

By gauri    No comments  

panduan shalat tarawih perempuan
The Blue Mosque, Turkey @unsplash

Panduan Sholat Tarawih Di Rumah Untuk Wanita

Bismillahi assalamualaikum adakah yg punya panduan tata cara solat taraweh dirumah untuk perempuan??

Karlita, di Jawa Tengah.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, amma ba’du.

Pada dasarnya, semua sholat kaum wanita lebih afdhol dikerjakan di rumah. Sholat wajib apalagi yang sunah. Dalilnya adalah hadis dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Sholatnya wanita di kamarnya, lebih afdhal daripada sholatnya di ruang keluarga rumahnya. Sholatnya wanita di kamar khususnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari sholatnya di kamarnya.” (HR. Abu Dawud)

Lebih afdhal di sini, mohon tidak disalahpahami tidak boleh. Lebih afdhal, artinya lebih besar pahalanya. Tentu kita tidak berani mengatakan demikian jika tidak dalil yang menunjukkan seperti ini. Jika kita tanyakan kepada perasaan kita, tentu masjid lebih utama untuk semua orang, laki-laki maupun perempuan. Namun, Islam adalah agama yang ilmiyah, semuanya didasari dalil, yang menyimpan hikmah dan manfaat besar untuk semua makhluk.

Muslim, seperti maknanya berserah diri, yakni menyerahkan sepenuhnya kepada Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Slogannya saat bertemu dengan Al Qur’an dan Hadis maka hendaknya mengatakan “Aku mendengar dan aku taat..!”

Suatu hari seorang sahabat wanita bernama Ummu Humaid –radhiyallahu’anha– pernah datang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, mengutarakan curhatan, “Ya Rasulullah, saya ingin sekali shalat berjamaah bersama Anda.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab,

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى

“Aku tahu keinginan itu, bahwa anda sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun, shalatmu di dalam kamarmu lebih utama dari shalatmu di ruang tengah rumahmu. Dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kampung mu. Shalat di masjid kampung mu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).”

Setelah mendengar petuah mulia ini, Ummu Humaid meminta dibangunkan mushola di pojok kamar miliknya. Di situ beliau shalat smapai berjumpa dengan Allah (wafat). (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini shahih)

Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, “Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19)

Baca: Benarkah Wanita Tidak Mendapat Pahala Jamaah Ketika ke Masjid?

Namun bukan berarti tidak boleh sholat jama’ah di masjid. Apalagi jika manfaatnya besar seperti untuk mendengarkan tausiah, lebih semangat dan lebih mampu khusyu’. Kemudian dirinya dapat menjaga rambu-rambu syari’at :

[1]. Berhijab sempurna, tidak berdandan yang mengundang perhatian laki-laki.

[2]. Tidak memakai minyak wangi saat keluar rumah.

[3] Mendapat izin suami.

(https://islamqa.info/ar/answers/3457/حكم-صلاة-التراويح-للنساء)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442)

Teknis Shalat Tarawih Wanita Di Rumah

Setidaknya ada tiga cara shalat wanita di rumah :

[1]. Sholat sendiri. Karena memang wanita tidak wajib sholat jama’ah di masjid.

[2]. Shalat jama’ah bersama sesama wanita. Bersama ibu, bibi, anak perempuan atau madunya. Caranya wanita yang menjadi imam, berdiri ditengah barisan shof, tidak seperti format jama’ah kaum laki-laki yang Imam berada di depan.

Sebagaimana keterangan dari Imam Al Baghowi dalam kitab At Tahzib fi Fiqhil Imam as-Syafi’i,

السنّة أن تقف إمامة النساء وسطهنّ لما روي البيهقي بإسنادين صحيحين أنّ عائشة وأمّ سلمة أمّتا نساء فقامتا وسطهنّ

Sunahnya imam wanita berada di tengah-tengah barisan shof, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam melalui sanad yang shahih bahwa Aisyah dan Ummu Salamah pernah mengimami sholat jama’ah wanita, mereka berdiri di tengah-tengah barisan shof. (At Tahzib, 2/276)

[3]. Shalat jama’ah bersama suami atau kerabat laki-laki. Untuk sholat fardhu, laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Adapun sholat sunah, boleh dikerjakan di rumah. Berdasarkan keumuman hadis,

صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ

“Kaum muslimin sekalian, sholatlah di rumah-rumah kalian. Karena sholat seseorang yang paling afdhal itu yang dikerjakan di dalam rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR.Nasa-i)

Namun khusus sholat tarawih, untuk laki-laki tetap lebih utama dikerjakan di masjid. Karena demikianlah praktek Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dahulu beliau pernah sholat tarawih tiga malam berturut-turut. Lalu berhenti karena khawatir tarawih menjadi wajib. Dan praktek Kholifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau memerintahkan rakyatnya; para sahabat dan tabi’in, melakukan tarawih berjama’ah di masjid Nabawi sepanjang Ramadhan.

Dalam Fatawa Islamqa, asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid –hafidzohullah– diterangkan,

فصلاتها جماعةً المسجد أفضل ، لكن لو صلاها الرجل في بيته منفرداً ، أو جماعةً بأهله فهو جائز .

Sholat tarawih seorang laki-laki berjama’ah di masjid, itu lebih afdhal.
Namun jika dia ingin sholat sendiri ndi rumah atau berjama’ah bersama keluarganya, itu boleh.

(https://www.google.com/amp/s/islamqa.info/amp/ar/answers/38922)

Dengan melakukan trik yang ke 2 dan ke 3 di atas yakni tarawih jama’ah di rumah, seorang wanita insyaallah akan mendapatkan pahala ini.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Baca: Ingin Tahajud Setelah Tarawih?

Demikian, wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Ingin Tahajud Setelah Tarawih?
  • 7, May 2019

Ingin Tahajud Setelah Tarawih?

By gauri    No comments  

shalat tarawih dan tahajud
Tarawih prayer at Great Mosque of Kairouan, Tunisia. @wikipedia

Ingin Tahajud Setelah Tarawih?

Assalamu’alaykum, mau tanya ustadz, bolehkah kita shalat tahajjud dan witir setelah shalat tarawih?

Dari: Berry, di Prabumulih Sumsel.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Tentu saja boleh, meski telah melakukan sholat witir. Nabi ﷺ pernah menambah sholat malam dua raka’at setelah beliau berwitir. Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu’anha– menceritakan,

كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.

“Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim)

Namun jika sudah melakukan sholat witir saat tarawih, tidak boleh witir kembali ketika Tahajud. Karena Nabi ﷺ melarang ada dua witir dalam satu malam.

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i)

Beda antara Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail?

Ada perbedaan antara sholat Tarawih, Tahajud dan Qiyamullail (sholat malam). Dari tiga istilah ini, Qiyamullail adalah yang paling umum, sholat Tarawih dan Tahajud, adalah jenis dari Qiyamullail/sholat malam.

Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan setelah isya, bersama Imam di malam hari Ramadhan.

Adapun Tahajud adalah sholat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu.

Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

أما التراويح : فهي تطلق عند العلماء على قيام الليل في رمضان أول الليل ، مع مراعاة التخفيف وعدم الإطالة

Para ulama menyebut Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan, yang dikerjakan di awal malam, dengan memperhatikan kondisi jama’ah, meringankan dan tidak memperlama sholat. (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Baz, 11/318)

Berkenan pengertian Tahajud, Imam Al-Alusi rahimahullah memberikan keterangan dalam kitab Ruhul Ma’ani,

والتهجد على ما نقل عن الليث الاستيقاظ من النوم الصلاة

Yang dimaksud Tahajud sebagaimana dinukil dari Imam Al – Laits adalah, bangun dari tidur untuk melakukan sholat. (Ruhul Ma’ani 15/138)

Dalam Ensiklopedia Fikih terbitan Kementerian Wakaf Kuwait diterangkan,

والتهجد عند جمهور الفقهاء صلاة التطوع في الليل بعد النوم

Menurut mayoritas ulama (Jumhur), Tahajud adalah sholat sunah di malam hari yang dilakukan setelah tidur terlebih dahulu. (Al – Mausu’ah Al – Fiqhiyyah Al – Kuwaitiyyah 27/136)

Jika berniat ingin melakukan Tahajud setelah Tarawih, maka sholat dikerjakan sesudah tidur. Inilah Tahajud yang disebut dalam ayat yang mulia,

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا

Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Isra’ : 79)

Dan ini yang lebih afdol. Meskipun jika ingin melakukan sholat malam sesudah tarawih, juga boleh. Namun itu tidak disebut sebagai Tahajud. Hanya sholat malam seperti umumnya.

Bagaimana Caranya?

Nabi ﷺ memerintahkan untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat kita di malam hari. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar kita tetap bisa mengamalkan hadis ini, ada tiga cara sholat malam setelah Tarawih :

Pertama, sholat Tarawih bersama Imam, kemudian saat memasuki witir kita memisahkan diri. Kemudian witir dilakukan saat Tahajud.

Ini boleh dikerjakan, namun kehilangan pahala yang sangat besar.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ia dicatat pahala mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Oleh karena itu kami tidak menyarankan opsi yang pertama ini.

Kedua, menggenapkan witir bersama Imam saat Tarawih. Kemudian mengundurkan pelaksanaan sholat witir saat sholat Tahajud.

Di saat Imam salam di raka’at ke tiga witir, kita tidak ikut salam, tapi bangkit kembali menggenapkan satu raka’at. Sehingga tidak teranggap sholat witir. Karena witir artinya raka’at yang ganjil.

Baca: Jumlah Maksimal Raka’at Witir?

Lalu sholat witir kita undur, saat melaksanakan sholat Tahajud.

Ketiga, sholat Tarawih dan Witir bersama Imam. Kemudian saat sholat Tahajud, tidak melaksanakan witir kembali.

Ini boleh berdasarkan hadis dari Ibunda Aisyah di atas.

Tidak boleh witir kembali karena Nabi melarang adanya dua witir dalam satu malam.

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan, An Nasa-i)

Sekian.

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

Jumlah Maksimal Raka’at Witir?
  • 6, May 2019

Jumlah Maksimal Raka’at Witir?

By gauri    No comments  

jumlah shalat witir
Ilustrasi shalat tarawih luar negeri

Jumlah Maksimal Raka’at Witir?

Ustad mau tanya solat witir umumnya berapa rakaat nggeh. Biasanya kalau disini 8 solat tarawih 3 shalat witir. Apa witir dikerjakan bisa 1 rakaat ustad.

Ibu Ainun, di Surabaya.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Sholat witir, adalah ibadah sunah yang sangat ditekankan (sunah mu-akkadah) dan berpahala besar. Sampai sebagian ulama; seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah, berpandangan bahwa sholat witir hukumnya wajib. Namun yang tepat, hukum sholat witir adalah sunah mu-akkadah.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah sampai pernah mengatakan,

من ترك الوتر فهو رجل سوء لا ينبغي أن تقبل له شهادة

“Siapa yang selalu meninggalkan sholat witir, dia seorang yang buruk, persaksiannya tidak diterima.”

Ini menunjukkan, sholat witir adalah sholat yang amat penting. Saking pentingnya sholat ini, Allah sampai menjadikan witir sebagai sumpah.

وَٱلۡفَجۡرِ

Demi waktu fajar.

وَلَيَالٍ عَشۡرٖ

Demi malam yang sepuluh.

وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ

Demi yang genap dan yang ganjil.

(QS. Al-Fajr 1 – 3)

Imam Qotadah rahimahullah menerangkan,

هما الصلاوات، منها شفع ومنها وتر

Genap dan ganjil, maksudnya adalah sholat. Karena sholat ada yang raka’atnya genap (pent. seperti subuh, duhur, asar dll), ada yang ganjil (pent. seperti maghrib dan sholat witir).

Jumlah Raka’at Witir

Witir (الوتر), bermakna ganjil. Sholat witir adalah sholat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah raka’at ganjil. Waktu sholat witir, dimulai setelah sholat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun sholat Isya dijamak dengan sholat Maghrib (jama’ taqdim), sholat witir boleh dikerjakan sejak saat itu.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam,

أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام

“Kekasihku shallallahu’alaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur.”

Jumlah raka’at minimal sholat ini adalah satu raka’at. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Sholat malam dikerjakan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu raka’at, sebagai penutup sholat-sholat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun jumlah maksimum raka’at witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan raka’at berapapun asalkan ditutup dengan raka’at yang ganjil.

Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan,

أقل الوتر ركعة ولا حد لأكثره، فإذا أوترت بركعة واحدة أو ثلاث أو خمس أو سبع أو تسع أو إحدى عشرة أو ثلاث عشرة أو أكثر من ذلك فالأمر فيه سعة.

Jumlah minimal raka’at sholat witir adalah satu raka’at. Tidak ada batasan jumlah maksimum raka’at witir. Jika berwitir dengan satu raka’at, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173)

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
    • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Source link

www.000webhost.com